Sobat Kecil

>> Oktober 30, 2009

Sobat Kecil

Peliharalah tawa sepanjang usia
Jika sedu sedan kan mengusiknya
Sabarkan, darinya kematangan jiwa tertempa

Tebarlah mimpi setinggi matahari
Jika hanya kegagalan yang tertuai
Syukuri, melaluinya kekayaan hati teruji

Raihlah cinta sedalam samudera
Jika pengorbanan hanya menganakkan luka
Ikhlaskan, pahami hikmah dari bahagia tertunda

13.00 - Kadilangu Demak


"Mas mas, nanti masuk tipi kan?"
"Nggak dek, ini kan kamera foto. Masukin internet aja ya?"
"Ya ya, mau mas.. mau"
"Ya udah, siap-siap ya. Satu, dua, tiga.. Lompaaat!!"
"Horeeee.. Aaaaa!!!"
..Byuuurrrrr..

terimakasih sobat kecil,
telah mengingatkan kembali padaku tentang
tawa canda, mimpi-mimpi dan arti bahagia..


photo by me

Read more...

Yang Terindukan

>> Oktober 28, 2009

Bonsai Moon
Sudahlah Tuan..
Cukup bagiku rindu akan bulan
Pada hitam pekat malam dan dingin kesunyian

Aku pun tahu Tuan..
Untuk menggapainya lah kutercipta olehMu
Tapi lelah ini pun mulai membatu
Lekat berlumut dan dipurbakan waktu
Sedangkan di atasnya, kelak bakal terukir indah
Prosa kalah dalam setiap kisah

Pernahkah Tuan?
Kau tuliskanku untuk dirindukan bulan
Ah maaf, tentu tidak bukan..

Tuan Tuhan..
Sebagai pungguk lah Kau tiupkan kehidupan
Maka, antara aku dan bulan
Hanya ada sesuatu yang
Hilang dan diinginkan

17.30 - Teluk Segoro Anak

We're meant to lose the people we love.
You could be mad as a mad dog at the way things went.
You could swear, curse the fates.
But when it comes to the end...
You have to let go.
(Movie’s dialog of The Curious Case of Benjamin Button)


photo by h.koppdelane

Read more...

Soto Kudus, Salah Satu Warisan Kuliner Nusantara

>> Oktober 23, 2009

Soto Kudus Pak DenuhSoto, sroto, atau coto adalah makanan khas Indonesia yang terbuat dari kaldu daging dan sayuran. Daging yang paling sering digunakan adalah sapi dan ayam, meskipun ada juga yang menggunakan daging kambing dan kerbau. Berbagai daerah di Indonesia memiliki jenis soto khas masing-masing, dengan kandungan yang berbeda-beda, misalnya Soto Kudus, Soto Kediri, Soto Madura, Soto Betawi, Soto Padang, Soto Bandung, Soto Sokaraja, Soto Banjar, Coto Makassar dan masih banyak lainnya. Cara penyajiannya sendiri juga berbeda-beda menurut daerahnya. Seperti misalnya, Soto Betawi dan Soto Padang disajikan secara terpisah dengan nasinya, sedangkan Soto Kudus disajikan campur dengan nasi. Beda lagi dengan Coto Makasar yang dihidangkan dengan lontong atau nasi yang sudah dimasak dengan dibungkus daun pisang, atau Soto Mie Bogor yang memakai mie dan bukan nasi sebagai menu pokoknya.

Kudus, salah satu kota di Jawa Tengah yang juga dikenal dengan sebutan Kota Santri, pun memiliki makanan khas soto yang dikenal dengan sebutan Soto Kudus. Soto Kudus yang asli hanya memakai dua macam daging, yaitu ayam dan kerbau. Berbeda dengan soto-soto lainnya, Soto Kudus cenderung berasa manis dan sedikit lebih encer. Banyak ditemukan di kota-kota besar pada umumnya, menjajakan Soto Kudus tapi dengan memakai daging sapi. Padahal di Kudus sendiri pemakaian daging sapi sebagai bahan baku soto sangatlah dihindari, karena adanya kepercayaan daerah secara turun-menurun yang melarang penyembelihan sapi. Dahulu kala, Kudus merupakan salah satu basis penyebaran agama Hindu. Sebagaimana diketahui bahwa pemeluk agama Hindu mengganggap sapi sebagai binatang suci yang tak boleh disembelih. Ketika Islam sampai di Kota Kudus dengan perantara As Syaikh Ja'far Shodiq Sunan Kudus, beliau pun menghimbau pengikut untuk tidak menyembelih sapi meskipun halal. Sehingga sampai sekarang pun daging sapi jarang di jumpai di pasar-pasar tradisional di Kudus. Sebagai gantinya orang Kudus lebih familiar dengan daging kerbau atau ayam.

Salah satu warung makan di Kudus yang terkenal akan sotonya adalah 'Soto Kudus Pak Denuh'. Usaha soto yang diawali dengan berdagang keliling ini berpusat di Jl. AKBP Agil Kusumadya dengan cabangnya di Taman Bojana Kios No. 55, 56, 57 dan Terminal Bus Kudus Kios No. 6. Bahan baku yang dipakai pada Soto Kudus Pak Denuh ini menggunakan daging ayam. Warung makannya sendiri buka dari pukul 07.00 hingga 22.00. Dikarenakan Pak Denuh sudah meninggal, sekarang ini semua warung makan tersebut dikelola oleh keturunannya. Walaupun begitu cita rasa sotonya masih benar-benar terjaga agar tidak berubah dari waktu ke waktu. Tidak heran Soto Kudus Pak Denuh ini sampai masuk di acara Wisata Kuliner-nya Pak Bondan.

Perjalanan yang menghantarkan kami hingga kota Kudus memberikan sebuah kesempatan berharga untuk mencicipi ketenaran dari Soto Kudus Pak Denuh. Aku masih bersama dengan 'teman yang aneh' sepakat melangkahkan kaki menuju salah satu cabangnya yang berada di Taman Bojana. Karena memang lebih dekat pada lokasi kami pada saat itu, dan juga sebenarnya karena untukku ada sebuah 'kenangan' tentang seseorang yang terserak disana *curhat mode on* hihihi.. Berlokasi di sebelah utara timur Alun-Alun Kudus, Taman Bojana sebenarnya bukanlah sebuah taman melainkan nama tempat berisikan ruko-ruko yang menjajakan berbagai dagangan, mulai dari handphone, buku hingga warung makan. Posisi tepatnya ada pada koordinat S 06" 48,439' - E 110" 50,550'.

Sembari berlenggang ke tujuan, sempat-sempatnya temanku mengajukan sebuah pertanyaan. "Tau nggak bedanya soto dengan coto?"
Dengan berat hati, terpaksa kuputar otakku yang sudah lelah menempuh perjalanan seharian. "Bla bla bla", kuutarakan berbagai perbedaan yang kutahu, mulai dari pemakaian nasi hingga penyajiannya.
"Salah!! Perbedaan yang mencolok dong", sanggahnya.
"Nyerah deh", dasar sudah males mikir dan cacing di perut yang hampir selesai 'sound check' pun mulai bersiap untuk konser.
"Payah! Gitu aja nggak tau. Bedanya ni ya, kalo soto tu pake daging sapi" jawabnya nyebelin.
"Nah, kalo coto pake daging apa?" tanyaku sambil monyong.
"Capi. Gyahahaha!!" jawabnya enteng sembari terbahak-bahak dan berlalu.
"@#$%^!!! Stupidd jookeee!!!!!"

MartabakSesampainya di Taman Bojana, kami mampir dulu pada seorang bapak penjaja makanan yang kebetulan mangkal di depannya. Bapak ini berdagang keliling menjajakan martabak telor, dengan bentuknya yang berbeda dari penganan bernama martabak kebanyakan. Kami sadari bahwa rasa keingintahuan kami terutama dalam hal kuliner lumayan besar, apalagi jika bertemu dangan makanan yg sekiranya belum pernah dilihat atau dirasakan, langsung kami bee-ru-bah.. *tiiinnngg* ..menjadi manusia 'teladan' (telat makan edan). Kalo orang jawa mungkin nyebutnya 'nggragas'. Hihi.. Martabak telor yang kami jumpai ini berukuran kecil dengan bentuk menyerupai kue apem, karena memang cara menggorengnya persis seperti kue apem. Bahan baku yang digunakan relatif hampir sama dengan martabak kebanyakan, hanya saja tidak menggunakan adonan kulit. Jadi ketika bahan baku sudah dicampur merata, lalu dimasukkan ke penggorengan yang berupa cetakan-cetakan kecil. Setelah matang, disajikan dalam kondisi panas dengan disiram kuah saos khusus. Kenyal, gurih, sedikit manis dan pedas lah rasa yang berhasil kami tangkap begitu mencobanya.

Soto Kudus KomplitAkhirnya, tanpa kesulitan mencari, kami sampai juga di kios no. 55, 56, 57 sebagai tempat dijajakannya Soto Kudus Pak Denuh. Luas warung makannya tidak terlalu besar dan dijaga oleh dua orang perempuan. Satu hal yang membuat kami rada takjub bahwa mbak-mbak penjaga menggunakan seragam khusus. Masih relatif muda dengan paras yang manis dan keramahtamahannya, seperti layaknya SPG (sales promotion girl) sebuah produk tertentu. Ternyata hingga pelayanan terhadap pembeli pun, sudah dikemas sedemikian profesionalnya. Bahkan tanpa kusadari, tau-tau temanku sudah terlibat percakapan yang diakhiri dengan menyodorkan nomor handphone-nya kepada mbak-mbak tersebut. Bah, promosi terselubung. Hahaha.. Singkat cerita, tanpa menunggu terlalu lama, kami berdua bak burung kutilang yang kelaparan, berceloteh ramai memesan menu makanan. Dengan sigap mbak-mbak tersebut menyiapkan Soto Kudus pesanan kami beserta berbagai makanan pendampingnya.

Soto KudusDalam waktu singkat, sudah hadir di hadapan kami masing-masing satu mangkok Soto Kudus campur dengan nasi. Layaknya kekhasan Soto Kudus, penyajiannya menggunakan mangkok berbentuk mungil seukuran kira-kira 3/4-nya mangkok kebanyakan. Diikuti juga oleh perlengkapannya, berupa kecap manis, jeruk nipis yang sudah dipotong kecil dan sambal. Dengan kuah kuning yang mengandung minyak, asap mengepul yang menimbulkan aroma kaldu ayam kampung, serta taburan bawang merah dan putih goreng di atasnya, bagaikan membelai rasa lapar yang sudah kami tahan sedari tadi. Sibuklah kemudian kami meraciknya dengan berbagai perlengkapan sesuai selera masing-masing. "Slurrpp..", kuah soto yang penuh kaldu itu berjalan melewati kerongkongan. Segar, gurih dan kaya akan bumbu. Terbayarkan sudah capeknya kaki melangkah menuju Taman Bojana.

Sate Ayam Kampung - Sate Kerang - Tahu - Tempe - BerkedelTak kalah juga, makanan pendamping untuk menikmati Soto Kudus-nya. Sate Ayam Kampung diolah dengan cara bacem disajikan bersama kuahnya jadi satu pada sebuah piring. Sate Kerang, masih sama dengan Sate Ayam Kampung yang juga diolah dengan cara bacem dengan cara penyajian yang sama juga. Rasa manis dan gurihnya Sate Kerang sangat cocok untuk menemani Soto Kudus. Tidak ketinggalan juga, makanan pelengkap standar soto, yaitu tempe goreng, berkedel dan tahu goreng. Sate Rempelo Ati, berisikan rempela dan hati ayam kampung beserta uritan (telor muda) yang digoreng. Jauh dari alot, dan gurih sekali rasanya. Sate Rempelo Ati - Sate Telor Puyuh - Paru GorengTak ketinggalan Sate Telor Puyuh, berisi lima butir telor per satu tusuknya. Terakhir yang ditunggu-tunggu, adalah Paru Goreng. Dengan ukuran satu porsinya yang relatif besar, menjadi makanan pendamping yang paling digemari untuk menikmati Soto Kudus. Namun hati-hati jika makan Paru Goreng, di dalamnya terdapat kayu tusuk sate guna menggabungkan dua potong Paru Goreng menjadi satu porsi. Karena memang tidak diambil ketika digoreng, sehingga ketika sudah matang dan tersaji, tusuk satenya sudah tidak nampak lagi.

Selain Soto Kudus, di warung makan ini juga tersedia menu Nasi Pindang. Pertama kali baca nama menu makanan ini, yang terbersit di kepala kami adalah nasi pulen dengan lauk ikan pindangnya. Tapi ternyata salah besar. Nasi Pindang disini merupakan makanan berkuah, disajikan dengan piring bukan menggunakan mangkok seperti Soto Kudus. Nasi PindangBahan yang digunakan terdiri dari daging ayam dipotong suwir diguyur kuah kaldu yang bersantan dan daun mlinjo yang direbus. Bumbunya memakai daun salam, jahe, lengkuas, bawang merah, bawang putih, kemiri, kencur, ketumbar dan merica. Tergantung selera masing-masing, Nasi Pindang bisa dinikmati dengan kucuran jeruk nipis dan sambal.

Setelah semua menu yang disajikan berpindah pada perut kami, tibalah waktu untuk berhitung. 'Total Damage' sejumlah 49rb, dengan perincian :
2 porsi Soto Kudus
1/2 porsi Nasi Pindang
2 porsi Paru Goreng
2 tusuk Sate Kerang
1 botol Sprite plus es batu
1 botol Coca Cola plus es batu
1 botol Freshtea plus es batu
Fuihh, kenyang juga akhirnya. Kami pun beranjak, meneruskan perjalanan. Mencari tempat buat tidur dulu. Penyakit ngantuk mulai terasa berkali-kali lipat setelah perut terisi. Hehe.. Buat teman-teman semua, jika ada waktu, jangan lupa untuk merasakan kesegaran khas Soto Kudus.

photo by me

source :
http://id.wikipedia.org
http://zahlia.multiply.com
http://www.oblo.web.id

Read more...

Gresik Snapshots

>> Oktober 20, 2009

Another Part of Industrial Town That Never Sleep

Gate of Maulana Malik Ibrahim's Tomb

Old House of Setting Sun

Another Part of Sleepless Industrial Town

Windows

Dry Tree

Ancient Tomb

photo by me

Read more...

Kesederhanaan Masakan Laut 'Warunge Mak Dah'

>> Oktober 16, 2009

Warunge Mak DahTuban, sebagai salah satu kota kabupaten di wilayah Jawa Timur juga dikenal dengan sebutan Kota Tuak. Tuak adalah cairan (legen) dari tandan buah pohon lontar yang difermentasikan sehingga memabukkan karena mengandung alkohol. Sehingga tak jarang di Tuban kita jumpai penjaja legen (sebelum difermentasikan menjadi tuak) sebagai minuman yang menyegarkan dan tentu saja, tidak memabukkan. Sebagai kota yang berada di pantai utara pulau Jawa, Tuban juga merupakan daerah dengan komoditi laut cukup beragam. Oleh karenanya, depot makan atau warung yang menyediakan masakan laut (seafood) juga berlimpah di Tuban. Salah satunya yang sangat digemari adalah 'Warunge Mak Dah'. Karena berlokasi di area parkir Pasar Baru Tuban, maka warung ini hanya buka pada pukul 18.00 hingga 04.00 pagi saja. Posisi tepatnya ada pada koordinat S 06" 54,237' - E 112" 3,644'. Harga yang terjangkau, keanekaragaman masakan laut yang diolah dengan bumbu tradisional serta keramahtamahan dan kesederhanaan suasananya yang tak pernah sepi ini, menjadikan daya tarik tersendiri bagi para penikmat makanan eksotik.

Kare Merah Kepala Ikan Manyun & Krengsengan Gonjang GanjingBerbagai macam menu makanan tersedia di Warunge Mak Dah. Walaupun spesialisasinya pada makanan laut, tapi di sana juga menyediakan beberapa menu makanan umum, seperti ayam goreng, telor dan menu kuah sayur, sebagai pelengkap. Terdapat juga menu makanan yang bernama Krengsengan Gonjang Ganjing, yaitu berupa tumis hati, usus, rempela dan telor muda ayam (jawa : uritan). Diolah tumis kering tanpa kuah dengan memakai bumbu tradisional yang pedas, layaknya masakan khas jawa timuran. Semua bahan tercampur jadi satu dan ketika digigit, benar-benar empuk dengan bumbu yang pas meresap. Opor Ayam, Krecek Gule & Lodeh NangkaSelain itu, untuk menu makanan umum yang lain, juga terdapat Kare Kuning Ceker Ayam yang tidak pedas, Opor Ayam, Krecek Gule dan Lodeh Nangka. Untuk menu makanan laut, salah satunya adalah Kare Merah Kepala Ikan Manyun. Pengolahannya, pertama-tama kepala ikan manyun diasapi sembari diberi bumbu, baru kemudian dimasak kare. Sehingga walaupun dalam karenya itu sendiri sudah kaya dengan bumbu, tapi untuk bagian kepala ikan juga sudah mengandung aroma yang sangat menggiurkan. Rasa yang terdapat dalam kepala ikan tersebut berpadu padan melengkapi bumbu kare pedas, menghasilkan masakan dengan citarasa tradisional yang khas.

Ulas-Ulas Ikan LautTerdapat juga menu masakan Ulas-Ulas Ikan Laut. Berbagai macam ikan dicampur jadi satu dalam masakan berkuah merah ini. Ikan yang digunakan sebenarnya tak ada batasannya, tapi biasanya di Warunge Mak Dah memakai ikan tongkol, tengiri, pari dan ikan terompah. Beda proses pengolahannya jika dibanding dengan masakan Kare Merah Kepala Ikan Manyun. Pada Ulas-Ulas Ikan Laut, semua bahan baku ikan dikukus terlebih dahulu yang sebelumnya diberi bumbu dan dibungkus dengan daun pisang. Akan tetapi daun pisang pembungkusnya tidak penuh menutupi seluruh bagian ikan. Kemudian setelah proses pengukusan, tanpa melepas daun pisangnya, ikan-ikan tersebut mulai memasuki pengolahan akhir. Berbagai rempah-rempah dan cabai tentu saja, tercampur jadi satu dengan ikan yang masih terbungkus oleh sebagian daun pisang tersebut dalam kental larutan kuah merah. Rasa ikan, yang sudah diberi bumbu pada saat pengukusan bercampur kuah pedas kaya akan rempah-rempah itu, termasuk salah satu yang digemari di Warunge Mak Dah.

Bothok Telur CumiMenu pepes yang laris manis di warung ini adalah Pepes Telor Cumi. Di Tuban, menu ini lebih dikenal dengan sebutan bothok (botok). Sebutan bothok memang banyak ditemui di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di tempat lain mungkin disebut dengan pepes, walaupun sebenarnya agak berbeda. Bahan bothok pada umumnya yang khas antara lain terdiri dari kelapa muda diparut, daun-daunan (misalnya daun kemangi, daun beluntas, daun sembukan, daun lamtoro, dll) dan biasanya dicampur dengan tahu/tempe. Bahan tersebut kemudian diberi bumbu sederhana, seperti cabai, garam, merica dan daun salam, lalu dimasukkan dalam daun pisang dan dikukus. Untuk Bothok Telur Cumi disini, bahan yang dipakai benar-benar memakai telor cumi seluruhnya, bukan dicampur dengan daging cumi. Penyajiannya sendiri, setelah dilepas dari daun pisang, dengan disiram kuah kental berwarna hitam beraroma rempah-rempah yang sangat khas dan mendukung rasa Bothok Telur Cumi-nya.

Menu masakan laut yang paling digemari di Warunge Mak Dah adalah Mangut Rajungan. Rajungan adalah binatang laut yang memiliki bentuk hampir sama dengan kepiting, karena memang masih tergolong dalam satu famili. Bedanya, kepiting kebanyakan hidup di dua alam (lautan dangkal dan daratan) sedangkan rajungan hanya hidup di satu alam saja (lautan dalam). Bentuk fisik rajungan lebih ramping dengan tempurung yang bermotif, beda dengan tempurung kepiting yang polos. Sedangkan untuk rangka luar (kulit) kepiting pada umumnya lebih keras daripada rajungan. Dengan nama latin Portunus Pelagicus, rajungan sangat kaya dengan kandungan gizi. Bahkan kandungan protein rajungan lebih tinggi daripada kepiting. Antara lain karbohidrat, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin A, dan vitamin B1. Satu hal menggembirakan bagi penikmat makanan yang membatasi konsumsi pangan berlemak tinggi, rajungan-lah solusinya. Karena kandungan lemak rajungan sangat rendah, pun sama halnya dengan kandungan kolestrolnya.

Mangut RajunganPada menu Mangut Rajungan, pertama-tama rajungan direbus dan dibumbui dalam kondisi sudah mati. Karena ketika ditangkap dan dikeluarkan dari air, rajungan pasti langsung mati. Beda dengan kepiting yang masih bertahan hidup. Setelah dirasa bumbu cukup meresap dan daging sudah empuk, rajungan tersebut digoreng dalam minyak panas guna 'mengunci' bumbu yang telah meresap tersebut. Kemudian ditiriskan dan menunggu pembeli untuk menyantapnya. Penyajiannya, satu rajungan diletakkan pada piring kemudian disiram dengan kuah mangut kental dan pedas. Aroma yang menguar langsung menyerbu hidung begitu rajungan tersebut dihidangkan. Menjelajahi setiap bagian tubuh rajungan untuk menemukan daging yang empuk, gurih dan kaya bumbu, diikuti dengan menyendokkan kuah mangut dan sambal jika sekiranya kurang pedas ke atas nasi putih. Hmmm, rasanya sungguh 'menggila' saat ada di dalam mulut. Benar-benar menu masakan eksotik. Tak heran banyak pengunjung yang menggemari masakan Mangut Rajungan ini.

Dari kunjungan kami di Warunge Mak Dah, 'total damage' yang dihasilkan hanya 60rb saja. Perinciannya :
4 porsi nasi putih
1 porsi Krengsengan Gonjang Ganjing
2 porsi mangut Rajungan
1 porsi Bothok Telur Cumi
1 tempe goreng
1 telor asin
4 gelas es teh manis
1 gelas teh panas
Melihat banyaknya menu pesanan kami tersebut dan kerusakan yang ditimbulkan, kami menyimpulkan bahwa harga makanan di Warunge Mak Dah relatif terjangkau. Bagaimana menurut teman-teman? Ada yang tertarik dan sudah 'ngiler'? Hihihi.. Jika sedang berada di sekitaran Tuban, jangan lupa mampir ke Warunge Mak Dah untuk merasakan cita rasa masakan yang khas dan cukup eksotik.

photo by me

Read more...

Soerabaja Night Shots

>> Oktober 14, 2009

Soerabaja Night Shots


Soerabaja Night Shots


Soerabaja Night Shots


Soerabaja Night Shots


Soerabaja Night Shots


Soerabaja Night Shots



photo by me
DeviantArt

Read more...

Kambing Oven Bakar, Masakan Arab Khas Ampel Denta

>> Oktober 12, 2009

Depot Al MutlikSetelah sekian lama cuma bisa membayangkan bentuk dan rasa dari masakan Arab yang bernama Kambing Oven Bakar, akhirnya dalam salah satu perjalananku bersama 'teman yang aneh' sampailah kami di Ampel Denta. Ampel Denta merupakan salah satu daerah di Kota Surabaya yang mayoritas pemukimnya adalah keturunan Arab, sehingga lebih akrab disebut Kampung Arab di Surabaya. Selain juga terkenal sebagai daerah wisata ziarah makam Sunan Ampel (salah satu sunan dari Walisongo), Ampel Denta juga terkenal dengan tradisi kuliner Timur Tengah-nya. Bahkan untuk kalangan warga Surabaya sendiri, daerah ini termasuk dalam kawasan wisata makanan yang cukup ternama, termasuk salah satunya menu yang paling digemari adalah Kambing Oven Bakar-nya.

Kami berdua tiba di Ampel pada pukul 21.00, padahal dari informasi yang kami terima bahwa kebanyakan warung atau depot makan yang menyediakan masakan Arab di Ampel tutup pada pukul 22.00. Langsung saja kami menuju kawasan Jl. K.H. Mas Mansyur, yang mana mayoritas masakan Arab banyak terdapat disana. Setibanya di lokasi, kaki kami langkahkan masuk ke salah satu depot masakan yang pada saat itu ramai pengunjung. Tapi baru saja asyik memilih berbagai menu yang benar-benar menimbulkan 'laper mata', kami terpaksa terhenti. Karena mendadak diinfokan bahwa segala jenis masakan kambing di depot itu sudah habis. Waduh, masa' masakan Timur Tengah tanpa daging kambing, belum lagi bagaimana dengan menu idaman Kambing Oven Bakar-nya. Walaupun sudah terlanjur pesan Juice Kurma, akhirnya kami putuskan untuk pindah kedai setelah membayar harga minuman tersebut.

Sembari berpacu dengan waktu, kulihat sebuah kedai makan bernama Al Mutlik. Tiba-tiba aku teringat beberapa review tentang depot itu yang kutemukan saat mengumpulkan informasi dari dunia maya tentang perjalanan ini sebelum berangkat. Disebutkan bahwa depot Al Mutlik dulu sangat terkenal dengan menu masakannya, sampai masuk di acara Wisata Kuliner-nya Pak Bondan dan acara Nikmatnya Dunia dengan Fauzi Baadilllah sebagai presenternya. Akan tetapi akhir-akhir ini, dari beberapa review yang kutemukan tersebut, depot Al Mutlik telah berubah dan mengecewakan karena satu dan lain hal. Sempat ragu juga, padahal waktu terus berjalan. Aku pikir, jika harus mencari depot lain bisa-bisa keburu udah tutup. Aku minta temanku ke depot Al Mutlik dulu untuk memastikan menu berbahan dasar kambing masih tersedia, sementara aku memelototkan mata masih mencoba mencari alternatif depot lainnya. Tak berapa lama temanku balik dan mengatakan bahwa menu kambing masih tersedia. Tak kuhiraukan beberapa review yang kutemukan perihal depot itu dan segera kulangkahkan kaki menuju kesana.

Kesan pertama yang kudapat sebelum memasuki depot Al Mutlik adalah bangunan lama yang tidak terlalu luas dengan berbagai macam gambar menu makanan terpampang di depannya. Sesaat kaget juga, "Kok rada kotor ya". "Ah, mungkin lagi pada beres-beres karena waktu sudah mendekati pukul 22.00", pikirku. Tak berapa lama disodorkanlah pada kami daftar menu. Wah, tidak tercantum harga-harganya. Cuma tulisan menu makanan dan minuman saja, tidak seperti yang kami temui di depot sebelumnya yang lengkap beserta harganya. Sempat khawatir juga, takut kalau tahu-tahu dimahalkan saat membayar. Tapi tetap saja kami menggila dalam memesan makanan. Kambing Oven Bakar (1/2 kg beserta tulang), Gule Kacang Hijau Kambing, Roti Maryam, Nasi Kebuli Kambing 2 porsi dan Es Teh manis 2 gelas adalah pesanan kami, hanya untuk 2 orang. Hahaha.. Maklumlah, seharian kami puasa dan belum makan apapun semenjak berbuka.

Selain makanan yang kami pesan, di depot Al Mutlik ini sebenarnya banyak menu makanan lain yang tersedia. Antara lain Nasi Briani, Krengsengan Kambing, Nasi Goreng, Sate, Gule Merah, Soup Kambing, Rawon, Gado-Gado, Soup Buntut, Nasi Tomat dan Bubur Gandum. Untuk menu spesial kue terdapat Sambosa, Risoles, Onde-Onde, Roti Goreng Isi Kacang Hijau dan Mageli. Sedangkan untuk menu minuman yang lainnya adalah Es Manado, Senja Marinda, Es Sirup Telasih, Es Buah Luchies/Rambutan/Klengkeng/Delmonte, Fruit Cocktail, Es Joshua, Kopi Rempah Arabika, Air Korma, STMJ Terbang dan masih banyak lainnya.

Nasi Kebuli KambingBeberapa saat kemudian pesanan kami Nasi Kebuli muncul. Ditempatkan pada piring yang lebar dan pipih, terdapat seporsi nasi berwarna kuning kecokelatan, sepotong daging kambing, beberapa lalapan, sambel dan potongan cabai. Nasi Kebuli juga merupakan menu favorit masakan Arab, walaupun sebenarnya bukanlah tradisi asli masakan Arab yang seharusnya berbahan dasar utama gandum. Sedangkan Nasi Kebuli berbahan dasar beras dengan menggunakan bumbu dari berbagai rempah-rempah. Hal ini dikarenakan pengaruh masakan dari India (Gujarat) yang terkenal dengan tradisi kuliner spicy-nya. Bumbu rempah yang dipakai pada nasi kebuli antara lain adalah bawang putih, bawang merah, bawang bombai, ketumbar, jintan, cabai, cengkih, kapulaga, dan masih banyak lagi. Keberagaman bumbu yang digunakan, membuat tampilan nasi kebuli seperti nasi goreng yang berwarna kuning kecokelatan dengan rasa rempah yang sangat pekat, pedas, dan aromatis.

Gule Kacang Hijau Kambing & Roti MaryamBelum habis menyantap nasi kebuli, pesanan Roti Maryam telah disodorkan diikuti oleh Gule Kacang Hijau Kambing. Roti maryam terbuat dari tepung terigu, susu dan mentega. Masih dengan warnanya yang kekuningan di bagian tengah dan lebih gelap di sekeliling pinggirnya, Roti Maryam disajikan pada sebuah piring kecil. Roti Maryam sendiri, selain dijual di depot atau warung makan, juga bisa dijumpai di warung kaki lima memakai gerobak dengan roti yang memiliki berbagai ukuran dan topping. Untuk Roti Maryam di depot Al Mutlik ini termasuk dalam ukuran super tanpa topping. Karena memang nantinya disantap bersama dengan Gule Kacang Hijau Kambing. Sedangkan untuk Gule Kacang Hijau Kambing, seperti namanya berupa campuran antara bahan kacang hijau dengan gule kambing yang masih dengan warna kekuningannya, ditaburi dengan bawang goreng dan dihidangkan dalam mangkok sedang. Walaupun daging kambing yang disajikan tetap menyertakan tulangnya, tapi sangat empuk. Tidak perlu kita bersusah payah melepaskan daging dari tulangnya. Cukup digigit sedikit kemudian disedot dan luruhlah daging tersebut masuk ke mulut. Dengan aroma khas Timur Tengah yang kaya dengan rempah-rempah, Gule Kacang Hijau Kambing sangat cocok disantap dengan Roti Maryam.

Kambing Oven BakarMenu pesanan terakhir yang juga sangat kami tungu-tunggu adalah Kambing Oven Bakar. Tidak jauh dari namanya, menu ini adalah masakan daging kambing yang mengalami proses pengovenan sekitar dua sampai dengan lima jam sebelum dibumbui. Hal ini dilakukan dengan maksud agar dagingnya empuk dan menghilangkan bagian gajih (lemak). Kemudian daging yang sudah dioven ini dibakar sembari diberi kecap dan diolesi rombuter pada proses pembakaran akhirnya. Sebelum dihidangkan, masih dalam kondisi panas pembakaran, daging kambing ini ditaburi bubuk kapulaga. Dengan ukuran yang cukup besar, daging kambing yang bisa dimakan dua orang ini, disajikan pada piring pipih beserta lalapan serta bumbu yang terbuat dari kecap, kacang tanah dan berbagai tambahan rempah-rempah. Melalui proses oven dan bakar tersebut, menimbulkan sedikit minyak yang menempel di permukaannya dagingnya. Selain menjadi gurih, minyak tersebut juga menambah selera siapa saja yang melihatnya. Sedangkan dagingnya sendiri sangat empuk dan tidak amis. Bagi yang tidak suka makan daging kambing karena bau menusuknya yang khas, mungkin sudah saatnya mencoba menu Kambing Oven Bakar ini. Cara menyantap masakan ini dengan mencocol daging kambingnya ke bumbu yang disediakan. Perpaduan daging kambing yang empuk nan gurih beserta bumbu yang kaya dengan rempah, menimbulkan rasa yang sangat eksotik di mulut. Satu pesan kami jika memilih untuk menikmati menu ini, hati-hati jangan sampai ketagihan. Hehehe..

Oh iya, ada yang ketinggalan. Es Teh Manis-nya berbeda dari minuman kebanyakan. Seperti ada aroma wanginya, mungkin dari wangi buah kurma kalo tidak salah. Tapi sayangnya ketika saya minta tambah satu gelas lagi, dengan juteknya mbak pelayan disana menolaknya. 'Menolak', aneh tidak seh? Sepertinya ini salah satu kekurangan dari depot ini, yaitu pelayanannya kurang ramah. Atau mungkin karena sudah mendekati jam tutup, kami seperti dilayani sekenanya. "Mbak, bisa minta tolong tambah es teh manis 1 gelas lagi", kusampaikan pada mbak pelayannya yang waktu itu sedang membereskan depot karena sebentar lagi tutup. Mbak pelayan yang pada waktu itu ada dua orang saling berpandangan dan kemudian yang lebih senior, menurut saya, bilang, "Nggak bisa mas!". Kaget aku mendengarnya, padahal makanan saya masih belum habis. Beda cerita mungkin jika makan kami sudah selesai dan cuma nongkrong disitu minta tambah es teh, padahal warung sudah mau tutup. Lha ini minta tambah minum karena tenggorokan seret, karena makanan yang dimasukkan tidak berimbang banyaknya dengan minumannya. "Berarti saya ngga bisa tambah es teh lagi, mbak?" berusaha meyakinkan apa yang saya dengar sebelumnya. "Nggak bisa!!" tegas sekali. Bah.. WTF!!

Akhirnya dengan penuh perjuangan, kami selesaikan makan kami. Tibalah waktunya berhitung. Apakah kekhawatiranku jika dimahalkan menjadi kenyataan? 'Total Damage' 116rb. Waks..!! Memang aku dan temanku belum pernah punya pengalaman makan di Ampel Denta, jadi tidak akan tahu kalau itu mahal atau murah menurut rata-rata harga disitu. Tapi benar-benar kami tidak menyangka 'kerusakan'-nya bisa segitu, dengan perincian :
1 porsi Kambing Oven Bakar = 50rb
1 porsi Gule Kacang Hijau Kambing + Roti Maryam = 20rb
2 porsi Nasi Kebuli Kambing @20rb = 40rb
2 gelas Es Teh manis @3rb = 6rb
Mungkin ada teman-teman, sodara-sodara, mas-mas atau mbak-mbak yang pernah ke Ampel Denta, bisa kasih masukan perihal harga tersebut. Apakah tergolong murah atau mahal? Siapa tahu info ini nanti bisa berguna buat siapa saja yang ingin wisata kuliner ke Ampel Denta.

photo by me

Read more...

Sepenggal Perjalanan..

>> Oktober 09, 2009

Trace

leleh sudah peluhku
entah dari mana menghulu
apakah pori-pori yang merekah
atau sengat mentari di tanah rengkah
ternyata dari rindu yang mulai gundah
sudahlah, jangan biarkan mengaduh
tapi ke mana nanti peluh kan bermuara
apakah menguar begitu saja di panas udara
atau bersama jejak tak berbekas sirna
ah, ternyata berakhir sepi di relung dada

lelah sudah langkahku
mengeja rasa sakit, menyiangi sunyi
sekarang pun telah lancar kubaca perih
tak terbata-bata lagi saat merintih
tapi kenapa rindu tak jua membeku

13.00 - pantai utara jawa


sayup-sayup, di atas sebuah bus tua
segerombol pengamen jalanan memperdengarkan padaku sebuah lagu
"Lihatlah aku disini, melawan getirnya takdirku sendiri
Tanpamu, aku lemah dan tiada berarti"
Ah, terendap laraku..



photo by me

DeviantArt

Read more...

Teman Yang ANEH..

>> Oktober 07, 2009

Bali Silat Grand Master Made Sujana Balok - Kertha WisesaSebenarnya sudah sejak puasa kemarin, aku punya rencana pengen jalan. Sendirian pasti, seperti biasanya. Tapi mendadak terpikir pengen ajak teman, lumayan bisa buat support. Apalagi setelah baca blog punya Mba' Trinity tentang Teman Jalan. Aku pikir seh tidak ada salahnya juga. Maka dimulailah misi pencarian 'teman jalan' sodara-sodara. Tidak seketat kategori 'teman jalan'-nya Mba' Trinity seh, orang cuma jalan biasa kok, sekedar muter-muter ajah. Hehe.. Lokasi juga hanya sebatas Pulau Jawa, tidak sampai menyeberang laut. Apalagi hingga ke luar negeri, untuk tahun ini aku pikir seh tidak dulu. Repot harus nyiapin npwp (kalo pengen tidak bayar fiskal 2,5 juta rupiah), pasport dan bahkan visa-nya, belum lagi biayanya yang bisa waow.

Dalam proses pencarian teman jalan, muncul berbagai pertanyaan. Beberapa dialog tersebut bila dirangkum, sedikit banyak mungkin sebagai berikut gambarannya.
Calon : Wah, mo jalan? Ikut ya..
Aku : Boleh..
Calon : Kemana seh?
Aku : Ngga jauh-jauh kok, sekitaran pulau Jawa aja.
Calon : Hmm, berapa hari?
Aku : Mungkin sekitar 7-10 hari.
Calon : Hmmmm, naek apa?
Aku : Untuk kali ini aku menghindari naek pesawat. Pake jalan darat aja. Antar kota bisa naik kereta atau bus. Kalo dalam kota, lebih banyak jalan kaki.
Calon : Hmmmmmm, stay-nya dimana?
Aku : Seadanya ajah. Ada temen ya tinggal di tempat temen. Ngga ada temen ya beratapkan langit dan beralaskan bumi.
Calon : Haahhh..!!
Aku : Oh iya, kelupaan. Pas jalan, aku juga sekalian mo puasa syawal (puasa selama 6 hari yang hukumnya tidak wajib dalam agama Islam, boleh berurutan atau tidak, yang dilakukan pada bulan syawal yaitu bulan setelah Ramadhan)
Calon : kabuurrr..
Yup, begitulah kira-kira yang terjadi. Tapi ternyata ada juga satu orang teman yang tertarik dan bersedia menanggung semua dera derita akibat konsep perjalananku. Hehe..

Hingga akhirnya, diperjalankanlah kami. Melalui cuaca yang panas dan puanass buangettt. Hujan ternyata menyapa kami hanya pada saat keberangkatan. Setelah itu, ampyun deh. Kemarau melanda kerongkongan, sampai air ludah pun berasa ludes tak tersisa. Tapi tetap enjoy, menjalani apa adanya. Dan satu hal yang sangat menarik dan ingin aku bagi ceritakan disini adalah tentang teman perjalananku. Dia dulu juga suka traveling, hingga terbiasa tinggal di suatu tempat sampai beberapa lama. Jadinya dia punya banyak teman, keuntungannya bisa ada banyak tempat buat stay. Lumayan kan, hihi.. Cuma ternyata temanku itu punya suatu kekurangan, eh atau kelebihan ya? Okay, itu kekurangan atau kelebihan kita tentukan nanti saja, yaitu bahwa teman perjalananku itu orangnya 'sensitif'.

Sensitif yang kumaksud disini bukanlah perasaannya, melainkan cara dia tidur, atau lebih tepatnya cara dia bangun tidur. Dia orangnya memang mudah untuk tidur dimana saja dan kapan saja, hingga terkadang aku panggil dia 'pelor' alias nempel molor. Keuntungannya dia juga mudah utk dibangunkan sewaktu-waktu. Akan tetapi dalam proses dia bangunlah yg terdapat kendala. Aku akan coba mendeskripsikannya secara detail walaupun tidak begitu yakin bisa. Buat teman-teman yang baca ini, aku minta gunakan daya fantasi dan imaginasinya. Jika akhirnya bayangan yang tercipta jadi lebai, biarkanlah. Karena memang pada dasarnya yang dilakukan oleh temanku ini benar-benar lebai. Hehe..

Okay, kita masuk ke cerita lagi. Dengan setting temanku sedang tidur dan aku beranjak mau membangunkannya. "Sob, bangun. Lanjut lagi yuk", sambil kusenggol sedikit pundaknya. Tiba-tiba masih dalam kondisi mata terpejam, kedua tangan temanku terangkat. Tangan kanan dengan kepalan tergenggam di depan dadanya dan tangan kiri dengan kepalan terbuka meliuk-liuk juga di depan dada tapi agak jauh dari tangan kanan. "Bah! Pencak silat neh", aku membatin geli. Tapi karena istirahatnya sudah terlalu lama, tanpa berperikemanusiaan langsung lanjut bangunin dia lagi, "Hooiii sob!! Bangun dong, dah kelamaan neh!" Langsung temanku terduduk dengan kaki kiri posisi bersila setengah, kaki kanan ditekuk di depan dada, kedua tangan masih tetap sama dalam kondisi siap menyarangkan pukulan, kedua mata terbuka membelalak dengan tatapan mengintimidasi. "Sapa loe? Maling ya, rampok?! Mati loe!!" mulutnya bergumam dengan sangat jelas. "Waks! Edan!!" kaget aku. Langsung kuloncat ke belakang dan menyiapkan diri akan segala kemungkinan yang bakal terjadi. Tapi setelah itu, kami berdua hanya diam. Beberapa saat kemudian, masih dalam posisi siaga, temanku mulai bicara, "Oh, mo lanjut lagi jalannya? Ayuk buruan, diberesi gih barang-barangmu". Tanpa ada rasa bersalah ataupun perasaan aneh sedikitpun, dengan wajah yang semula ganas mendadak berubah polos. "Guubraakk!!!" langsung aku ngedrop. "Waakakaka.. Bodoohhh kau.."

Kebiasaan bangun tidur temanku ini, kepastian prosentase munculnya hingga 100% kapan dan dimana saja, tidak peduli dengan situasi dan kondisinya. Semakin biadab cara membangunkannya, semakin hancur bentuk yang muncul. Hihi.. Tapi berkat kebiasaan bangunnya lah, aku jadi punya sedikit hiburan. Jadi terkadang, eh sering ding, kalau pas lagi suntuk dengan cuaca yang panas nggak ketulungan. Ketika kita istirahat di tengah perjalanan dan temanku baru saja terlelap. Aku langsung ambil posisi di sebelahnya, pura-pura tertidur. Kemudian dengan mata agak terpejam, kucolek sedikit dia. Langsung digelarlah adegan 'film action' di sebelahku. Sambil melirik hati-hati, biar tidak ketahuan kalau lagi pura-pura tidur, kusaksikan 'scene demi scene'-nya. Tentu saja sambil menahan tawa terpingkal-pingkal melihat dia ngomong sendiri. Lucu dan unik. Hahaha..

Pada suatu saat, di siang hari nan panas. Karena bertepatan dengan hari Jumat, maka kami memutuskan mampir di masjid untuk menunaikan Sholat Jumat sembari mengistirahatkan kaki yang sudah hampir mati rasa. Kebetulan kita menunaikan ibadah di salah satu masjid tertua di kota itu, dengan bentuknya yang megah. Sehabis sholat, kita naik ke serambi di lantai dua dan berjumpa dengan angin yang membelai manja wajah kami. Baru juga berapa menit setelah ngobrol, eh temanku sudah molor. Karena masih sadar sendirian, aku coba perhatikan di sekeliling kami. Ternyata di dekatku terdapat sebuah bedug besar dan kecil. "Masih digunakan buat pertanda masuk waktu sholat tidak ya? Atau cuma sebagai hiasan saja?" aku cuma membatin sendirian dan sekilas muncul perasaan tidak enak. Tapi belum sempat menemukan jawaban, aku pun sudah tidak sadarkan diri dan terlelap. Maklum, hari itu entah sudah berapa kilometer kaki ini kami langkahkan.

Hampir sekitar dua jam, tiba-tiba aku terbangun dan melihat seorang bapak-bapak berjalan ke arah kami dan mendatangi bedug itu. Masih dengan posisi 'mengumpulkan nyawa', kulihat bapak tersebut mengambil pemukul bedug. "Tiiinngg", instingku tergugah. "Wah, gawat neh", kupaksa kesadaran kumpul secepat-cepatnya. "Duug! Duugg!! Duuggg!!! Tong! Toong!! Toonnggg!!!" mungkin begitulah gambaran suara bedug dipukul bertalu-talu oleh si Bapak. Sungguh suer, kuerasss banget suaranya. Memang karena posisi kita yang sangat dekat dengan bedug dan juga cara mukul si Bapak, bikin suaranya berasa tembus begitu saja melewati telinga dan langsung bergaung di otak kami. Perasaan tidak enak kembali menguar dan tanpa sadar, masih dalam posisi duduk, aku menggeserkan tubuh sedikit demi sedikit alias ngesot ke arah salah satu tiang beton masjid. Menyembunyikan diri dari pandangan si Bapak pemukul bedug. Mungkin insting kali ya. Karena begitu posisiku sudah di balik tiang, kulihat si teman ajaib yang tadi tidur di sebelahku langsung meloncat bangun dengan tangan kaki dan kuda-kuda siap tempur begitu mendengar suara bedug. Walaupun aku tahu, dia masih belum sadar, tapi matanya sudah melotot seperti mau keluar. "Waduh, toolong.." sepertinya mode 'full version' neh, kulihat temanku sampai berdiri dan mulai berlenggak-lenggok jurus pencak silat-nya gitu. "Pak pemukul bedug, saya ngga kenal ma dia loh" cuma bisa membatin dan menahan geli.

"Psst.. Pssttt..!!" dari balik tiang kuberi temanku isyarat. Sekilas dia melirik ke arahku. Syukurlah, dia sudah ingat ada dimana sekarang. Tapi ternyata belum sadar juga dia. "Hooiii! Berisik amat seh, ngga tau apa ada orang lagi tidur!! Mau mati loe!!!" temenku tiba-tiba berteriak ke si Bapak. "Oh mai gooddd, heeelep.." apa belum nyadar juga dia kalo sekarang sudah masuk waktu Sholat Ashar. Sampai Bapak pemukul bedug jadi bengong, bingung sendiri. Maluuu, serta merta kuambil langkah seribu, turun ke lantai satu untuk berwudhu dan menahan tawa. "Ngga kenal.. ngga kenal.. ngga kenaalll.." kuberteriak dalam hati sambil beranjak turun. "Eh sob, mo kemana? Mo wudhu ya? Ikut ah.." masih seperti biasanya ketika temanku sudah sadar, dengan tanpa ada rasa bersalah ataupun perasaan aneh sedikitpun dia mengikutiku. Meninggalkan begitu saja Bapak pemukul bedug yang masih kebingungan. Sudah tak kuasa lagi lagi kutahan tawa menyaksikan kebodohannya, "Gyahahahaahaaa..!!"

photo by Bali Silat

Read more...

Awal Perjalanan..

>> Oktober 01, 2009

Central Station

hari ini kuditemui pagi
setelah sekian lama tak sua
berkarib dingin menusuk, dan temaramnya
lahirkan bayang bibir gigilmu

pagi ini kudisapa hujan
entah sudah berapa tahun tak datang
memeluk basah bergulir, dan rintiknya
beranakkan angan elok parasmu

pada gerimisnya temaram sudut peron
di awal perjalananku lari darimu
ah, kenapa masih juga kubawa rindu?

06.30 - Central Station


ps. :
tuhan, tolong bunuh rinduku
sebelum kuterbunuh oleh waktu..



photo by me

DeviantArt

Read more...
Related Posts with Thumbnails

  © Blogger templates Romantico by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP