Tantangan Petualang Menuju Air Terjun Lider

>> November 01, 2009

Macadam RoadAir Terjun Lider sebagai salah satu obyek wisata Kabupaten Banyuwangi, memiliki pesona yang masih benar-benar alami. Lokasinya terletak di desa Sragi, kecamatan Songgon, Banyuwangi, Jawa Timur. Berada di tengah kawasan hutan lindung yang juga masuk dalam pengawasan Kawasan Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Perhutani Sidomulyo, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Kali Setail kecamatan Sempu, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyuwangi Barat. Dinamakan Air Terjun Lider dikarenakan lokasinya terletak di kawasan hutan lindung petak 74, Blok Lider. Air terjun yang terletak di lereng timur Gunung Raung ini, berjarak sekitar 45 km dari kota Banyuwangi. Untuk menuju lokasi Air Terjun Lider, terdapat sejumlah jalur yang bisa ditempuh. Yaitu melalui desa Jambewangi kecamatan Sempu dengan jarak dari perkampungan warga sekitar 15 km atau melalui desa Sragi kecamatan Songgon dengan jarak sekitar 8 km.

Dikarenakan adanya suatu hal yang mengharuskanku melakukan perjalanan ke Banyuwangi bersama seorang teman, maka kami berdua berpikir tidak ada salahnya untuk mencoba mengunjungi Air Terjun Lider ini. Setelah hampir 20 jam naik kereta api dan jalan kaki sepanjang 8 km, akhirnya tibalah kami di kecamatan Genteng, Banyuwangi. Masih dengan asas pertemanan dan persaudaraan, kami mencoba mencari pinjaman kendaraan roda dua untuk menuju Air Terjun Lider. Tak berapa lama kami dapat juga pinjaman motor, walaupun bersetting 'semi racing'. Lengkap dengan knalpot dan ban racing, shockbreaker depan dan belakang yang sudah dipangkas, jok pengendara ditipiskan dan putaran mesin yang tidak bisa langsam. Sempet juga kami berpikir 'bisa nyampe nggak ya', namanya juga motor utk balap jalanan dipakai di medan pegunungan. Insyaallah bisa lah, hajar aja. Hehe..

Dimulailah perjalanan kami menuju Air Terjun Lider. Tanpa membawa 'outdoor equipment' sama sekali, hanya memakai celana pendek selutut, kaos oblong, 'sandal gunung', satu tas kecil, satu tas 'daypack' untuk perlengkapan kamera berserta tripod dan tentu saja memakai motor 'balap'. Dari pusat kota Genteng kami menuju ke arah stasiun kereta api Kali Setail. Dari stasiun masih agak ke barat, masuk jalan aspal perkampungan ke arah utara. Ketika keluar dari perkampungan, kami disambut oleh jalan makadam (jalan berbatu tanpa aspal). Dimulailah proses pembantaian pada sarana kendaraan roda dua kami. Shockbreaker motor yang ceper mulai dihajar sampai mentok, belum lagi ban tipe racing yang sangat kami kuatirkan pada saat itu. Tapi panorama hutan pinus yang kami lalui mampu meredakan kekuatiran, kesakitan pinggang yang rasanya seperti mau putus dan kebebalan pantat kami akibat tipisnya jok motor. Benar-benar indah suasananya.

Endless Road in Sugarcane FieldKeluar dari hutan pinus kami memasuki wilayah perkebunan karet, walau memang tidak sebanyak hutan pinus sebelumnya. Udara terasa semakin segar dan menyejukkan. Tampak di samping kiri kanan jalan, tong-tong besar sebagai tempat penyimpanan karet yang habis disadap. Tak lama kemudian hutan pinus yang lebih lebat dari sebelumnya dan area perladangan menyambut perjalanan. Beberapa kali kami juga keluar masuk perkampungan kecil yang sederhana disana. Sesekali dapat dijumpai suasana kehidupan perkebunan semasa penjajahan Belanda, lengkap dengan rumah khas peninggalannya yang dulu ditempati oleh para pejabat perkebunan. Tiba-tiba tak terasa sampailah kami di jalan yang sangat berdebu, terbuka dan panas, dengan sisi kiri kanannya berupa perkebunan tebu. Lama sudah menempuh jalan itu, tapi seperti tak ada habisnya. Sepi dan tidak ada orang sama sekali yang bisa ditemui. Kelihatannnya jalan yang lurus itu bagai tak berujung. 'Endless Road' kami menyebutnya, hehe..

Syukurlah, akhirnya kami keluar juga dari jalan membosankan itu. Setelah perkebunan tebu, beralih memasuki perkebunan kopi. Jalan yang kami lalui tambah menyempit dengan medan tanah dan rumput. Berkelak-kelok dan naik turun. Selama perjalanan dari mulai jalan makadam tadi, memang kami beberapa kali sempat mau terjatuh dari motor. Ternyata di perkebunan kopi dengan medan tanah dan rumput yang sangat licin, terjatuh juga akhirnya. Berdua cuma tertawa sambil mengangkat motor yang menjatuhi kaki kanan kami. Duh, lumayan juga nyeri-nyeri rasanya. Kemudian sesampainya di ujung perkebunan kopi, terdapat sebuah pos untuk menitipkan motor. Yup, kami harus meneruskan dengan jalan kaki menuju Air Terjun Lider. Untunglah disana ada bapak-bapak yang sedang mencari rumput tempat kami menitipkan kendaraan.

Descending PathwayPerjalanan berlanjut tanpa menggunakan kendaraan karena memang lokasi Air Terjun Lider berada di tengah hutan belantara. Dari pos terakhir tersebut, kami masih harus menempuh jalan setapak atau treking sejauh 800 meter hingga 1 km. Medan yang dilalui sungguh sulit. Harus naik turun sisi tebing jurang yang curam melalui tanah basah yang sangat licin dan berliku, menembus padatnya tumbuhan khas hutan tropis. Vegetasi hutan alam yang masih perawan bisa ditemui disini. Selain itu, kami juga harus menyeberangi sungai sebanyak 6 - 8 kali sedalam 30 - 50 cm. Bahkan terkadang harus rela berbasah-basah menceburkan diri ke sungai untuk menghindari pohon-pohon yang tumbang di pinggirnya. Kondisi lingkungan yang belum dikelola secara intensif, memunculkan kesan masih asli dengan suasana sangat alami. Walaupun medan yang ditempuh lumayan sulit, tapi kami sangat menikmatinya. Suasana redup sinar matahari yang sulit menembus rimbunnya dedaunan, kicauan berbagai jenis burung bersahut-sahutan, beragam jenis tanaman khas tropika, dan tentu saja jernihnya air sungai yang kami seberangi. Berkat kebodohan kami yang lupa membawa air minum, maka berkali-kali kami meneguk segarnya air sungai pegunungan tersebut.

Sempat juga kami menemukan air terjun kecil yang tersembunyi pada lebatnya pepohonan. Sinar matahari yang membias di sela dedaunan ikut menambah keindahan suasana tempat tersebut. Tapi kami tidak berani mendekatinya. Entah kenapa seperti ada suara yang berbisik di telinga, "jangan kesana!!". Kami akui, insting dan kata hati tidak bisa kami abaikan apalagi di tengah suasana alam yang tentu bukan kita saja penghuninya. Kaki kembali kami langkahkan, hingga entah sungai keberapa, pada saat menyeberang temanku terpeleset dan jatuh. Belum juga selesai aku memperingatkannya untuk hati-hati, sambil asyik mengambil gambar dengan kamera, kakiku juga terpeleset. 'Byuurrr' tercebur dan terseret aruslah aku dengan suksesnya. Sekuat tenaga kuangkat tangan kiri yang menggenggam kamera agar jangan sampai ikut masuk ke dalam air, sambil memanggil-manggil temanku yang sudah berjalan jauh di depan. Dengan sangat terpaksa kukorbankan sisi tubuh bagian kanan untuk beradu dengan kerasnya batu sungai. Syukurlah, tak berapa lama aku menemukan tempat berpijak dan berhasil bangkit. Kulihat temanku berlari-lari mendatangi dan dengan sigapnya kami mengecek kamera. Walaupun agak basah, untunglah tidak ada kerusakan pada kamera. Dengan kondisi tangan dan kaki kanan yang lecet berdarah-darah, cuma satu komentar kami. "Wuihh, istiimewaaa.."

2nd River & Hidden WaterfallSampai akhirnya, tibalah kami di Air Terjun Lider. Subhanallaah.. Indah sekali. Kami seperti berada di lubang sumur besar dengan dinding berupa tebing yang berdiri tegak, seolah-olah terbelah oleh pancuran air yang sangat jernih. Kejernihan airnya makin indah dipandang, manakala butirannya pecah lembut karena terjun bebas dari ketinggian 60 meter. Dua jam capeknya berkendara, delapan kali harus bertanya arah, berkali-kali hampir jatuh dari motor dan akhirnya sekali jatuh tertimpa kendaraan, satu jam naik turun tebing curam, kaos oblong yang sudah seperti lap pel saking kumelnya, serta kaki tangan yang berdarah-darah terlupakan sudah. Terbayarkan oleh pesona air terjun tertinggi di Banyuwangi yang masih terjaga keaslian alamnya ini. Dengan bentuk air yang menggumpal dan mengular panjang ketika terjatuh, suara menderu dan terdengar dengan sangat cepat membelah kesunyian hutan, serta derasnya air yang membuat daun-daun hijau pepohonan di sekelilingnya bergoyang, membuat pemandangan di lokasi Air Terjun Lider semakin menyejukan. Panorama di sekitar pun menjadi semakin eksotik dengan adanya dinding tebing berupa deretan batu berdimensi rata yang terlihat menggantung diantara dua jurang yang menghimpit air terjun tersebut.

Lider Falls & Hanging RockMenurut informasi yang kami peroleh, air terjun yang terletak pada ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut ini, mempunyai kandungan air yang lebih segar dibandingkan dengan air terjun lain yang terdapat di sekitar kota Banyuwangi. Kemungkinan karena sumber airnya berasal dari hutan alami yang mengalir sepanjang 2 km. Di sekitar Air Terjun Lider juga terdapat empat air terjun lain yang merupakan bagian dari air terjun utamanya. Juga dikatakan bahwa saat matahari sedang terbit, panorama di depan Air Terjun Lider sangat menakjubkan. Sinar matahari yang mulai merambat terbias oleh butiran-butiran air yang memercik dari air terjun, sehingga membias jadi pelangi. Mungkin nanti suatu saat, kami akan mencoba berkemah disini untuk berburu panorama pagi hari tersebut. Tapi tentu saja tidak hanya dua orang, hehe.. Jujur, suasana dari semenjak menempuh jalan setapak hingga ke lokasi air terjun terasa sangat mencekam buat kami. 'Singup' kalau orang Jawa bilang.

Setelah dirasa cukup mengambil gambar dan menikmati keindahan Tuhan, kami memutuskan untuk pulang. Secepatnya kami tempuh jalan setapak menuju pos terakhir, tempat kami menitipkan motor. Matahari pun mulai condong ke barat dan suasana sekitar berasa tambah suram. Bahkan air terjun kecil tersembunyi yang sebelumnya kami temui, tidak kami temukan lagi. Seperti hilang begitu saja dari pandangan. Akhirnya dengan penuh tetesan keringat, tibalah kami di pos terakhir. Terlihat bapak pencari rumput sedang duduk berjaga di samping motor. Setelah memberikan upah sekedarnya, kami pamit pada si bapak. Wuihh, perjalanan masih panjang ternyata. Pinggang linu dan pantat bebal mengiringi keindahan suasana senja lereng Gunung Raung. Bagi teman-teman yang suka petualangan, mengunjungi Air Terjun Lider mungkin bisa menjadi tantangan dan ajang rekreasi yang barangkali mampu mengusir kejenuhan dari rutinitas keseharian. Dengan keindahan serta eksotika alam yang luar biasa alami, menjadikan Air Terjun Lider memiliki daya tarik tersendiri. Bahkan diinformasikan juga bahwa tak jarang puluhan wisatawan manca negara berbondong-bondong mengunjunginya, khususnya setelah mereka melakukan perjalanan ke Cagar Alam Kawah Ijen atau lokasi Agrowisata di Kali Klatak, Banyuwangi.

about The Snapshots click here
photo by me

referensi :
http://www.perumperhutani.com
http://cybertravel.cbn.net.id
http://hasyim.komonduya.com

15 comments:

Enno 1 November 2009 14:30  

ini beda lagi sm taman nasional alas purwo ya?

ah jadi pengen ke sini...

Pohonku Sepi Sendiri 1 November 2009 14:49  

Enno : beda mbak.. kalo TNAP di ujung wetan & benar2 istimewa mbak.. ada pantai plengkung jg disana, yg disebut2 para peselancar termasuk memiliki 4 ombak terbaik di dunia setelah hawai.. *ngompori mode on* hihi..

Clara 1 November 2009 17:27  

hwaaaa...akhirnya baca juga...fiuh
sekarang kasih komen ^^

pertama liat gambarnya aja udah kebayang indahnya tempat itu. terus pas baca rinciannya, keknya semakin seru. aku suka jalan di hutan, tapi nggak sendirian, ya. serem juga kalo sendirian, soalnya buta arah banget >.<
tapi, abis baca refrensi ini jadi pengen nginjekin kaki di air terjun liber ini. Sayang jauh.

keren alamnya ...

Pohonku Sepi Sendiri 1 November 2009 19:14  

@Clara : hehe.. kepanjangen ya postnya. aku jg baru nyadar pas abis dipublish..
benar kok, indah panoramanya. tapi ya itu, memang jauh sayangnya..
oh iya, aku kasih link di komen post 'Jepretan Kura2' utk tutorial ps, sapa tau bisa ngebantu..
makasih ya komennya..

Apisindica 1 November 2009 20:12  

kalo gw teriak lagi minta difotoooo, kayaknya bosen yah?! ;)

narasinya bagus, bikin gw bisa merasakan apa yang ada disana secara langsung!

berasa inget jaman kuliah lapangan ekologi dulu, jaman muda!!! hehehhe

Pohonku Sepi Sendiri 1 November 2009 22:16  

@Apisindica : haha.. nggak kali bro, ngapain juga bosen.. aku yg harusnya makasih, msh bersedia berkunjung kemari.. :)
jadi inget masa muda dulu ya, hihi.. brarti sekarang udah tu.. ups, udah dewasa dong.. :D
thanks ya bro..

kilatista 2 November 2009 10:47  

andai jarak tidak jadi halangan saya sangat ingin menikmati indahnya pesona alam sragi. salam kenal ya

hari Lazuardi 2 November 2009 12:18  

wah kalau mau ke TN Baluran mandi di sini dulu nih biar suegerr...

Pohonku Sepi Sendiri 2 November 2009 13:01  

@kilatista : salam kenal juga.. semoga suatu saat nanti ada kesempatan ke sragi.
di kalimantan pasti jg banyak pesona alam yg tak kalah indahnya utk bisa dinikmati.. thanks..

@hari Lazuardi : hehehe.. tau aja neh mas hari.
makasih..

Tisti Rabbani 2 November 2009 21:32  

narasimu bikin aku tambah ngiler jalan2 kesana...

pengenn bngt bisa bertemu dgn yg "hijau2" lagi..hehehe..

*kapan yah??*

Pohonku Sepi Sendiri 2 November 2009 22:00  

@Tisti Rabbani : makasih mbak tisti, tapi maap masih amburadul tulisannya..
pasti nanti ada waktu kok mbak, udaranya seger bgt lumayan bisa buat refresh.. :)

adhi 3 November 2009 15:32  

ckckck..

lebih mentingin kamera rupanya ya..hahaha..

memang harus begitulah potografer sejati..

demi kamera gak masuk air,,rela ngorbanin badan lecet2..haha..

mantaff!!ceritanya!!mantaf fotonya!!

pengen deh kesana jalan2 sekali waktu..huhu..

Pohonku Sepi Sendiri 3 November 2009 15:46  

@adhi : hehehe.. reflek kok sob, reflek.. untunglah kamera selamat, tapi korban tas terendem air alhasil 'mp3 player' matot, fiuh..
makasih sob.. kapan2 sempetin waktu mencoba tantangan & keindahannya.. ^^

basecamp tigabelas 13 Juli 2010 19:47  

salam ,kalau ada yang berminat datang ke tempat air terjun lider ini kita siap mengantar teman atau sahabat karena tempat kita tidak jauh dari air terjun lider ini dan kita bisa membantu untuk segala keperluan dan saffety karena kita juga adalah komunitas pecinta alam...salam basecamp tigabelas

InsuranceService99 2 Oktober 2011 16:18  

Personal Finance and Business
Your Business Insurance

Related Posts with Thumbnails

  © Blogger templates Romantico by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP