Kami berdua tiba di Ampel pada pukul 21.00, padahal dari informasi yang kami terima bahwa kebanyakan warung atau depot makan yang menyediakan masakan Arab di Ampel tutup pada pukul 22.00. Langsung saja kami menuju kawasan Jl. K.H. Mas Mansyur, yang mana mayoritas masakan Arab banyak terdapat disana. Setibanya di lokasi, kaki kami langkahkan masuk ke salah satu depot masakan yang pada saat itu ramai pengunjung. Tapi baru saja asyik memilih berbagai menu yang benar-benar menimbulkan 'laper mata', kami terpaksa terhenti. Karena mendadak diinfokan bahwa segala jenis masakan kambing di depot itu sudah habis. Waduh, masa' masakan Timur Tengah tanpa daging kambing, belum lagi bagaimana dengan menu idaman Kambing Oven Bakar-nya. Walaupun sudah terlanjur pesan Juice Kurma, akhirnya kami putuskan untuk pindah kedai setelah membayar harga minuman tersebut.
Sembari berpacu dengan waktu, kulihat sebuah kedai makan bernama Al Mutlik. Tiba-tiba aku teringat beberapa review tentang depot itu yang kutemukan saat mengumpulkan informasi dari dunia maya tentang perjalanan ini sebelum berangkat. Disebutkan bahwa depot Al Mutlik dulu sangat terkenal dengan menu masakannya, sampai masuk di acara Wisata Kuliner-nya Pak Bondan dan acara Nikmatnya Dunia dengan Fauzi Baadilllah sebagai presenternya. Akan tetapi akhir-akhir ini, dari beberapa review yang kutemukan tersebut, depot Al Mutlik telah berubah dan mengecewakan karena satu dan lain hal. Sempat ragu juga, padahal waktu terus berjalan. Aku pikir, jika harus mencari depot lain bisa-bisa keburu udah tutup. Aku minta temanku ke depot Al Mutlik dulu untuk memastikan menu berbahan dasar kambing masih tersedia, sementara aku memelototkan mata masih mencoba mencari alternatif depot lainnya. Tak berapa lama temanku balik dan mengatakan bahwa menu kambing masih tersedia. Tak kuhiraukan beberapa review yang kutemukan perihal depot itu dan segera kulangkahkan kaki menuju kesana.
Kesan pertama yang kudapat sebelum memasuki depot Al Mutlik adalah bangunan lama yang tidak terlalu luas dengan berbagai macam gambar menu makanan terpampang di depannya. Sesaat kaget juga, "Kok rada kotor ya". "Ah, mungkin lagi pada beres-beres karena waktu sudah mendekati pukul 22.00", pikirku. Tak berapa lama disodorkanlah pada kami daftar menu. Wah, tidak tercantum harga-harganya. Cuma tulisan menu makanan dan minuman saja, tidak seperti yang kami temui di depot sebelumnya yang lengkap beserta harganya. Sempat khawatir juga, takut kalau tahu-tahu dimahalkan saat membayar. Tapi tetap saja kami menggila dalam memesan makanan. Kambing Oven Bakar (1/2 kg beserta tulang), Gule Kacang Hijau Kambing, Roti Maryam, Nasi Kebuli Kambing 2 porsi dan Es Teh manis 2 gelas adalah pesanan kami, hanya untuk 2 orang. Hahaha.. Maklumlah, seharian kami puasa dan belum makan apapun semenjak berbuka.
Selain makanan yang kami pesan, di depot Al Mutlik ini sebenarnya banyak menu makanan lain yang tersedia. Antara lain Nasi Briani, Krengsengan Kambing, Nasi Goreng, Sate, Gule Merah, Soup Kambing, Rawon, Gado-Gado, Soup Buntut, Nasi Tomat dan Bubur Gandum. Untuk menu spesial kue terdapat Sambosa, Risoles, Onde-Onde, Roti Goreng Isi Kacang Hijau dan Mageli. Sedangkan untuk menu minuman yang lainnya adalah Es Manado, Senja Marinda, Es Sirup Telasih, Es Buah Luchies/Rambutan/Klengkeng/Delmonte, Fruit Cocktail, Es Joshua, Kopi Rempah Arabika, Air Korma, STMJ Terbang dan masih banyak lainnya.

Beberapa saat kemudian pesanan kami Nasi Kebuli muncul. Ditempatkan pada piring yang lebar dan pipih, terdapat seporsi nasi berwarna kuning kecokelatan, sepotong daging kambing, beberapa lalapan, sambel dan potongan cabai. Nasi Kebuli juga merupakan menu favorit masakan Arab, walaupun sebenarnya bukanlah tradisi asli masakan Arab yang seharusnya berbahan dasar utama gandum. Sedangkan Nasi Kebuli berbahan dasar beras dengan menggunakan bumbu dari berbagai rempah-rempah. Hal ini dikarenakan pengaruh masakan dari India (Gujarat) yang terkenal dengan tradisi kuliner spicy-nya. Bumbu rempah yang dipakai pada nasi kebuli antara lain adalah bawang putih, bawang merah, bawang bombai, ketumbar, jintan, cabai, cengkih, kapulaga, dan masih banyak lagi. Keberagaman bumbu yang digunakan, membuat tampilan nasi kebuli seperti nasi goreng yang berwarna kuning kecokelatan dengan rasa rempah yang sangat pekat, pedas, dan aromatis.

Belum habis menyantap nasi kebuli, pesanan Roti Maryam telah disodorkan diikuti oleh Gule Kacang Hijau Kambing. Roti maryam terbuat dari tepung terigu, susu dan mentega. Masih dengan warnanya yang kekuningan di bagian tengah dan lebih gelap di sekeliling pinggirnya, Roti Maryam disajikan pada sebuah piring kecil. Roti Maryam sendiri, selain dijual di depot atau warung makan, juga bisa dijumpai di warung kaki lima memakai gerobak dengan roti yang memiliki berbagai ukuran dan topping. Untuk Roti Maryam di depot Al Mutlik ini termasuk dalam ukuran super tanpa topping. Karena memang nantinya disantap bersama dengan Gule Kacang Hijau Kambing. Sedangkan untuk Gule Kacang Hijau Kambing, seperti namanya berupa campuran antara bahan kacang hijau dengan gule kambing yang masih dengan warna kekuningannya, ditaburi dengan bawang goreng dan dihidangkan dalam mangkok sedang. Walaupun daging kambing yang disajikan tetap menyertakan tulangnya, tapi sangat empuk. Tidak perlu kita bersusah payah melepaskan daging dari tulangnya. Cukup digigit sedikit kemudian disedot dan luruhlah daging tersebut masuk ke mulut. Dengan aroma khas Timur Tengah yang kaya dengan rempah-rempah, Gule Kacang Hijau Kambing sangat cocok disantap dengan Roti Maryam.

Menu pesanan terakhir yang juga sangat kami tungu-tunggu adalah Kambing Oven Bakar. Tidak jauh dari namanya, menu ini adalah masakan daging kambing yang mengalami proses pengovenan sekitar dua sampai dengan lima jam sebelum dibumbui. Hal ini dilakukan dengan maksud agar dagingnya empuk dan menghilangkan bagian gajih (lemak). Kemudian daging yang sudah dioven ini dibakar sembari diberi kecap dan diolesi rombuter pada proses pembakaran akhirnya. Sebelum dihidangkan, masih dalam kondisi panas pembakaran, daging kambing ini ditaburi bubuk kapulaga. Dengan ukuran yang cukup besar, daging kambing yang bisa dimakan dua orang ini, disajikan pada piring pipih beserta lalapan serta bumbu yang terbuat dari kecap, kacang tanah dan berbagai tambahan rempah-rempah. Melalui proses oven dan bakar tersebut, menimbulkan sedikit minyak yang menempel di permukaannya dagingnya. Selain menjadi gurih, minyak tersebut juga menambah selera siapa saja yang melihatnya. Sedangkan dagingnya sendiri sangat empuk dan tidak amis. Bagi yang tidak suka makan daging kambing karena bau menusuknya yang khas, mungkin sudah saatnya mencoba menu Kambing Oven Bakar ini. Cara menyantap masakan ini dengan mencocol daging kambingnya ke bumbu yang disediakan. Perpaduan daging kambing yang empuk nan gurih beserta bumbu yang kaya dengan rempah, menimbulkan rasa yang sangat eksotik di mulut. Satu pesan kami jika memilih untuk menikmati menu ini, hati-hati jangan sampai ketagihan. Hehehe..
Oh iya, ada yang ketinggalan. Es Teh Manis-nya berbeda dari minuman kebanyakan. Seperti ada aroma wanginya, mungkin dari wangi buah kurma kalo tidak salah. Tapi sayangnya ketika saya minta tambah satu gelas lagi, dengan juteknya mbak pelayan disana menolaknya. 'Menolak', aneh tidak seh? Sepertinya ini salah satu kekurangan dari depot ini, yaitu pelayanannya kurang ramah. Atau mungkin karena sudah mendekati jam tutup, kami seperti dilayani sekenanya. "Mbak, bisa minta tolong tambah es teh manis 1 gelas lagi", kusampaikan pada mbak pelayannya yang waktu itu sedang membereskan depot karena sebentar lagi tutup. Mbak pelayan yang pada waktu itu ada dua orang saling berpandangan dan kemudian yang lebih senior, menurut saya, bilang, "Nggak bisa mas!". Kaget aku mendengarnya, padahal makanan saya masih belum habis. Beda cerita mungkin jika makan kami sudah selesai dan cuma nongkrong disitu minta tambah es teh, padahal warung sudah mau tutup. Lha ini minta tambah minum karena tenggorokan seret, karena makanan yang dimasukkan tidak berimbang banyaknya dengan minumannya. "Berarti saya ngga bisa tambah es teh lagi, mbak?" berusaha meyakinkan apa yang saya dengar sebelumnya. "Nggak bisa!!" tegas sekali. Bah.. WTF!!
Akhirnya dengan penuh perjuangan, kami selesaikan makan kami. Tibalah waktunya berhitung. Apakah kekhawatiranku jika dimahalkan menjadi kenyataan? 'Total Damage' 116rb. Waks..!! Memang aku dan temanku belum pernah punya pengalaman makan di Ampel Denta, jadi tidak akan tahu kalau itu mahal atau murah menurut rata-rata harga disitu. Tapi benar-benar kami tidak menyangka 'kerusakan'-nya bisa segitu, dengan perincian :
1 porsi Kambing Oven Bakar = 50rb
1 porsi Gule Kacang Hijau Kambing + Roti Maryam = 20rb
2 porsi Nasi Kebuli Kambing @20rb = 40rb
2 gelas Es Teh manis @3rb = 6rb
Mungkin ada teman-teman, sodara-sodara, mas-mas atau mbak-mbak yang pernah ke Ampel Denta, bisa kasih masukan perihal harga tersebut. Apakah tergolong murah atau mahal? Siapa tahu info ini nanti bisa berguna buat siapa saja yang ingin wisata kuliner ke Ampel Denta.
photo by me