kepada siapa aku bisa mengadu
tuhan sayang, tolong peluk aku
aku rindu..
photo by [rotten apple]
Read more...
Kurindukan Dendam
>> Juli 18, 2009
sudah berapa pagi kulalui
melonjak terduduk merengkuh sunyi
mengingat sosokmu senantiasa hadir
di setiap jalinan mimpiku, tadi
terseok-seok memunculkan rindu
kukeluhkan pada bisunya dinding kamar
kukesahkan di kerasnya pembaringan
kusudahi selalu dengan melafalkan namamu
diiringi sedu sedanku berlinang
kelak, saat kau singgah lagi dalam mimpiku
mungkin takkan ada lagi airmata gugur
sebab duka telah kering dan rindu selesai dibekukan
menyisakan dendam yang kian membuncah
menguar pada setiap udara yang kuhirup
meradang pada sela jalanku hidup, selalu
menanti disajikan hanya teruntuk dirimu
dingin dan tanpa ampun
Revenge is a Dish Best Served Cold
(Movie’s tagline of Kill Bill)
photo by 11Rue
Read more...
kelak, saat kau singgah lagi dalam mimpiku
mungkin takkan ada lagi airmata gugur
sebab duka telah kering dan rindu selesai dibekukan
menyisakan dendam yang kian membuncah
menguar pada setiap udara yang kuhirup
meradang pada sela jalanku hidup, selalu
menanti disajikan hanya teruntuk dirimu
dingin dan tanpa ampun
Revenge is a Dish Best Served Cold
(Movie’s tagline of Kill Bill)
photo by 11Rue
Label:
whispering words
10 Things I Hate About You
>> Juli 16, 2009
I hate the way you talk to me
and the way you cut your hair.
I hate the way you left me here,
I hate it when you stare.
I hate the way you pretend to care
and the way you read my mind
I hate you so much it makes me sick
it even makes me rhyme.
I hate the way you're always right,
I hate it when you lie.
I hate it when you make me laugh
even worse when you make me cry
I hate it that you're not around
and the fact that you didn't call.
But mostly I hate the way I don't hate you
not even close, not even a little bit,
not even any at all.
(Movie’s poem of 10 Things I Hate About You)
photo by A.J .. !!
Read more...
and the way you cut your hair.
I hate the way you left me here,
I hate it when you stare.
I hate the way you pretend to care
and the way you read my mind
I hate you so much it makes me sick
it even makes me rhyme.
I hate the way you're always right,
I hate it when you lie.
I hate it when you make me laugh
even worse when you make me cry
I hate it that you're not around
and the fact that you didn't call.
But mostly I hate the way I don't hate you
not even close, not even a little bit,
not even any at all.
(Movie’s poem of 10 Things I Hate About You)
photo by A.J .. !!
Label:
quote
>> Juli 07, 2009
Pernahkah kau merindukan seseorang dan merasa menderita karena kau pikir dia tidak merindukanmu. Merindukan seseorang memang sangat menyakitkan, tapi di satu sisi itu adalah perasaan yang indah. Kau akan bingung kesana kemari membayangkan apakah kau adalah seseorang yang berarti untuknya. Berpikir apakah dia peduli denganmu. Langsung menyambar telepon ketika berbunyi, berharap itu darinya. Selalu melihat ke luar berharap dia akan datang mengejutkanmu. Duduk di depan televisi tapi selalu memikirkan dia, tak peduli telah melewatkan adegan terbaik dalam film favoritmu.Kaubaringkan tubuhmu dan memikirkan saat-saat terakhir waktu yang telah kau lewatkan dengannya. Membayangkan betapa indahnya duduk di bawah bintang, membicarakan impian, rencana dan masa depan dengannya. Login ke internet, berharap menemukannya sedang online. Ketika dia tidak online dan tidak membalas emailmu, kau mulai mengkhawatirkan dia apakah dia baik-baik saja. Merindukan seseorang adalah salah satu cara untuk dewasa. Hal itu akan menyingkapkan padamu arti sebuah kesepian. Mengajarkanmu bagaimana cara mengatasi kesendirian dan mengenalkanmu pada sebuah perasaan yang bernama kekosongan.
Terkadang sangat indah untuk merindukan seseorang. Kau akan sadar bahwa kau benar-benar peduli dengannya serta terlarut dalam perasaan cinta dan kasih sayang untuknya. Tapi merindukan seseorang tanpa mengetahui bahwa dia juga memilik perasaan yang sama denganmu adalah sangat menderita. Kau merasa seperti ditinggal sendirian. Maka jika kau merindukan seseorang, katakanlah dan biarkan dia tahu perasaanmu. Tanyakanlah apakah dia juga merindukanmu. Jangan biarkan perasaan kehilangan menjadikanmu cemburu dan gila karena kecewa. Jika kau tau bahwa kau adalah seseorang yang sedang dirindukan, sampaikan ke dia bahwa kau juga merindukannya. Jangan biarkan ini menunggu..
photo by tatafofie
Label:
soul searching
Wanitaku sayang..
Kau adalah keajaiban yang terindah
Ingatlah
Jika kau inginkan sesuatu di hidupmu
Gapai dan raihlah..
Happiness only real when shared
photo by Monroe Broadway ~ ON VACATION
Read more...
Kau adalah keajaiban yang terindah
Ingatlah
Jika kau inginkan sesuatu di hidupmu
Gapai dan raihlah..
Happiness only real when shared
photo by Monroe Broadway ~ ON VACATION
Label:
treemunk
Kisah di Penghujung Harapku
>> Juli 04, 2009
Di pagi hari menjelang siang pada kursi depan sebuah mobil, seorang lelaki sedang mengendarainya dan anak kecil, seumuran 2-3 tahun lah kira-kira, duduk disampingnya sedang tertawa bahagia sambil bicara dengan sebuah telepon genggam. Tak lama diserahkannya telepon itu pada lelaki untuk kemudian ditutupnya.Tiba-tiba si anak bertanya, "Ayah, matanya kok meyah (merah)? Ayah kenapa?"
"Nda papa nak, tadi baru aja ada debu masuk mata ayah." Kaget lelaki yang dipanggil ayah itu menengok kesamping melihat si anak lagi memperhatikannya. Dan menjawab pertanyaan itu dengan kebohongan. Mana ada debu bisa masuk kendaraan yang pintu dan jendelanya tertutup rapat.
"Tapi kok mata ayah jadi keluan (keluar) ainnya (airnya). Ayah cakit?" Masih juga si anak bertanya.
Aahh nak, belum tau banyak kamu tentang rasa sakit. Lelaki itu cuma membatin.
"Dulu mataku juga peynah lo yah, kemasukan debu. Teyus aku nangis. Abis cakit."
Iya nak, ayah percaya sakitmu. Ayah juga punya sakitnya sendiri, yang mungkin memang hanya ayah yang tau. Masih diam saja lelaki itu sambil tersenyum.
"Teyus yah, kemayin waktu aku jatuh. Cakit banget lo yah. Kakiku sampe keluan (keluar) dayahnya."
Saat kita harus jatuh memang rasanya menyakitkan nak.
"Kamu nangis nak?" tanya lelaki.
"Iya yah, nangis. Teyus kakiku dikasih betadin to ma ayah. Tapi aku nda mau."
Terkadang sekuat apapun manusia, memang butuh menangis dalam rasa sakit, nak. Mungkin untuk mengingatkan pada diri sendiri bahwa dalam hidup juga ada rasa sakit. Dan untuk melarutkannya bersama air mata. Lalu lelaki itu bertanya lagi, "Kenapa nda mau dikasih betadin? Kan biar cepet sembuh?"
"Abis cakit kalo dikasih betadin yah." si anak mengadu.
Nak, jika kita mau pulih dari rasa sakit memang butuh obat untuk menyembuhkannya. Dan obatnya itu memang tak lebih ringan dari rasa sakit itu sendiri. Bahkan terkadang lebih berat.
"Siapa bilang dikasih betadin sakit? Nda sakit kok. Apalagi kalo yang ngasih ayah, nda kerasa tau-tau dah sembuh. Kan nanti kalo cepet sembuh, kamu bisa maen lagi nak. Nda papa ya, dikasih betadin? Nurut ma ayah ya?” Sedikit merayu lelaki itu ke anak.
“Beneyan nda cakit yah?” masih ragu-ragu si anak.
“Beneran nak. Kan ayah nanti yang ngasih.”
“Oke yah. Tapi pelan-pelan ya.” Mengangguk juga akhirnya dia.
Siapa orang yang diharapkan membawa penawar bagi rasa sakit kita, juga menjadi penyembuh yang tak kalah ampuhnya dari obat itu sendiri.
“Ayah..”
“Iya nak.”
“Ayah juga jangan nangis. Tu maci ada ainnya (airnya) keluan (keluar) dayi mata ayah.” Sambil si anak melihat lekat-lekat ke lelaki.
Kaget lelaki itu. Tak sadar masih ada sesuatu yang menetes dari matanya. Sebisa mungkin ditahannya sesuatu yang menyesakkan dada itu, demi agar tidak ada lagi setetespun yang keluar.
“Iya nak, ayah nda papa kok.” Tercekat sudah suara lelaki merangkak keluar dari mulutnya.
“Aku kasih betadin matanya ya yah? Bian (biar) cepet cembuh. Kalo aku yang ngasih nanti nda cakit kok yah. Tapi nda bawa betadin ya yah?
Ahh nak.. Diam saja si lelaki. Tak mampu dia menjawab pertanyaan si anak. Hancur sudah benteng pertahanan yang telah dibangun sedikit demi sedikit tadi, demi agar si anak tidak melihat kesedihannya. Luluh sudah tenaganya. Rebah sudah ketangguhannya. Sekejap sirna tak berbekas.
Tepat mobil yang dikendarainya terhenti oleh lampu merah di sebuah perempatan.
“Nak, sini peluk ayah.” Pinta lelaki itu.
Si anak cuma terdiam bingung kenapa tiba-tiba lelaki kuat itu minta dipeluk.
“Sini nak, peluk ayah. Besok nda ayah temeni mandi bola lagi loh.” Sambil tersenyum.
Si anak ketawa, beringsut dari duduknya. Berdiri di kursi mendatangi lelaki dan memeluknya.
Ahh nak, menahan sesuatu itu ayah kira nda akan seberat ini. Tapi ternyata lebih menyesakkan dari yang ayah kira. Bagikan ayah senyum polos dan ringan hatimu. Ajarkan ayah ketulusanmu menyayangi orang lain yang mungkin telah ayah lupakan. Tunjukkan cinta kasih murnimu pada seseorang yang ingin slalu menjagamu. Sepersekian detik pelukan itu diberikan pada lelaki yang terus memejamkan mata menahan sedihnya. Tapi bagi lelaki, waktu bagaikan berlalu tak sesingkat itu.
“Cun ayah, nak.” Pinta lelaki.
Diciumnya pipi kiri lelaki itu.
“Satunya juga dong.”
Pipi kanan pun tak luput dari bibir polosnya.
“Terima kasih nak.”
“Sama-sama yah, yuu welkom (you’re welcome).”
Maafkan ayah ya nak. Ayah baru saja kehilangan impian.
Kisah tulus di penghujung harapku dan awal hari-hari indahmu.
photo by Childrens Book Review
Label:
runaway's journey
Lonceng bukanlah lonceng sebelum dibunyikan.
Lagu bukanlah lagu sebelum dinyanyikan.
Hidup bukanlah hidup sebelum diperjuangkan.
Rindu bukanlah rindu sebelum dipertemukan.
Cinta bukanlah cinta sebelum dipersembahkan.
photo by Bu_Saif
Read more...
Lagu bukanlah lagu sebelum dinyanyikan.
Hidup bukanlah hidup sebelum diperjuangkan.
Rindu bukanlah rindu sebelum dipertemukan.
Cinta bukanlah cinta sebelum dipersembahkan.
photo by Bu_Saif
Label:
quote
Moaning Tree Over The Moon

Should I rest now?
Or do I have to stay awake?
Right under the moonbeam
Just like the flower
Blossom for another season
Only to die for another day
photo by me

Label:
whispering words
Derita Manusia Lemah
Kita, manusia, memang makhluk yang lemah. Terlalu banyak merasa. Terlalu banyak menemui derita. Karena memang hanya manusialah yang dikarunia hati, rasa atau kalbu. Jangan pernah merasa di dunia ini, kita dikarunia derita lebih dari yang lain. Manusia masing-masing memiliki deritanya sendiri-sendiri, yang pastinya sudah ditakarkan dengan sangat adil oleh Sang Pembagi Yang Maha Tahu, dengan caranya yang serba rahasia dan takkan pernah bisa kita, manusia, mengertinya.Seorang anak kecil, seumuran 2 tahun katakanlah, yang bagaikan "malaikat kecil" kita, sedang berlari-lari dan tiba-tiba terjatuh. Dengan kaki berdarah dia menangis sekeras-kerasnya. Itu menjadi bagian deritanya, saat itu. Atau seorang lelaki dengan sebuah cinta yang telah menjadi bagian dari hari-harinya harus merelakan dengan sangat terpaksa untuk orang lain. Tak enak makan, tak enak tidur, murung termenung dengan malam hanyalah menjadi sebuah siksaan, bagai hidupnya telah berakhir. Itu pun menjadi bagian dari deritanya, saat itu. Lalu bagaimana dengan kelaparan, kemiskinan, perang, dan masih banyak lagi lainnya. Itu juga bagian dari penderitaan kita sebagai manusia. Kita sendirilah yang menentukan besar kecilnya sebuah penderitaan. Karena "Tuhan tidak akan membawa kita sejauh ini hanya untuk meninggalkannya".
Maap jika malam ini saya terlalu sentimentil. Melantur nulis tentang derita yang mungkin buat saya juga bukan hal yang mudah untuk dihadapi. Berat, dan memang berat. Bukan sebuah hal yang mudah jika kita harus mengikhlaskan derita untuk tetap maju ke depan. Terkadang apapun itu penyebab deritanya, harus bisa dilupakan dan dihilangkan. Walau sungguh sangat menyakitkan.
photo by S. Lo
Label:
soul searching
"Hidup ini indah" Kata mereka..
>> Juli 03, 2009
Masih di malam yang sama. Malam yang hitam, bukan hanya gelap, buatku. Yang pasti tidak sama dengan malam-malam mereka. Malam dimana mereka sedang bercanda dengan orang tua dan saudara, bergosip ria dengan teman, malam mereka buat jalan-jalan, yah jalan-jalan sekedar window shopping-lah, makanlah ato nonton film di bioskop mungkin. Dan yang pasti bukan malam milik mereka yang sedang malu-malu berbincang dengan penuh penasaran dan kasih sayang. Karena malamku, malam yang hitam, sepi sendiri dan sunyi. Malam yang berantakan, seperti suasana hatiku ini sejak berhari-hari yang lalu.Sekarang pun masih sama. Kulewati malam dengan sangat terpaksa. Waktu pun rasanya tak segera beranjak. Beda dengan waktu buat mereka yang sedang bahagia, rasanya tak terasa dah di penghujungnya. Melakukan apa saja buatku seakan tak berarti malam ini. Bahkan melakukan sesuatu yang menjadi kegemaranku. Semua seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri, masuk mata kanan keluar mata kiri (halahh..). Tidak ada satupun yang bisa menentramkanku. Gelisah, gundah, dan makin berantakan. Malas ngapa-ngapain. Tak bersemangat. Lemah. Mungkin rasanya masih lebih baik dari orang sakit tak sadarkan diri berbulan-bulan yang tak punya gairah untuk bangkit lagi.
Sedangkan perasaanku. Mungkin lebih parah kurasa. Ada yang menekan dada ini, sesak. Terkadang pedih bergantian dengan nelangsa, muncul bergantian. Tak berhenti dan berulang-ulang. Sebuah pesan, baru saja masuk dari seseorang yang kuharapkan. Aku senang, sesaat. Tapi setiap mengingat dia, ato lebih tepat lagi perbuatannya. Langsung sakit yang akut melanda nda karuan. Ampun sudah. Tempat mengadu pun tidak ada. Apalagi untuk berbagi. Hanya aku, dia dan tentu saja Tuhan Sang Sutradara Maha Besar yang tau.
Pernah aku membaca tulisan seorang teman yang kukenal tapi mungkin dia tidak mengenalku :
"Saya bukan mau minta maaf, karena bukan waktunya menghakimi siapa yang salah.. tapi sejujurnya saya menyesal.. Saya menyesal karena dia harus merasa kecewa.. menyesal karena dia jadi harus bertanya.. Menyesal karena saya gagal menjaga perasaanya.. Saya menyesal karena dia menahan marah.. walopun dia mengatasi marahnya dengan baik, sangat baik malah.. Dia menghargai perkataan saya, menghargai perasaan saya.. Malahan saya yang jadi lebih emosi ;p Saya marah karena saya tau sebenarnya dia lebih marah lagi.. Menahan sesuatu itu pasti berat, pasti ga nyaman, pasti sakit.. dan saya marah untuk ketidaknyaman dan sakit yang dia tahan.."
Waow, sebuah pengakuan sangat lugas. Sebuah introspeksi diri yang sangat jujur. Diluar tulisan itu nyata ato nda, tapi membuatku kagum.
Kita tidak pernah menyadari kapan pastinya kedatangan seseorang dalam hidup kita, yang kemudian mengisi hari-hari kita dengan tawa, canda, bahagia atau bahkan pilu dan sedih. Kita pun masih tidak menyadari sejak kapan orang itu telah menjadi bagian dari setiap detik nafas yang kita hirup dan hembuskan. Tapi kita tahu pasti kapan orang itu akhirnya telah pergi. Dengan penuh sesal dan kata terlambat. Seperti sebuah kata bijaksana, "kau takkan pernah tau kapan akan jatuh cinta, tapi akan selalu ingat kapan kau kehilangan."
Kita memang mahluk tidak sempurna hidup di dunia yang tak sesempurna yang kita kira. Kita dibekali waktu oleh Sang Sutradara untuk dimaknai dan diisi. Banyak orang berkata, hidup adalah perjuangan. Perjuangan mencari nafkah, mengejar cita-cita atau mewujudkan impian. Ada juga yang bilang, hidup adalah kehilangan. Kehilangan ditinggal mati, ditinggal kekasih hati atau kehilangan jati diri dan akal sehat. Buatku, saat ini, jujur, hidup adalah siksaan. Yang tidak bisa kulalui untuk memaknai waktuku lagi. Yang walau aku bersedia melakukan apapun juga tetap tidak bisa kurengkuh untuk menggapai mimpi. Bukan sebuah contoh ideal buat mereka-mereka yang menikmati hidup.
Anyway.. Apakah terlalu berlebihan jika kuminta pada Sang Sutradara untuk menghentikan saja waktuku?
"Hei.. Hidup ini indah!!" Kata mereka.
Iya memang, untuk kalian.
Tapi untukku?
photo by Massimo Valiani
Label:
discouragement,
loneliness
>> Juli 02, 2009
dua hal di dunia ini yang bisa
merubah hidup seseorang
berbalik 180 derajat;
cinta dan
kematian..
photo by briansphotopage
Read more...
merubah hidup seseorang
berbalik 180 derajat;
cinta dan
kematian..
photo by briansphotopage
Label:
quote
Lelaki : "Aku Hilang, Kalbu"
>> Juli 01, 2009
Pernah, pada saat kerlap terang jauh beranjak dan gelap pun menua. Di sebuah rumah berderik yang seakan runtuh hanya dengan satu tiupan saja, yang dibangun dari angan dan mimpi, berhiaskan harapan milikkku dan wanita. Aku mendatangi sebuah kalbu yang masih juga terjaga di pojok ruangan. Di salah satu sudut terhidup rumah, tempat tersimpan kenangan terindah, kasih sayang tertabah dan cinta yang takkan pernah kehilangan arah. Disela-selanya berbagai potret wanita dengan berbagai gaya, memang centil wanitaku itu jika sudah tentang kamera foto, cantik lagi parasnya, tak henti-hentinya kukagumi, selalu."Selamat malam, kalbu. Bagaimana kabarmu?" Ucap salamku.
"Selamat malam, lelaki. Mau apa kau kesini? Kau pun tau aku tidak baik-baik saja. Kenapa masih kau tanyakan juga?" Balasnya sambil bertanya.
"Aku tau, kalbu. Maafkan aku. Kuminta kau jaga kenangan, kasih sayang dan cinta wanita, tapi malah derita yang kukirimkan untukmu."
"Dulu kau juga pernah sekali melakukannya padaku, lelaki. Tidakkah kau tau, seberapa kuatnya aku mencoba bertahan saat itu? Sampai akhirnya kita masih bisa hidup hingga kini. Tapi coba lihatlah sekarang. Akibat derita yang kau kirimkan lagi untukku ini. Kenangan sudah mulai retak, tidak ada lagi tawa bahagia dan tangis haru bisa kau temukan disitu. Kasih sayang pun mulai buram warnanya, walau masih juga terkadang kerjap hangatnya menerangimu. Sedangkan cinta ini lelaki, yang aku takutkan. Cinta sudah sedikit mulai melupakanku, pasti sebentar lagi akan lupa arah dan kau tau kan, lelaki. Ketika cinta sudah lupa arahnya, bagaimana dia bisa menemani perjalanan beratmu." Berkeluh kesahlah akhirnya kalbu kepadaku.
Kusimak baik-baik. Kutelan ludah yang sudah mulai masam rasanya, getir mungkin sebentar lagi. "Aku mengerti, kalbu. Itu juga yang kutakutkan, maka kudatang menengokmu. Barang sekejap saja, agar tak mengganggumu. Aku pun sangat tau, kalbu. Bukan salahmu tidak bisa menjaga mereka. Tapi memang derita ini sedemikian dahsyatnya, dan aku sendiri tidak punya tempat mengadu untuk sekedar meringankan sakitku." Sesal ini terucap. Sedikit merintih dan memohon pada kalbu agar bertahan sepenggalan waktu lagi, sementara aku akan mencari penawar sakitnya.
"Tapi aku tidak tau lagi, lelaki. Sampai kapan aku akan bisa bertahan. Sedang luka derita dulu saja mulai sedikit menganga." Ahh, akhirnya terucap juga kata-kata itu dari kalbu. Entah sampai kapan dia bisa bertahan menjaganya. Aku cuma terdiam. Sudah bukan lagi getir ludah yang kurasa, pilu pun ikut terjaga.
"Betapa dalamnya kau cintai wanita. Maka darinya, akan sedemikian hebatlah derita yang kau terima." Bergumam lirih kalbu di telingaku.
"Dulu juga pernah aku menanyakan padamu kan lelaki? Ingatkah kau? Dulu, saat kau pernah mengirim derita itu. Sekali, dulu. Tapi lama tidak kunjung usai juga kau kirimkan." Tiba-tiba bertanya kalbu padaku.
"Yang mana? Maksudku, pertanyaan yang mana? Kalau derita dulu masih ingat benar aku. Tidak mungkin bisa kulupa, walau sakitnya mulai mereda."
"Huh.. Jangan kau bilang padaku kau juga mulai kehilangan arah, lelaki. Pertanyaan itu? Masa kau lupa? Pertanyaan tentang wanita. Yang pernah juga ditanyakan bintang padamu, ketika dia melihatmu sedang gigil meringkuk galau mencerna derita itu. Yang saking pilunya bintang melihatmu, bertanyalah dia, jika memang darinya kau tuai derita mengapa tidak kau tinggalkan saja wanita? Dan jawabmu.."
Terhenyak aku tiba-tiba, dari mulutku meluncur kata-kata jawabnya "..hai bintang, mampukah kau tinggalkan langitmu."
Tersenyum kalbu padaku. Ada sedikit perih menahan derita pada tarikan mulutnya. Tampak jelas garis-garis lelah di wajahnya.
"Tapi lelaki, sedikit kuingatkan kau. Kau bukanlah bintang, wanita juga bukan langit. Begini saja, anggaplah bintang pun menuai derita dari langitnya. Tapi kau tau kan, lelaki? Betapa berjuta-juta bintang yang ada disana. Langit yang seluas itu, walau sedahsyat apapun derita yang ada. Bintang pun akan membaginya satu sama lain. Rata, tak kurang, tak lebih."
"Aku tau, kalbu." jawabku lirih dengan kepala yang mulai sedikit tertunduk.
"Kau hanya satu, lelaki. Sendiri. Sedang derita itu tak kalah dahsyat dari milik langit. Sedang dulu kau pun pernah menuainya bukan? Aku pun juga pernah merasakannya." tambah kalbu.
Aku terdiam. Kata iya pun terucap dengan kepala yang tambah khusyuk menunduk, hampir tak terdengar.
"Aku tadi sempat mengintipmu sebentar, lelaki. Tepat sebelum kau mendatangiku. Maafkan aku sebelumnya, melihatmu diam-diam. Aku tau kau juga tersakiti oleh derita itu. Lirih kudengar isakmu dalam diam. Dan hanya wanita yang terucap berkali-kali dari pilumu saat itu."
Semakin aku tercekat. Bukan karena aku tidak bisa memaafkan kalbu atas perbuatannya menengokku. Tapi karena memang kata-kata sudah terkunci rapat. Tidak bisa meluncur dari pilu lidahku yang terkurung bibir ini erat.
Tiba-tiba kasih sayang mengerjap hangat. Memberiku sedikit kekuatan untuk mengucap. "Tapi kalbu, bagaimana mungkin aku tidak menyayangi wanita, bagaimana mungkin aku terlupa kenanganku dengannya. Dan cintaku ini.. Ahh, aku sangat mencintai wanita, kalbu."
"Tak perlu kau sampaikan padaku pun aku sudah sangat mengerti, lelaki. Untuk apa juga sampai sekarang aku masih menjaga kenangan, kasih sayang dan cinta wanita. Walau batas kemampuanku sepertinya hanya tinggal sedikit bersisa, seperti juga kau kan lelaki? Tak perlu kau jawab. Kau hanya perlu tegakkan kepala tundukmu itu. Aku tau setegar apa dirimu. Sekuat apa jiwamu terhina oleh dunia. Tak pantas kau tundukkan kepala. Hadapi semua. Tunjukkan padaku usaha terbaikmu. Walau aku juga tau kau pasti sudah tak sekuat dulu, begitu juga aku."
Aku bangkit. Kepala pun sudah sejajar semestinya. Kulangkahkan kaki meninggalkan kalbu. Belum sampai hilang kalbu menatapku, kutengok dia kembali. Sudah semakin renta saja dia kurasa. Kenangan pun tambah retak, buram kasih sayang pun semakin menjadi-jadi. Sedangkan cinta, walau tak berkurang sedikit pun, tapi sudah tak terarah lagi dia.
"Jika nanti tiba waktunya. Sebentar lagi kurasa. Aku akan meninggalkan rumah ini, kalbu. Aku harus hilang. Bagaimana dengan kau?" Tiba-tiba ganti aku bertanya.
"Aku pun pasti pergi, lelaki. Bersamamu. Dengan pergimu, kau pun tak ingin aku menjaga ini semua lagi kan? Kuhilangkan diriku denganmu, lelaki. Sudah dicukupkan waktu kita untuk wanita. Pasti nanti ada orang lain yang diharapkan wanita untuk memilikinya kan?" Sambil tersenyum kalbu menyodorkan sebuah pertanyaan yang tak lagi butuh jawaban.
Sebisa mungkin kubalas juga kalbu dengan senyuman. Walau dera derita ini tak kunjung sirna menoreh-noreh tubuhku. Terima kasih tulusku pada kalbu terucap dalam hening langkahku meninggalkannya. Menjaga sisa-sisa milik kita, wanita. Sisa-sisa yang nantinya bakal menyuburkan kisah-kisah yang telah kau pastikan berikutnya.
Creatures live at the expense of other creatures
(Movie’s epigraph of Dog Bite Dog)
photo by Serlunar
Senjaku Marah

Ada yang temaram
Ada juga yang tenggelam
Senjaku marah, Tuhan
Beri aku keikhalasan
Aku kehilangan..
photo by me

Label:
get lost,
whispering words
Kumulai Malam-Malam Hilangku
Masih di depan layar monitor, dengan wallpaper warna hitamnya yang gelap dan dingin. Masih saja kuterduduk diam, tak kuasa beranjak. Untuk menulis isi kepala saja aku tak mampu, apalagi perasan yang luruh ini. Biarlah, jika hanya tatap mata kosong yang bisa menyampaikan segala keluh kesahku pada sebuah monitor usang berdebu. Sekali lagi, kisahku terbunuh waktu..Masih lekat menggumpal di dada, ketika siang tadi kita bertemu, sayang. Hanya sekedar untuk kalah oleh ego sendiri. Kita terpisahkan.. Kelebat pesonamu berjalan menyisakan seorang lelaki terasing. Meninggalkan wangi yang masih tercium hingga kini. Sesak ini membuncah-buncah. Rinduku nanar. Pekat dan gelap.
Bagaimana aku harus melewati pagi, sayang. Ketika tidak bisa lagi hanya sekedar untuk menyematkan pesan "selamat pagi, kebo.. bagaimana kabarmu hari ini?" Ahh.. Tak bisa kubayangkan, sayang. Sementara satu bungkus rokok kembali kubuka, kunyalakan dan kuisap dalam-dalam. Seraya berharap galau ini bakal hilang bersama dengan asap yang kuhembuskan.
Aku bohong, sayang. Aku tidak baik-baik saja. Sungguh, aku kehilangan.. Tapi aku bisa apa, sayang? Sementara hanya itu skenario yang kausodorkan untukku. Boleh aku minta kautuliskan cerita lain untukku? Tentu tidak kan, sayang?
Malam ini benar-benar panjang. Sedang mata lelahku tak juga kunjung terpejam. Kutelan bulat-bulat pahit dan getirmu, sayang.
Aku kesakitan..
Aku pamit dulu, wanita.. Telah kau cukupkan aku untukmu.
Semoga tanpaku, kau ringankan hidup raih bahagia yang kau mau.
Selamat tinggal..
photo by man's pic's
Read more...
Label:
discouragement,
get lost,
loneliness
Langgan:
Entri (Atom)























