Seplawan Cave Snapshots

>> November 29, 2009

Replica of The Golden Statue
Patung replika sesuai dengan bentuk arca emas Dewa Siwa dan Dewi Parwati yang ditemukan di dalam Goa Seplawan, memiliki ukuran yang lebih besar dari aslinya.

Entrance Area
Panorama menghijau di area sekitar tangga masuk Goa Seplawan.

Stairs Into The Cave
Tangga masuk Goa Seplawan melewati batu berongga.

Stairs Into The Cave
Tangga masuk Goa Seplawan menurun agak curam.

Small Pond
Kolam kecil di dalam Goa Seplawan yang harus dilewati jika ingin meneruskan perjalanan, berlanjut dengan menaiki batu besar setinggi dada, kemudian berjalan jongkok di tanah berlumpur karena ketinggian langit-langit goa yang menyempit.

Stalactite
Salah satu stalagtit yang menempel pada dinding Goa Seplawan.

Path to Nowhere
Ceruk yang terdapat pada salah satu dinding Goa Seplawan, berupa kolam kecil dan jalan sempit seperti anak tangga dari batu alami yang entah menuju kemana.

Cascade
Terdapat jeram kecil yang harus dilewati dengan keindahan bentuknya ketika menyusuri sungai bawah tanah.

A Place Where The Golden Statue Found
Tempat ditemukannya 22 karat arca emas peninggalan zaman Hindu Siwa pada tanggal 15 Agustus 1979 setinggi 9 cm dan berat 1,5 kg, berupa patung sepasang pria dan wanita yang sedang bergandengan tangan, diyakini oleh para ahli arkeolog sebagai Dewa Siwa dan Dewi Parwati, yang kini disimpan di Museum Nasional.

Stalactite Column
Tiang batu pada dinding Goa Seplawan yang terbentuk dari penggabungan stalagtit dan stalagmit secara alami dalam kurun waktu ratusan atau bahkan ribuan tahun (pertumbuhan stalagtit rata-rata 0,13 - 3 mm per tahun).

Stalactite
Rangkaian stalagtit yang masih belum begitu panjang tampak berjejer dan menempel pada dinding Goa Seplawan.

Abyss, The Dead-end
Ujung perjalanan berupa jurang yang dikatakan belum diketahui kedalamannya, karena eksplorasi belum bisa dilakukan oleh sebab tipisnya oksigen. Ada juga cerita, dulu pernah mencoba dieksplorasi tapi petugas yang turun ke bawah tidak kembali lagi.

Tree on The Rock, Alone..
Pohon yang tumbuh di atas batu pada area masuk Goa Seplawan, di belakang patung replika. Satu-satunya yang ada disitu, sendiri..


photo by me

Read more...

Akhirnya Danbo Datang Juga..!!!

>> November 27, 2009

Danboard (Miura Hayasaka in cardboard box suit) & Danboard with Amazon logoDanbo?? Apa itu Danbo?
Danbo adalah kepanjangan dari Danboard yang merupakan salah satu 'action figure' dari seri Revoltech dan diproduksi oleh perusahaan Kaiyodo di Jepang. Action figure merupakan mainan berpose dan memiliki karakter yang sering diambil dari tokoh-tokoh pada film, komik, manga, anime, video game atau acara televisi. Kebanyakan terbuat dari plastik, walaupun ada juga yang menggunakan bahan material lain. Kata 'Revoltech' itu sendiri merupakan gabungan dari 'Revolver Technology', karena pada seri ini menggunakan 'Revolver Joint' untuk sistem persendian pada tiap action fugure-nya. Penggunaan 'revolver joint' dapat memberikan kestabilan dan dimensi gerakan yang lebih luas, sehingga sangat memungkinkan action figure tersebut berpose secara dinamis dan bervariasi. Seri Revoltech pertama kali dirilis oleh Kaiyodo pada bulan Mei 2006, dan berlanjut mengeluarkan dua buah action figure seri Revoltech baru pada tiap bulannya. Untuk Danbo, Kaiyodo mengeluarkan tiga jenis, yaitu 2nd Generation Edition bernama Danboard (Miura Hayasaka in cardboard box suit) di tahun 2007, Limited Edition bernama Danboard with Amazon logo di tahun 2007 dan Danboard with 7-11 logo di tahun 2008.

Inside Danboard (Miura Hayasaka in cardboard box suit)Tapi, siapakah Danbo?
Danbo merupakan salah satu karakter yang terdapat pada manga Yotsubato!. Manga yang bergenre komedi ini menceritakan tokoh utama bernama Yotsuba, yaitu seorang gadis kecil unik dengan kepribadian yang luar biasa. Yotsuba hidup bersama ayah angkat yang sering sibuk bekerja di rumah dengan komputernya. Petualangan Yotsuba yang penuh kejenakaan dan keberuntungan serta seringkali membuat bingung teman-teman dan ayahnya ini diceritakan oleh mangaka Azuma Kiyohiko dengan sangat menarik. Bahkan dalam kesehariannya yang sepele atau pada saat menemukan suatu hal baru yang mungkin biasa bagi orang lain, akan menjadi sangat menakjubkan berkat rasa keingintahuan dan antusiasme Yotsuba. Karakter Danbo muncul pertama kali di manga Yotsubato! pada volume 5 chapter 28 dengan judul Yotsuba & Danbo. Di chapter itu diceritakan bahwa nama Danbo berasal dari Danbooru, nama perusahaan dan produk pengepakan di Jepang. Menurutku untuk manga Yotsubato! ini memiliki kisah yang sangat lucu, jika teman-teman tertarik bisa membaca di sini atau donlod di sini (teksnya memakai bahasa inggris dan dibaca dari sisi kanan ke kiri).

Inside Danboard with Amazon logoAku sendiri pertama kali secara tidak sengaja melihat Danbo berupa action figure yang menjadi obyek pemotretan di flickr. Pada saat itu aku sudah mulai tertarik padanya tapi belum mengetahui nama karakter tersebut, cuma menganggapnya sebagai salah satu action figure saja. Perjumpaan berikutnya seingatku adalah pada foto salah satu posting Tha yang berjudul Tentang Dia [....saat kemarau datang], dimana pengambilan gambarnya diatur sedemikian rupa sehingga Danbo di foto itu bagai bernyawa buatku. Kemudian di perjumpaanku terbaru dengan Danbo pada posting Aroma Tanah Basah, semakin memperbesar keinginanku untuk memilikinya. Setelah mencari bareng 'mbah gugel' bersama dengan faktor keberuntungan yang hinggap, akhirnya aku berhasil menemukannya. Dan pada hari ini datanglah dia ke pelukanku. Hahaha.. *lebaay*. Sebenarnya keinginan terbesarku adalah memberi nyawa di tiap foto Danbo yang tercipta nantinya. Well, itung-itung buat latihan foto obyek. Jadi, sebelum 'potraiting human' boleh dong latihan 'potraiting toy' dulu ya bro.. Hehehe..

Read more...

DSLR Untuk Pemula, Nikon Atau Canon?

>> November 25, 2009

Nikon D3000Dilatarbelakangi oleh permintaan semena-mena dari ibu-guru-semut-merah-yang-masih-kecil *hihihi*, sebagai pemula di bidang hobi pemotretan atau fotografi dan merujuk pada berbagai pembahasan para senior fotografer di beberapa forum maupun artikel, saya mencoba untuk sedikit menulis tentang pemilihan merk kamera DSLR disaat seseorang memutuskan untuk menekuni hobi ini, terutama merk ‘Nikon dan Canon’. Perlu saya tekankan disini bahwa penulisan artikel ini tidak ada maksud sama sekali untuk memanas-manasi baik para rekan Nikonian maupun Canonian dan memicu adanya ‘brandwar’. Seperti yang telah diketahui bahwa topik tentang ‘Nikon atau Canon’ ini sendiri sebenarnya merupakan pembahasan sensitif yang tak pernah selesai sejak dulu, dan tentu saja tidak akan pernah selesai hingga nanti. Sama halnya ketika ditanya ‘BMW atau Mercedes-Benz’, padahal dari keduanya mengeluarkan berbagai tipe dan jenis mulai dari segi harga, kehandalan, eksklusifitas, bahkan estetika, dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Begitupun juga sama halnya saat ditanya ‘kenapa lebih suka sate daripada soto’?

Nikon D60Kamera Digital Single-Lens Reflex (Digital SLR atau DSLR) seperti halnya Kamera SLR merupakan kamera digital yang menggunakan sistem cermin mekanis dan 'pentaprism' (lima sisi cermin prisma yg memantulkan cahaya sebanyak dua kali guna menyimpangkan sebesar 90° tanpa mengubah citra kiri kanannya) untuk menghantarkan cahaya yang diterima oleh lensa ke jendela bidik optik di bagian belakang. Ketika ada seseorang yang berminat pada hobi ini dan bertanya ‘Nikon atau Canon’, sebenarnya susah sekali untuk dijawab, karena pertanyaan tersebut muncul dari sudut pandang makro. Padahal Kamera DSLR baik Nikon maupun Canon di tiap jenis atau tipenya pasti mempunyai bebagai kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Memang, tidak sedikit juga orang yang dengan fanatiknya menyarankan untuk memakai salah satu merk tersebut di atas. Nikon D5000Tapi buat saya pribadi hal itu sudah merupakan ‘pemerkosaan keyakinan’ secara tidak langsung yang pada akhirnya nanti akan 'membrangus kemampuan' seseorang. Setiap orang punya style sendiri-sendiri yang nantinya bakal ditemui melalui alat yang dibawanya dan yang paling mengetahui akan hal tersebut adalah orang itu sendiri. Bagaimana mungkin seseorang yang fanatik itu tahu akan style dari si pemula nantinya, yang bahkan dalam memegang kamera DSLR saja belum pernah. Apakah itu kemampuan paranormal atau hanyalah sebuah omong kosong belaka? Belum lagi jika si pemula mendengar usul seseorang yang berkata, ‘Nikon bagus ininya’ atau ‘Canon bagus itunya’, saya jamin pasti akan tambah bingung dalam memutuskan akan mengunakan merk yang mana.

Canon EOS 450D (EOS Digital Rebel XSi, EOS Kiss X2)Banyak sekali pendapat yang saya temui pada berbagai pembahasan perihal ‘Nikon atau Canon’. Seperti misalnya Nikon mempunyai hasil gambar dengan warna yang tegas atau ‘ngejreng’ sehingga cocok untuk foto produk atau landscape, sedangkan Canon mempunyai hasil gambar lebih soft yang cocok untuk foto model atau ‘portraiting human’. Tapi ada juga seorang disain grafis yang mengatakan bahwa warna Canon lebih enak untuk diedit. Hasil gambar Nikon lebih baik untuk lensa macro atau wide, sedangkan Canon pada lensa tele-nya. Ada juga yang mengatakan, untuk Nikon ‘handling’ enak, kokoh, saturasi cukup tinggi, kekar, VR (untuk beberapa lensa tertentu), dan 'rugged material', sedangkan Canon warna cenderung vivid, lebih modis, 'versatile lens', dan beberapa tipenya mengandung 'plastic material'.

Canon EOS 1000D (EOS Digital Rebel XS)Menurut saya pribadi, warna tajam atau soft maupun hasil bagus atau kurang adalah relatif. Tiap orang memiliki kesenangan sendiri-sendiri. Mungkin buat saya sudah tajam tapi bagi orang lain masih soft atau buat saya hasilnya kurang tapi bagi orang lain yang melihat sudah ‘amazing’. Bagi pemula seperti saya pun tentunya belum memiliki intuisi untuk tahu sebuah warna itu dikatakan sudah tajam maupun soft. Hal ini perlu diasah dari pengalaman dan jam terbang. Belum lagi warna tajam buat orang per orang juga berbeda, ada yang berdasarkan vivid-nya, kontras, detail texture dan tentu saja juga ditentukan oleh teknik fotografinya itu sendiri. Dari sebuah buku Petersen's Photographic Library GUIDE TO CAMERA EQUIPMENT karangan Mike Stenvold, dikatakan bahwa : Canon EOS 500D (EOS Rebel T1i, EOS Kiss Digital X3)What is the best? There is no 'Best' equipment. Ask ten professional Photographers what camera they used. and you are likely to get ten different answers. Ask them what lenses they used, and again you will probably get several answers. Each uses what he has found the best suits his specific needs. So, once you know what basic features you want, go to your local camera store and try out various examples of equipment. See which brand name feel best, perform as you want it to and easy to use, then it is the best piece equipment for you. Never make a major purchase whithout trying the piece of equipment you intend to buy'. Permasalahannya, untuk saya yang masih pemula pastilah belum mengerti dan menemukan ‘our specific needs’ maupun ‘basic features’.

Nikon D90Bahkan ada seorang fotografer senior yang seorang 'nikon freak' karena suka akan karakter warnanya malah milih menggunakan DSLR merk Canon, dengan alasan pada Canon terdapat fitur ‘customize colour' (setting warna yg bisa di-custom dan bisa disimpan pada beberapa 'memory') yang setting warnanya diset pada karakter warna Nikon. Mulai dari sharpness, contrast, saturation, color tone, hingga fitur White Balance Shift (sama dengan sistem adjustments : selective color pada program Photoshop). Jadi menurut beliau, seperti mempunyai 'Nikon' di dalam kamera Canon. Ada juga beberapa kawan yang mempertimbangkan masalah 'pertemanan' dalam penentuan merk ini. Maksudnya merk mana yang lebih banyak digunakan oleh teman-temannya dan kemudian mengikutinya, dengan alasan yang sederhana yaitu agar bisa saling pinjam lensa maupun asesorisnya.

Canon EOS 50DApakah si pemula seperti saya ini, saat membaca sedikit perbedaan maupun kelebihan dan kekurangan antar kedua merk tersebut menjadi semakin jelas untuk menentukan pilihan? Saya kira tidak dan malah tambah bingung seperti yang sudah saya katakan sebelumnya. ‘Trus bagaimana dong?’ Menurut saya hanya satu kuncinya, yaitu yakin dan jangan terpengaruh oleh desas-desus merk tertentu. Karena berhasilnya karya fotografi tidak pernah ditentukan oleh alat, tapi oleh fotografernya. Jika pada akhirnya sudah memiliki kamera, belajar dan terus belajar tentang dasar-dasar fotografi sambil mengasah kemampuan serta jam terbangnya. Nikon D300SPerlu diingat disini, seperti yang dikatakan oleh salah seorang fotografer senior, bahwa fotografer bukanlah ‘tukang potret’ yang terus menerus hanya mencet tombol ‘shutter’ dan ketika gambarnya dicetak lantas senang, karena fotografi butuh sebuah keahlian bukan hanya jadi tukang. Fotografer juga bukanlah seseorang yang ‘petantang-petenteng’ sibuk memamerkan alatnya yang canggih dengan merk keren (menurut dia), sampai bahkan menganggap eksklusif berikut lensanya yang sempurna dan mahal. Fotografer menunjukkan jati dirinya lewat karya, bukan merk kamera atau lensanya. Foto yang bagus, pada saat sekarang banyak bisa kita temui, tapi foto yang kuat dan bermakna masih sangat sedikit.

Nikon D700Jika kita tinjau dari segi ekonomis, pada entry level selain memiliki desain kamera yang “user-friendly” atau mudah digunakan serta badan kamera yang biasanya relatif lebih ringan dan kecil dari kamera DSLR lainnya, juga tersedia pula banyak otomatis “preset scene mode” sehingga pengguna yang tidak mengetahui dasar fotografi bisa dengan mudah mengambil foto sesuai dengan kondisi yang ada. Misalnya bila foto di malam hari tinggal mengunakan night scene. Untuk level ini terdapat Nikon D3000 Kit + lensa AF-S VR 18-55mm f/3.5-5.6G + memory 4Gb sekitar Rp 5.800.000,-, Nikon D60 Kit + lensa AF-S 18-55mm VR + memory 4Gb dengan kisaran harga Rp 6.800.000,-, Nikon D5000 Kit + lensa AF-S 18-55mm VR + memory 4Gb sekitar Rp 8.300.000,-, Canon EOS 7DCanon EOS 1000D + lensa EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS + memory 4Gb dengan kisaran harga Rp 5.800.000,- , Canon EOS 450D Kit + lensa EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS + memory 4Gb sekitar Rp 7.400.000, dan Canon EOS 500D Kit + lensa EF-S 18-55mm F3.5-5.6 IS + memory 4Gb dengan kisaran harga Rp 8.100.000,-. Pada middle level dengan ciri kamera yang berukuran lebih besar dan konstruksi badan lebih baik, ‘scenes mode’ seperti yang terdapat dalam kamera pemula biasanya tidak ada lagi. Banyak juga terdapat tombol khusus untuk mempermudah dan mempercepat setting kamera. Untuk level ini terdapat Nikon D90 Kit + lensa AF-S VR 18-105mm f/3.5-5.6G ED + memory 4Gb dengan kisaran harga Rp 12.700.000,- dan Canon EOS 50D Kit + lensa EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS + memory 4Gb sekitar Rp 12.100.000.

Nikon D3Pada pro level untuk sports dan fotojurnalistik, kamera dirancang agar bisa mengambil gambar dengan kecepatan tinggi, setidaknya dapat mengambil gambar lima sampai sepuluh gambar per detik. Biasanya ukuran dan berat kamera dua kali lipat lebih besar daripada kamera pemula. Kamera tipe ini pada umumnya memiliki kemampuan untuk meredam noise pada ISO tinggi, sehingga foto yang diambil di saat gelap tetap memiliki kualitas yang baik. Maka dari itu kamera ini juga ideal untuk wartawan foto. Kualitas bodi kamera juga sangat baik, tahan banting dan cuaca. Untuk level ini terdapat Nikon D300s body only dengan kisaran harga Rp 17.800.000,-, Nikon D700 Kit + lensa AF-S VR 24-120mm f/3.5-5.6G ED sekitar Rp 28.900.000,-, Canon EOS 5D Mark IINikon D3 body only dengan kisaran harga Rp 37.900.000,-, Canon EOS 7D Kit + lensa EF-S 18-135mm f/3.5-5.6 IS sekitar Rp 18.600.000,- dan Canon EOS 5D Mark II Kit + lensa EF 24-105mm f/4L IS USM dengan kisaran harga Rp 33.500.000,-. Pada pro level untuk studio, kamera yang digunakan oleh profesional menawarkan resolusi foto yang besar dengan kualitas gambar yang terbaik. Sama dengan pro level untuk sports, kamera ini memiliki badan yang cukup besar tapi sangat tangguh. Untuk level ini terdapat Nikon D3X body only dengan kisaran harga Rp 76.400.000,- dan Canon EOS 1Ds mark III body only sekitar Rp 64.800.000,-.

Nikon D3XSalah satu hal penting bagi pemula adalah memahami karakter dari alat yang dimiliki (kamera), baik itu merk Nikon maupun Canon. Tidak harus mahal, yang penting bisa dimiliki dan tentu saja sesuai dengan dana tersedia di kantong. Bahkan dengan alat yang kata orang ketinggalan jaman pun, jika kita bisa memahami karakternya maka hasil yang diperoleh tidak kalah dengan alat yang canggih sekalipun. Walaupun memang setiap alat pasti ada kekurangan maupun kelebihannya, namun disitulah tantangannya. Bagaimana kita bisa mengoptimalkan alat yang kita miliki untuk memperoleh hasil yang baik. Dengan kata lain, bukan alatnya yang harus bagus/mahal untuk mendapatkan hasil yang baik, tetapi dari orang yang memegang alat itu bisa atau tidak menggunakan serta memahami karakternya. Canon EOS-1Ds Mark IIISeperti yang dikatakan pada sebuah buku mengenai fotografi ‘dalam sebuah peperangan, sehebat apapun senjata yang kita miliki kalau orang tersebut tidak bisa menguasainya (memahami karakter dan menembak yang baik), sasaran yang diinginkannya pun tidak akan tepat'. Dalam sebuah buku berjudul 123 KLIK! Petunjuk Memotret Kreatif Untuk Pemula karangan Dini Yozardi dan Itta Wijono, dikatakan bahwa 'Dengan kamera DSLR maupun SLR pemotret harus memperhitungkan ukuran kecepatan rana, bukaan diafragma dan fokus objek, serta pilihan lensa yang akan digunakan sebelum melakukan pemotretan. Oleh sebab itu kamera ini mempunyai prinsip dasar Man Behind The Gun. Pemotretlah yang menentukan kualitas foto. Dengan fasilitas kamera yang bisa diatur, pemotret bebas berkreasi'.


Sedikit tambahan, terima kasih untuk ibu-guru-semut-merah-yang-masih-kecil atas 'Blogger Award' dan 'Award Persabatan' yang telah dipersembahkan untuk saya disini. Teriring ucap maaf atas 'penyepian diri' selama beberapa hari ini yg mengakibatkan awardnya mendingin. Terimakasih juga untuk Mas Hartohadi yang juga telah memberikan 'Award Persahabatan' kepada saya. Tak lupa juga ucapan terima kasih untuk Wiwit atas pemberian 'Smart & Deligent Award'-nya.



Referensi :
http://en.wikipedia.org
http://clubbing.kapanlagi.com
http://photography.dinogroups.com
http://www.kampus.us
http://forum.kafegaul.com
http://www.fotografer.net
http://www.infofotografi.com
http://www.jpckemang.com
http://www.camera.co.id
http://www.oktagon.co.id

Read more...

Aroma Tanah Basah

>> November 20, 2009

Just let it rain
: untuk yang rindu dan terlupakan

Sudah tiba saatnya,
ketika bulir gerimis mulai menua
dan gemuruh petir tak henti-hentinya bercanda
bersama awan yang berarak riang menuju peraduan
hanya untuk menjadi tiada

Lihatlah    tari  rintik air   perlahan
semakin rindang dan tak beraturan
mencipta    nyanyian   vokal   sunyi
dalam    keindahan  konsonan  sepi
di   rintih  dedaunan   yang  beradu
pada  kaca jendela dan genting tua
untuk   lalu  sirna   di   ujung  jalan

Tercium keromantisan  bau tanah
basah  menguar  saling telusup di
relung   rindu    untuk   memagut
lembap  udara dingin   merengut
pada tiap mili  pori-pori
berhiaskan  wangi  kopi
mengepul samar
dan aku pun
semakin
tersesat
dalam
ingat
an
.
.
.
untuk deras tiap tetes yang
menjelma pada sayatan
dengan siapa akan
kusemai hujan?


* * *

photo by ~james

Read more...

Belajar Mutilasi Dengan File Splitter Software

>> November 18, 2009

Mutilasi yang aku maksud disini bukan tindak kriminalitas loh, tapi memutilasi file. Jadi File Splitter Software merupakan salah satu jenis program komputer guna memecah serta membagi berbagai jenis file dan ukuran. Terkadang kita kesulitan ketika memiliki sebuah file dengan ukuran 'bujubune' gedenya, padahal tempat penyimpanan yang kita miliki hanya mempunyai kapasitas yang tidak lebih besar dari file tersebut. Dulu, ketika jaman disket masih merajalela, dengan kapasitas penyimpanannya yang terbatas, kita sering kebingungan menyelesaikan masalah ini. Berbagai jenis disket yang pernah ada, antara lain adalah label DD (Double Density) dengan ukuran 5.25 inchi berkapasitas 360 KB dan 3.50 inchi berkapasitas 720, label HD (High Density) untuk ukuran 5.25 inchi berkapasitas 1.2 MB dan 3.50 inchi berkapasitas 1.4 MB, serta label ED (Enchanced High Density) berukuran 3.50 inchi dengan kapasitas 2.8 MB yang belum umum digunakan. Bisa dibayangkan, untuk satu buah file lagu berformat mp3 durasi 4-5 menit stereo dengan bit rate 128kbps dan audio sample rate 48kHz saja, kira-kira membutuhkan kapasitas 4,1 MB hingga 4,4 MB. Nah, file segede itu tidak mungkin dimasukkan mentah-mentah ke dalam salah satu dari berbagai jenis disket tersebut di atas, karena kapasitasnya yang tidak mencukupi

Seiring perkembangan teknologi, berbagai tempat penyimpanan mulai dikenal. Dari Flash Disk dengan kapasitas 64 MB hingga 32 GB, CD yang berkapasitas 600 MB hingga 800 MB, DVD berkapasitas 4,3 GB hingga 8,5 GB untuk tipe 'double layer', sampai dengan Hard Drive External mulai dari kapasitas 160 GB hingga yang 2 TB. Apakah masalah terpecahkan? Yup, bagi yang memiliki kocek lebih untuk dibelanjakan tempat penyimpanan berberkapasitas besar, yang tentu saja harganya juga melangit. Seperti kata mbake dalam salah satu artikelnya tentang belanja, 'ono rego ono rupo'. Bagaimana bagi yang hanya memiliki tempat penyimpanan berkapasitas terbatas? Bagaimana jika file yang diunduh, karena juga perkembangan teknologi, sekarang ini makin lama sepertinya makin beragam dan gemuk saja kapasitasnya? Bagaimana bila kita ingin 'attach' file dengan ukuran gila-gilaan, padahal batas per satu kali upload pada email kita hanya separo atau bahkan seperlima dari besar file yang ada?

Salah satu pemecahan dari persoalan tersebut adalah dengan menggunakan program WinZip atau WinRAR yang selain berguna untuk mengkompres banyak file menjadi satu, juga bisa digunakan untuk memecahnya. Akan tetapi, karena memang kedua progam itu bukan khusus untuk memecah file, kemampuannya sangat terbatas dalam menentukan seberapa besar kapasitas per bagian file yang ingin dipecah. Beda dengan program HJSplit. Dengan progam ini kita bisa memecah berbagai jenis file, dengan ukuran per bagiannya mulai dari 1 Kb sampai dengan tak terhingga. Pernah aku mencoba memecah file mp3 berukuran 4,26 MB dengan pengaturan 1 Kb per bagiannya dan 'jreng' dalam waktu kurang dari 10 detik sudah menjadi *waks* 4.260 bagian file yang terletak dalam satu folder yang sama dengan file aslinya. Untuk menggabungkannya kembali pun sangatlah gampang. Tinggal semua bagian file diletakkan dalam satu folder yang sama, buka HJSplit, ambil pecahan file yang pertama dan klik 'join'. File pun menjadi utuh kembali. Jadi satu hal yang perlu diingat, jika kita mengirimkan file yang sudah dipecah melalui email kepada teman, jangan lupa disertakan program HJSplit-nya guna menyatukannya kembali. Program ini tidak memakan kapasitas kok, cuma berukuran kurang dari 400 Kb dan enaknya lagi tidak perlu diinstall. Tinggal extract dari file zip-nya dan jalankan.

Disini, aku hanya ingin berbagi dengan teman-teman sekalian yang memiliki kesulitan seperti tersebut di atas. Untuk program HJSplit ini sendiri memiliki lisensi 'freeware' baik secara komersial maupun non komersial. Dari 'note' yang aku lihat, bahkan teman-teman diperbolehkan untuk mendistribusikan program ini, bebas dan tanpa biaya (di CD-ROM, Website, dll) dengan syarat tidak mengubah program atau file zip-nya. Dikarenakan jelas-jelas berlisensi 'freeware' atau 'shareware', tidak diperkenankan memungut sepeserpun dari program ini. Silahkan bagi teman-teman yang sekiranya membutuhkan, untuk menyedot dari link dibawah. Semoga bermanfaat.. *happy sharing, guys*

Free Download :
HJSplit 2.4 for Windows XP, Vista, 2000, NT, 95, 98, ME
HJSplit 2.3 for Linux
HJSplit GUI for Java
Split&Concat 3.0 for MAC
Split&Concat 2.5 for MAC
ChunkJoiner for MAC
mirror
All File Splitter Software


reference :
http://www.freebyte.com
http://kuliah.dinus.ac.id

Read more...

Mengeja no'vem.ber

>> November 15, 2009


November sudah bertandang. Hari-hari pun
mulai berjalan, tapi kenapa hujan tak kunjung
datang? Dan hei, untuk apa kau mengikutiku,
selalu. Di sini aku bukan milikmu. Di sana,
di Agustus itu telah kuberi kau kesempatan.
Untuk berkali-kali menorehkan sayatan.

November mulai kumandang. Sedang gerimis
tak jua keluar sarang. Tapi, kenapa kau
masih di sini? Apa yang kau cari? Lihat,
tak ada lagi yang tersisa dariku.
Kau pun telah memberi semua milikmu.
Sunyi, sepi dan sebuah rindu itu.

Apa!?
Kau masih belum terpuaskan?

Baiklah,
Tikam saja aku pelan, kenangan..



For what it's worth, it's never to late to be whoever you want to be. There is no time limit, start whenever
you want. You can change or stay the same. There are no rules to this thing. You can make the best or the
worst of it, and see things that startle you. Feel things you never felt before. Meet people with a different point
of view. Live a life you're proud of. If you find that you're not, you have the strenght to start all over again.
(Movie’s dialog of The Curious Case of Benjamin Button)

Read more...

Mangrove Bedul Snapshots

>> November 12, 2009

Falling Leaves

Endless Road in Teak Plantation

Road to Alas Purwo National Park

Gate of Alas Purwo National Park

Boat Rental at Segoro Anak Bay

Mangrove Root

Mangrove Forest

Mangrove Forest

Mangrove Forest

Fishing Boat

Migratory Birds

Migratory Bird

Land in The Middle of The Bay

Sailing Towards Sunset

Towards Sunset

Sunset

Sunset

Sunset

Sunset


about Mangrove Bedul 'n The Journey click here
photo by me

Read more...
Related Posts with Thumbnails

  © Blogger templates Romantico by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP