"Aku Mulai Berdamai, Tuhan.."

>> September 18, 2009


Menjelang akhir bulan Ramadhan, bulan puasa bagi umat muslim. Ramadhan yang tak biasa bagiku, terlalu berbeda dari Ramadhan sebelumnya. Tahun lalu kulewati Ramadhan tanpa hadirnya seseorang yang kuharapkan, karena satu dan lain hal dia harus berada pada jarak yang tak memungkinkan untuk kutebas. Hampir setengah keliling bumi ini jauhnya.
"Tapi tidak untuk Ramadhan tahun depan", batinku pada saat itu, karena aku sangat tau kalo dia sudah pulang. Berbagai keinginan bersamanya tahun depan, menggumpal menjadi satu, mengental seiring waktu, melahirkan berbagai bayang mimpi indah untukku pada saat itu. Tapi ternyata kembali aku diingatkan oleh Sang Sutradara Kehidupan, 'manusia hanya mampu berencana'. Dia memang sudah pulang, jarak yang ada pun tak lebih dari sepeminuman teh. Tapi, perasaan kami lebih jauh terpisahkan, hatinya tak mampu lagi berteduh padaku. Tak disangka, sudah ada orang lain tempat dia dengan nyaman menambatkan jiwa.

Maka, berhubung aku sendiri juga menunaikan ibadah puasa, dimulailah sebuah rutinitas baru untukku. 'Safari Takjilan' (takjilan : makanan berbuka yang disediakan oleh panitia Ramadhan di tiap-tiap masjid, dibagikan secara gratis bagi siapa saja yang mau berbuka puasa). Biasanya di bulan Ramadhan yang populer adalah Safari Tarawih. Tapi karena hobi kuliner yang semakin merajalela di bulan puasa, membuatku memilih Safari Takjilan. Hihi.. Walaupun sebenarnya bukan semata-mata karena makanan aku melakukan itu. Melainkan karena ada sesuatu yang hilang di dada ini, sesuatu yang sudah tertanam dalam, menyisakan sebuah nanar dan kerinduan tak terperi. Pada perjalanannya lah aku seraya mencari sebuah sosok seseorang dan diriku yang ikut menghilang entah kemana. Pada panas trotoar, keringnya tenggorokan, capeknya pundak memanggul 'backpack' yang selalu tak mau kalah tinggi dengan kepalaku, dan pada lelahnya kaki berjalan, kuaduk jadi satu bersama hampanya diriku memohon pengampunan-Nya. "Ajari aku cara berdamai dengan rasa sakit, Tuhan.."

Hingga pada suatu sore yang masih terasa panas, dalam salah satu perjalanan pencarianku di sebuah kota kecil. Pada sebuah serambi masjid, sehabis menunaikan ibadah Sholat Ashar. Merasakan sejuknya desir angin sembari beristirah sejenak, untuk kemudian melanjutkan langkah kakiku kembali. Aku termangu. Mataku menatap dua orang sosok manusia yang baru saja keluar dari masjid. Seorang lelaki dan perempuan yang juga baru saja menunaikan ibadah Sholat Ashar, beranjak melanjutkan perjalanannya. Sepasang suami istri ternyata, dan mereka tuna netra. Entah karena apa, tiba-tiba aku beranjak. Kupakai sepatu usangku dan serta merta kusambar backpack. Bermaksud menawarkan sedikit bantuan, kubergegas mendekati mereka, dan Ya Tuhan.. Sang suami ternyata menggendong seorang anak kecil seumuran 2 tahun memakai jarik (selendang). Langkahku memelan, masih menuju ke arah mereka dengan tak lepas pandanganku pada si anak. Seorang anak yang sehat dengan anugerah mata yang normal. Dada ini mulai sesak.

Begitu sampai di sebelah lelaki itu, kuulurkan tanganku, "Mari pak, saya bantu jalannya". Sungguh Tuhan, aku ikhlas menawarkan bantuan. Tapi dengan lembut lelaki itu memegang tanganku. "Nda usah mas, nda papa. Saya bisa kok. Saya sudah biasa". Dan kemudian menurunkan tanganku di tempat semula sambil mengulum senyum. Si anak memandangku, memperlihatkan wajah lugunya. Tak kuasa aku terdiam, bukan karena kecewa. Tapi rasanya semakin sesak saja, gumpalan di dada ini membesar. Dan ah, mulai mengalir ke atas. Kerongkonganku tercekat. Begitu tersadar, lelaki dan anaknya sudah berjalan melalui tempatku berdiri dan istrinya masih di belakangku menyusul suaminya.

Sesaat sang istri dengan bantuan tongkatnya, melewatiku. Dia juga tersenyum padaku. Seakan sunggingan bibirnya mengucapkan terimakasih untuk bantuan yg tadi kutawarkan pada suaminya. Dan raut mukanya menyampaikan maaf padaku agar aku tidak terlalu mengkhawatirkan mereka. Langsung kurogoh kantong celanaku dan memberikan rejeki yang aku punya, walaupun hanya sekedarnya.
"Jangan mas, buat mas saja. Mas juga butuh untuk di perjalanan kan", wanita itu mencoba untuk menolak dan menyorongkan tanganku kembali. Hmff.. Nafasku tersenggal. Dan gumpalan ini, ahh masih mencoba naik ke mataku.
"Nda papa bu, tolong diterima ya. Sungguh saya ikhlas. Ini rejeki dari Allah". terbata-bata mulutku berkata. Aku tidak tau harus berkata apa lagi jika wanita itu masih menolaknya.
"Baiklah mas, terimakasih banyak. Semoga Allah mengganti rejeki mas". Dengan tulus wanita itu mengucapkannya, dan beranjak menjauh dariku.
"Amien bu, amien". Sembari kulihat wanita itu berjalan tertatih. Suaminya ternyata berhenti untuk menunggu dan melihatku. Lelaki itu masih dengan senyumannya dan menganggukkan kepala berterimakasih.
"Tidak pak, saya lah yang berterimakasih", batinku sambil membalas anggukan kepalanya.
Sang anak dalam gendongan bapaknya, melambaikan tangan padaku. Kemudian mereka berjalan bersama, dan mataku buram. Ada yang menggenang di pelupuknya.

Mereka sepasang suami istri yang mendapatkan kekurangan nikmat dalam hal penglihatan dari Tuhan. Tapi mereka sungguh kaya. Jauh lebih kaya dari para konglomerat di negara ini. Mereka sungguh mensyukuri nikmat apa adanya. Tak ada rasa kekurangan di hati mereka. Tak ada sedikit pun keraguan pada Tuhan. Bahkan pada beratnya perjalanan yang harus mereka tempuh, tak lalai menunaikan ibadah dan mengucap syukur pada-Nya. Dan satu hal yang memenuhi benakku pada saat itu, bagaimana dengan sang anak. Nanti, ketika beranjak dewasa, ketika kebutuhan akan pendidikan mulai menyapa. Apakah mereka mampu mendapatkan biaya untuk sekolahnya? Dan jika sang anak sudah sekolah, dengan kondisi penglihatannya bagaimana mereka bisa membantu membimbing belajar setiap malam? Aduh, sudah sudah.. Tak mampu aku menahan liarnya bayang pikiranku. Belum lagi jika nanti sang anak ditanya oleh teman-teman sekolah perihal orang tuanya. Bagaimana dia harus menjawabnya?

Kulihat lagi, mereka sudah mulai menjauh dan mengecil dari pandanganku. Mataku sudah kembali jelas, tidak buram lagi. Tapi ada yang mengalir hangat di kedua sisinya. Getir dan pilu merambati tiap jengkal tubuhku. Kuterduduk di sisi trotoar jalan. Kupanjatkan permohonan untuk-Nya. "Tuhan, tolong jaga mereka. Tolong pelihara syukur nikmat mereka, seperti sudah Kau pelihara udara buat kami bernafas. Tolong jangan tinggalkan mereka, Tuhan. Bimbing mereka menjalani hidup. Cukupkan kebutuhan mereka, seperti Kau cukupkan curah hujan pada tiap kering tanah di bumi ini"

Sejenak setelah berpasrah akan nasib mereka kepada Sang Pemberi Hidup, aku pun beranjak. Kulangkahkan kaki melanjutkan perjalananku. Tak sia-sia aku memutuskan untuk selalu berjalan kaki menjalani rutinitas baruku ini. Karena aku pikir, dengan berjalan kaki kita akan menemukan dan melihat banyak hal yang tak akan bisa didapatkan jika menggunakan kendaraan. Walaupun harus lelah, tapi aku selalu yakin itu sepadan dengan berbagai pelajaran hidup yang kan ditemui. Masih belum kering benar sudut mata ini rasanya, tapi hmm.. hari ini buka puasa pake apa ya? Hehe..

"Tuhan, terimakasih banyak masih bersedia menemani langkahku. Masih membuka hatiku dan tidak meninggalkanku dalam kekufuran. Terimakasih sudah mengajarkan kembali padaku arti berserah dan syukur nikmatmu. Aku mulai berdamai, Tuhan.."

Sepatu usang pun kembali bergerak menginjak debu aspal jalanan.
"Toeett toeettt!!! Woii, kalo jalan kaki minggir dong!!"
Waaakss, kageeeeettt.
"Iye, iyeee.. Ni dah minggir, sono lewat gih!! Dasar, mentang-mentang.."
Aduuhhh, sabar sabaarrr..
Ah, manusia memang jauh dari kata sempurna.

Read more...

#35 : Such a Loss..

>> September 16, 2009



munsu : may I.. hold you?
             .. seeing you, forces a worthless old memory to surface.
             still.. some memories choose to remain deeply buried..
             like the way a woman's shoulder feel..

woman : were you reminded.. of your first love or something?

munsu : what I had.. wasn't love..
             what I had.. was an illusion, that is all..
             between friendship.. and reality..
             an impermissible dream..
             wich I lost.

woman : where is she.. now?

munsu : ...
             ..
             she does not exist..
             in this world I breathe in.


-----

munsu : sando.. I don't like women.
sando : why?
munsu : they're only women..
             but they're too strong.

manga's dialog of Shin Angyo Onshi vol5ch10 title Nongae

Read more...

Blog Award

>> September 10, 2009


Waduuhhh (baca : senengnyaaaa), blog pohon dapet award. "My first precious award" neh. Siang-siang lagi numpang mampir di mbakayune QueeniieAngeLa, eh malah dikasi award. Waaaaa.. (baca : senengnyaaaa lagiiii). Makasi banget ya mbake. Hehe.. Bener-bener neh selama nulis di blog, baru kali ngerasain dapet award. Jadi flowering hatiku *haaalah..

Okay, kata mbake ni award harus diteruskan lagi ke 10 orang teman. Maka dari itu sodara-sodara, award ini saya persembahkan teruntuk :
  1. 2ndChoices
  2. Santi Zaidan
  3. Penjual Kenangan
  4. Ruang Sunyi Malam
  5. Ruang Rindu
  6. Tukang Seduh
  7. Ezrasatya Mayo
  8. Biru Langit
  9. Gerimis Kecil
  10. Aulia A. Muhammad
Yang selanjutnya ke-10 temen di atas harus meneruskan award ini untuk 10 orang temennya ya.. And then, guna memperbanyak backlink, para penerima award tersebut harus meletakkan 10 buah link berikut ini :
  1. Rizky
  2. kupu.miss.oemang
  3. shulayman
  4. imenoreh
  5. Juragan jengkol menuntut balas
  6. cilpilicious
  7. Enno
  8. Ajenk
  9. Queeniie Angela
  10. Pohonku Sepi Sendiri
Dengan aturan sebagai berikut :
sebelum kamu meletakkan link di atas, kamu harus menghapus peserta nomor 1 dari daftar. Sehingga semua peserta naik 1 level. Yang tadi nomor 2 jadi nomor 1, nomor 3 jadi 2, dst. Kemudian masukkan link kamu sendiri di bagian paling bawah (nomor 10). Tapi ingat ya, kalian semua harus fair dalam menjalankannya. Jika tiap penerima award mampu memberikan award ini kepada 5 orang saja dan mereka semua mengerjakannya, maka jumlah backlink yang akan didapat adalah
Ketika posisi kamu 10, jumlah backlink = 1
Posisi 9, jml backlink = 5
Posisi 8, jml backlink = 25
Posisi 7, jml backlink = 125
Posisi 6, jml backlink = 625
Posisi 5, jml backlink = 3,125
Posisi 4, jml backlink = 15,625
Posisi 3, jml backlink = 78,125
Posisi 2, jml backlink = 390,625
Posisi 1, jml backlink = 1,953,125
Dan semuanya menggunakan kata kunci yang kamu inginkan. Dari sisi SEO kamu sudah mendapatkan 1,953,125 backlink dan efek sampingnya jika pengunjung web para downline kamu mengklik link itu, kamu juga mendapatkan traffik tambahan.
Nah, silahkan copy paste saja, dan hilangkan peserta nomor 1 lalu tambahkan link blog/website kamu di posisi 10. Ingat, kamu harus mulai dari posisi 10 agar hasilnya maksimal. Karena jika kamu tiba2 di posisi 1, maka link kamu akan hilang begitu ada yang masuk ke posisi 10.


Yak, begitulah penjelasannya teman-teman. Mohon jangan sungkan-sungkan untuk meneruskan award-nya ya. Have a nice fate.


ps : this award, such an oasis in the desert of my loneliness. Thanks again, mbake..

Read more...

#28 : Iya, pernah. Dan aku HILANG..

>> September 09, 2009

Beginning Day One: hate,love,betray,stupid...LIES
Kemanakah arah cinta menuju? Melewati lembah dan tebing yang curam, mengajak terbang ke puncak langit, menyelam ke palung samudra tanpa dasar. Nyanyianya terus menaungi siang dan malam, dendanganya terus terdengar oleh rembulan dan mentari. Sesukar apapun perantaranya ia tak akan berahir sia-sia..

Pernahkah kau mencintai seseorang..
Sedemikian dalamnya. Sedemikian sengit, sedemikian agungnya. Melebihi berbagai cinta yang pernah kau temui sebelumnya, bahkan hingga kemudian hari. Membuatmu menjadi manusia lancang, yang berani memastikan bahwa pada masa depan perjalanan hidupmu nanti, tidak akan pernah ada yang bisa menandingi cintamu sekarang ini.
Sedemikian kuatnya. Sedemikian alot, sedemikian teguhnya. Melebihi kerasnya lubuk hati yang terdinginkan oleh luka. Membuatmu menjadi manusia sombong, yang berikrar 'tuk melakukan apa saja, bahkan jika harus menghadapi seluruh dunia demi kebahagiannya denganmu.
Sedemikian indahnya. Sedemikian membuai, sedemikian bersahaja. Membuatmu rela kehilangan apapun yang sudah kau dapatkan selama ini, demi ada di sisinya. Mampu berkorban untuknya, bahkan menukar seluruh sisa hidupmu dengan sekejap saat bersamanya.
Pernahkah??

Pernahkah kau..
Setelah berbagai impian yang tertulis dalam anganmu dengannya. Setelah berbagai tangis dan tawa yang menghiasi waktumu bersamanya. Setelah berbagai pertempuran dengan dunia demi tetap berdiri di sampingnya. Setelah berbagai kehilangan yang kauikhlaskan untuk selalu ada baginya.
Dia yang merupakan satu-satunya alasan kau masih tetap ada, akhirnya pergi dengan seketika.

Dia yang mengenalkanmu pada sebuah harap, membujukmu merengkuh mimpi dan menguatkanmu dalam lelah perjuangan meraihnya, akhirnya meninggalkanmu dalam kekosongan.
Dia yang selalu meyakinkan tuk tetap ada bagimu dan berlindung di balik tegarmu walau sekeras apapun angin menerpa dan selebat apapun badai menyapa, tak menyisakan jejak untuk kau raih.
Dia yang pernah menerima kau apa adanya dan kemudian berubah muak atas nama sebuah 'kebohongan' hanya karena untuk sebuah waktu melepas rindu, dengan sengaja menghilangkan dari semua pencarianmu, demi melakukan yang dia sebut sebagai sebuah 'kebohongan', berkali-kali dengan seseorang yang lain.
Bahkan untuk mencintai dan merindukan dalam diam pun, tak terijinkan olehnya.
Dia yang sedemikian kau cinta, mengingkari seluruh keberadaanmu.
Pernahkah??

Pernahkah kau merasakan kengerian yang mencekam..
Yang datang tiba-tiba, melingkup di seluruh tubuh. Tanpa isyarat, tanpa tanda-tanda. Bagai teriakan perintah, keras dan membahana. Menyuruhmu untuk seketika berhenti bernafas, disaat dia telah menjadi udara yang kau hirup dan hembuskan setiap saat.
Pernahkah kau menerima keputusasaan yang mencekik..
Yang bagai lumpur dengan dahsyatnya menghisap semua harap dan mimpimu dengannya tuk hidup bersama di sepanjang usia. Mendekapmu sangat erat, hingga tak kuasa lagi untuk meronta. Hanya menyisakan kehampaan sebagai tempat buatmu mengejang.
Pernahkah kau mengalami penderitaan yang terdalam..
Yang selalu mengingatkanmu padanya, dalam tiap detik waktu yang harus kau bunuh dan tiap mili kakimu melangkah. Menyambar setiap bagian otakmu, tempat kautorehkan kebersamaan dengannya, tak kalah cepat dari kilat. Membakar hingga sudut tak terjamah hatimu, tempat kau simpan berbagai cinta yang kan kau persembahkan hanya teruntuknya hingga hidupmu sirna suatu hari nanti.
Pernahkah kau menjalani kesengsaraan yang terkelam..
Yang menjadi satu-satunya tersisa dalam cerita cintamu dengannya. Tak diinginkan dan diharapkan, tapi tetap saja hanya itu pemberian terbaik olehnya. Tak tertolak dan terabaikan. Tanpa dapat kauadukan, tanpa dapat kau bagi. Hanya bagi dirimu, dan tentu saja spesial untuk hidupmu. Sebagai peninggalan terindah dari kepergiannya untuk menjalani kisah dengan seseorang.
Pernahkah??

Setelah sekian lama mencarimu, kusadari bahwa hidupku ikut hilang bersamamu.

photo by abmist|sepx

Read more...

Love Hurts?

>> September 06, 2009

- love hurts -
"Why are you mad right now?"
Because you're hurting me
"No. You're hurting yourself"

I've stood when standing was not easy,
and have found something to believe in.
Something worth fighting for.


(Movie’s dialog of Street Fighter: The Legend of Chun-Li)

photo by splaine_7

Read more...
Related Posts with Thumbnails

  © Blogger templates Romantico by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP