'Mengejar Matahari' ke Mangrove Bedul

>> November 06, 2009


Masih di kabupaten ujung timur Pulau Jawa, Banyuwangi. Aku teringat pesan dari Mas Hari pada bagian komentar tentang 'hunting sunrise'. Beliau membalas komentarku perihal 'ketidakmampuan menemui pagi karena terlanjur dicuri selalu oleh malam panjang', dan mengatakan "sisakan sedikit untuk pagi sometimes". Ukhh, membekas di hati.. *haiyah emang luka, membekas* Wohohoo.. Aku setuju sekali sama Mas Hari. Maka dari itu, aku masih berdua dengan teman, memutuskan pergi ke Muncar untuk berburu matahari pagi. Menurut info, panorama matahari terbit di pantainya indah sekali dengan latar belakang Pulau Bali. Malamnya, berangkatlah kami dari kecamatan Genteng menuju Kota Banyuwangi naik bus umum. Usai satu jam perjalanan, masih dengan asas pertemanan dan persaudaraan, setelah menempuh 2 km berjalan kaki sampailah di tempat bermalam dan pinjaman kendaraan roda dua. Tapi sodara-sodara, rencana berangkat jam tiga pagi ke Muncar hancurlah sudah. Tuhan ternyata belum mengijinkan, dengan menurunkan hujan yang sangat deras di kota yang sebelumnya masih jarang disapa gerimis ini. Harus diikhlaskan, maaf ya Mas Hari belum bisa menindaklanjuti pesannya. Hehe.. Sebelum kembali meneruskan molor, diputuskan besok untuk pergi ke Mangrove Bedul dan Pantai Triangulasi yang merupakan bagian dari Taman Nasional Alas Purwo saja untuk berburu 'sunset'. Berkat jurus 'ngompori' yang ampuh pun temanku akhirnya menyetujuinya. Hihi..

Paginya dengan motor pinjaman, kami berangkat menuju Kantor Balai Taman Nasional Alas Purwo sekedar untuk 'kulonuwun' dan minta ijin, serta mencari info yang mungkin bisa berguna nanti. Dalam perjalanan, baru tahu ternyata motor yang dikendarai ini tidak layak untuk jarak jauh apalagi dengan medan tanah atau bebatuan. Shockbreaker depan dan belakang yang sudah bocor, lengan ayun yang kering hingga menimbulkan bunyi seperti cicit tikus, kecepatan yang tidak mampu digeber lebih dari 60 km/jam, serta yang paling parah adalah kampas rem depan belakang habis semua. Untuk rem sudah tidak bisa dikompromi, hal ini sama saja dengan bertaruh nyawa. Untunglah karena hujan tadi dini hari, tidak jadi berangkat ke Muncar dengan motor tanpa rem. Tuhan memang selalu memberi petunjuk bagi kita walaupun dengan cara yang paling tidak kita suka sekalipun, tinggal kembali pada diri kita sendiri untuk mengambil hikmahnya. Akhirnya dari Kantor Balai Taman Nasional Alas Purwo, dengan berat hati harus balik lagi. Mencoba mencari pinjaman motor lain, sembari menunggu perbaikan rem. Akan tetapi hingga matahari bergeser dari atas kepala dan motor sudah selesai ganti kampas rem, pinjaman kendaraan lain belum bisa didapatkan. Wallahualam, dengan berbekal niat dan tekad, berangkatlah kami mengendarai 'motor tua'.

Ketika melalui Rogojampi, kami mampir ke sebuah warung makan untuk merasakan menu bernama 'Rujak Soto'. Ternyata makanan berupa Rujak Cingur diguyur dengan kuah soto khas Jawa Timur yang keruh penuh rempah-rempah. Rujak Cingur-nya sendiri dengan penyajian 'matengan' yang terdiri dari bahan matang saja, yaitu lontong, tahu goreng, tempe goreng, bendoyo (krai rebus), sayur (kangkung, kacang panjang, tauge) yang juga telah direbus dan tentu saja irisan cingur (tulang rawan dari bagian hidung dan bibir atas sapi). Semua bahan tadi dicampur saus atau bumbu dengan cara 'diuleg', yang terbuat dari olahan petis udang, air matang untuk sedikit mengencerkan, gula putih/merah, cabai, kacang tanah dan bawang goreng, garam serta irisan tipis pisang biji hijau yang masih muda (pisang klutuk). Setelah disiram kuah soto, kemudian dihidangkan menggunakan mangkok besar dan kerupuk udang. Pemakaian lontong disini membuat kuah soto tidak berubah rasa dan bercampur sempurna dengan bumbu rujaknya. Kuah soto juga mengurangi rasa pedas dari Rujak Cingur. Biasanya untuk menu rujak atau lotek, dengan cabe lima biji sudah terlalu pedas untukku. Tapi di Rujak Soto ini, tidak terasa pedas sama sekali. Mungkin cabe sepuluh baru pas pedasnya. Gurih dan manis menguar nikmat bersama kesegaran kuahnya. Sungguh enak sekali. Jujur baru kali ini aku menemukan rasa aneh seperti ini, eksotik mungkin lebih tepatnya.

Endless Road in Teak PlantationUntuk menuju Mangrove Bedul, harus menempuh jarak total 87 km ke arah Taman Nasional Alas Purwo. Rutenya dari Kota Banyuwangi melalui Klabat, Rogojampi, Srono, Muncar, Tegaldlimo. Kemudian mengambil jalur Dam Tiga menuju Pasar Anyar, yang disana juga terdapat Kantor Balai Taman Nasional Alas Purwo terakhir yang dilalui jalan aspal. Dari Pasar Anyar terbagi dua jalur, yaitu utara menuju Teluk Pang-Pang dan selatan menuju Teluk Grajagan. Kami mengambil jalur menuju Teluk Grajagan mengarah ke Rowobendo yang merupakan pintu gerbang Taman Nasional Alas Purwo. Mulai dari Pasar Anyar, jalan berubah menjadi makadam (jalan berbatu tanpa aspal). Sebenarnya tidak terlalu berat dibanding medan makadam Air Terjun Lider, tetapi rasanya sama beratnya karena kendaraan yang yang dipakai sekarang lebih parah kondisinya daripada saat itu. Pertama-tama kami disambut oleh 'Endless Road' perkebunan jati. Pohon jati yang masih muda menghiasi kiri kanan jalan selebar dua mobil lengkap dengan gugur daun kekuningannya. Semakin lama pepohonan semakin lebat dan tidak hanya dihiasi oleh pohon jati saja. Suasana semakin sepi dan tidak ada bangunan sederhana seperti yang ditemui pada awal sebelumnya. Benar-benar di dalam hutan, beda jika dibandingkan dengan suasana menempuh perjalanan dari Jawa Tengah menuju Madiun yang melewati Hutan Ngawi atau dari rute utara menuju Banyuwangi yang melewati Hutan Baluran. Perasaan semakin mencekam, teringat beberapa cerita tentang banyaknya orang semedi dan menyepi di Alas Purwo. Tidak tahu juga apakah Alas Purwo benar-benar merupakan 'Hutan Pertama' di Pulau Jawa seperti arti dari namanya, sehingga banyak didatangi untuk mengasingkan diri. Bahkan dari informasi yang didapatkan, tidak sedikit juga para pejabat atau artis menyempatkan waktunya untuk bertandang kesini.

Gate of Alas Purwo National ParkAkhirnya jarak sejauh 10 km dari Pasar Anyar menuju Rowobendo berhasil diselesaikan dalam waktu dua jam. Di pintu gerbang Taman Nasional Alas Purwo diharuskan membayar retribusi pada pos penjagaan, sejumlah Rp 8.000,- untuk dua orang dan satu motor. Waktu sudah menunjukkan pukul 3.00 sore, padahal masih harus menempuh medan jalan tanah dan berpasir sejauh 5 km ke arah timur menuju Ngagelan yang merupakan tempat penangkaran dan pengembangbiakan penyu. Kemudian dari Ngagelan menempuh 10 km lagi menuju Mangrove Bedul. "Hati-hati mas jalannya licin, tadi habis hujan. Mungkin sekitar satu jam sudah sampe Bedul. Pokoknya ikuti saja jalan ini, 'jangan pernah' belok-belok jika melihat apapun sampai ketemu bangunan pos besar di Bedul", kata bapak penjaga pos. Waaa, satu jam..!! Bisa-bisa dua jam baru sampai dengan kondisi motor seperti ini. Belum lagi pesan 'jangan pernah'nya yang mengandung banyak makna bagiku. Kami pun berembug sebentar. Sepertinya jika harus ke Mangrove Bedul dulu kemudian berburu sunset ke Pantai Triangulasi, tidak akan sampai waktunya. Padahal ada rencana, jika masih sisa waktu juga akan menyambangi Pantai Plengkung yang oleh para peselancar profesional dikatakan memiliki ombak empat terbaik di dunia setelah Hawai. Untuk ke pantai Plengkung, ternyata dari Rowobendo masih sejauh 3 km menuju pos Pancur, kemudian jalan kaki sejauh 10 km ke menuju Plengkung. Karena Setelah pos Pancur, tidak boleh mengendarai kendaraan bermotor dan hanya boleh menggunakan sepeda atau jalan kaki saja. Jelaslah sudah, dengan waktu yang ada tidak memungkinkan ke Pantai Plengkung. Belum lagi nanti jam 10.00 malam, kami harus sudah berada di stasiun kereta api. Akhirnya diputuskan mengorbankan Pantai Triangulasi dan Plengkung untuk menuju Mangrove Bedul, dengan harapan bisa menemukan panorama sunset yang tidak kalah menarik disana.

Dimulailah perjalanan yang sangat mencekam. Medan tanah yang hanya selebar satu mobil terasa sangat licin. Belum lagi harus lincah menghindari ranting-ranting kayu yang tergeletak di jalanan. Berkali-kali hampir saja terjatuh dari motor, padahal nyeri serta luka tangan kaki akibat jatuh dari motor dan sungai di perjalanan Air Terjun Lider masih juga berdarah. Sinar Matahari tampak kesulitan menembus dedaunan untuk menerangi sekitar. Suara burung dan binatang bersahut-sahutan bersaing dengan deru mesin motor. Tak jarang berjumpa dengan kera dan burung merak yang sedang berleha-leha di pinggir jalan. Suasananya berkali-kali lipat lebih suram dibanding perjalanan dari Pasar Anyar ke Rowobendo. Disini kami tidak sempat ambil gambar, sebenarnya ehm tidak berani lebih tepatnya. Apa ceritanya jika harus berhenti untuk ambil gambar tau-tau dicolek dari belakang. Langsung aku teringat cerita, saat di Alas Purwo jika tiba-tiba disapa atau menyapa seseorang yang tidak tahu juntrungnya, bisa-bisa kita tidak akan pernah sampai ke tempat tujuan dan cuma berputar disitu-situ saja. Wuaaa, rasanya lebih menyeramkan ketika teringat daripada saat mendengar ceritanya. Belum rampung juga merindingnya, temanku bilang katanya pada jam segini, harimau di Alas Purwo sudah mulai ngulet untuk kemudian jalan-jalan di waktu malam.
"Kalo ketemu harimau dan nyerang, terpaksa kita lawan dulu aja. Masalah mati mah urusan belakangan", ujar temenku. "Yoi, setuju..!!"
"(Belati) gurkha kukri-nya dibawa kan?" tanyanya. "Nggak..", ah terlalu besar mungkin pikirku tadi kenapa tidak dibawa.
"Wah, pisau kecilnya?" tanyanya lagi. "Nggak juga", oh iya jadi ingat kalau punya pisau kecil.
"Waduhh, (pisau lipat) leatherman?" sambil gusar. "Nggak dibawa, semua kan taruh di backpack", gobloknya diriikuuu.
*..berdua diem..*
"Eh, aku bawa zippo..", ucapku tiba-tiba didorong oleh rasa bersalah.
"Waaakakakaaaaa..!!" tawa kami memecah kesunyian hutan. Memangnya dipikir harimau jadi takut jika matanya dilempar dengan zippo.
*..diem lagi..*
"Cit, ciit, ciittt..!!!" suara lengan ayun motor yang terbebani dua manusia bodoh menggema seantero jalan hutan.
"Eh, suara cit cit motor bisa narik perhatian binatang nggak ya?" tanya temenku.
"Hah, emmm.. eh, nggak tau ya", mengingkari kata hati nurani yang berkata 'jelas bisa dong'.
Dan tancap gas lah kami dengan sejadi-jadinya. Mau jatuh kek, mau berasa ada yang lompat-lompat di samping kek, atau mau jalan di depan masih juga terlihat tidak berujung kek. Yang penting ngebut dan cepat sampai di pos Bedul.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam, terlihat juga akhirnya bangunan besar pos Bedul. Di sebelah utara terdapat tempat untuk menambatkan kapal jika ingin sewa untuk berkeliling atau menyeberang. Begitu tiba di pos Bedul ternyata lumayan ramai, mungkin ada sekitar enam orang bapak-bapak disana. Ternyata mereka menunggu serombongan orang yang baru saja tiba menaiki kapal dari seberang utara. Rombongan itu turun sambil membawa kamera video standar 'broadcast'. Pikirku pasti dari TV nasional melihat perlengkapannya, mungkin mau mengambil 'stockshot' untuk acara 'outdoor'. Tiba-tiba salah seorang bapak yang ada disitu bicara dengan teman sebelahnya, "Nah itu tuh. Itu kan Panji". Sambil disambut dengan anggukan oleh bapak sebelahnya. Dasar kami memang kuper dengan acara televisi, cuma saling berpandangan heran. Panji siapa? Artis nasional ya? Hahaha.. Ternyata baru tahu kalau rombongan tadi memang sedang melakukan pengambilan gambar sebuah acara televisi untuk salah satu TV nasional. Ya sudah biarkan saja, ada satu hal penting yang harus kami bicarakan, yaitu masalah kepulangan. Jika masih ingin berburu sunset di Bedul, paling cepat baru selesai pukul 6.00 sore. Kemudian jika ingin mengejar jadwal kereta, maka harus menempuh jalan menyeramkan tadi di waktu malam. Huaaduuhhh, makasih deh.. Mendingan tidur aja di pos Bedul untuk kemudian pulang besok sehabis Subuh. Sama sekali tidak masalah merubah 'itinerary', daripada pulang malam ini tapi tidak pernah sampai rumah. Tiba-tiba teringat kembali salah satu cerita tentang Alas Purwo, katanya saat malam sering terlihat di tengah hutan ada keramaian seperti pasar atau kadang terdengar suara gamelan dan tepuk tangan seperti ada pagelaran tayub. Wuaduhhh, ampun gustiii..

Disaat pusing memikirkan jalan keluar, tiba-tiba kuteringat kalau di seberang utara pos bedul bukanlah Taman Nasional Alas Purwo, melainkan perkampungan penduduk. Langsung kami menuju bapak tukang perahu dan bertanya apakah bisa minta diseberangkan untuk dua orang dan satu motor. Syukurlah bapak itu bersedia. Fiuh, lega rasanya.. Sekalian juga meminta ke bapak tukang perahu untuk berputar-putar dulu di sekitar Teluk Segoro Anak guna mengambil gambar dan dibawa ke lokasi pemotretan panorama sunset jika senja sudah mulai bertandang. Maka setelah motor dinaikkan ke perahu kayu, dimulailah perjalanan mengitari Teluk Segoro Anak dengan sisi kanan kirinya berupa hutan bakau. Matahari sore yang mulai berkurang keganasannya dan tiupan angin sepoi-sepoi telah mengusir segala lelah dan kecemasan menempuh perjalanan. Sembari mengambil gambar tak henti-hentinya berdecak kagum menikmati keasrian dan kealamian hutan bakau. Ucap syukur pun kami panjatkan atas waktu yang telah diberikan untuk menikmati keindahan ciptaan-Nya ini. Subhanallah Ya Tuhan..

Migratory BirdsDari sedikit informasi yang kami dapatkan, dikatakan bahwa dengan kerapatan tegakan hutan bakau mencapai 16 Km, ketebalan rata-rata 300 meter, luas sekitar 2.300 hektar, dan keberadaaan 27 jenis pepohonan yang diperkirakan merupakan generasi tanaman bakau dalam sedikitnya 100 tahun terakhir, maka Mangrove Bedul yang termasuk bagian dalam Taman Nasional Alas Purwo dan Dusun Blok Solo Desa Sumberasri Kecamatan Purwoharjo ini, diklaim sebagai hutan bakau terbaik se-Jawa Bali dan terluas di Indonesia. Selain berfungsi sebagai penahan ganasnya ombak laut, tak banyak yang tahu jika hutan bakau juga menyimpan sejuta fungsi kehidupan lainnya. Menurut Bp. Suyatno sebagai Kepala Desa Sumberasri, saat musibah Tsunami menerjang kawasan pantai selatan Banyuwangi diawal 90-an silam, pemukiman nelayan di sekitar kawasan Bedul terselamatkan berkat kokohnya gugusan hutan bakau. Selain itu hutan bakau juga memiliki fungsi ekologis sebagai tempat bertelur dan berkembangnya aneka biota laut sehingga penting artinya bagi para nelayan, karena ikan-ikan yang berkembang bisa menjadi sumber mata pencaharian. Bahkan jika beruntung, antara bulan Oktober - Desember dapat menjumpai kawanan burung migrasi dari Australia yang berbaur dengan ratusan burung lokal. Maka dari itu, Bp. Suyatno memiliki ide besar memadukan kegiatan melestarikan hutan bakau dan menjadikannya sebagai lokasi wisata lingkungan (ecotourism) bertaraf internasional. Menurut beliau, kawasan Mangrove Bedul mulai mempersiapkan diri menjadi pusat kajian kelautan, dengan konsep wisata alam yang masih terbatas. Dikatakan juga bahwa pemerintah Desa Sumberasri bekerja sama dengan Balai Taman Nasional Alas Purwo serta JICA (Japan International Corporation Agency) yang menangani masalah hutan mangrove di Indonesia, mencoba mengembangkan perpaduan wisata alam dan bahari di Mangrove Bedul ini sejak tahun 2008 lalu. Terakhir kali, sedikitnya 90 mahasiswa kehutanan dari 34 negera, mengunjungi lokasi wisata Mangrove Bedul dengan salah satu kegiatannya berupa penanaman tumbuhan mangrove.

1st SunsetSetelah dirasa cukup mengarahkan perahu menuju timur Teluk Segoro Anak, bapak tukang perahu berbalik ke arah barat menuju lokasi panorama sunset. Sesekali berpapasan dengan perahu nelayan yang sedang mencari mata pencaharian. Setelah mengikhlaskan tidak bisa ke Pantai Triangulasi untuk berburu sunset, kami jadi berharap banyak mendapatkan panorama sunset yang bagus disini. Akan tetapi sungguh disayangkan, dengan lokasi yang sangat mendukung ini ternyata langit masih menyimpan sedikit mendung. Walaupun akhirnya mendapatkan panorama sunset, tapi tidaklah maksimal karena terhalangi oleh awan hitam. Ya sudah, tidak mengapa.. Mungkin memang belum waktunya kami dipertemukan oleh Tuhan dengan panorama sunset seperti yang terbayangkan. Kami disini pun sudah mendapatkan pengalaman yang sangat luar biasa. Syukurlah juga masih bisa menempuh perjalan pulang malam ini. Hehe..

Sebelum merapat ke utara Teluk Segoro Anak, kami sempat turun ke daratan yang ada di tengah teluk. Mumpung air masih surut, daratan yang terlihat hanya beberapa centimeter di atas permukaan air tampak sangat eksotik. Sempat juga berlari-lari kecil di atasnya, seperti seorang anak yang kesenangan memperoleh mainan baru. Saat dirasa cukup, setelah merapatkan perahu dimulailah kembali aktivitas mengangkat-angkat motor. Keluar dari dermaga kecil tersebut, terlihat sekitar 4 - 6 rumah kecil yang kemungkinan milik nelayan sekitar. Ternyata oh ternyata sodara-sodara. Sebelum sampai ke perkampungan penduduk, setelah keluar dari area nelayan tersebut, masih harus melewati jalan gelap bermedan tanah sejauh 2-5 km di areal terbuka tempat pengembangan bibit pohon jati. Sempat juga sekali harus masuk dalam hutan jati melalui jalan setapak yang mungkin hanya selebar kurang dari 2 meter. Hingga akhirnya setelah hampir 1 jam, baru mulai mememasuki perkampungan penduduk berjalan aspal. Sebagai tambahan informasi, sebenarnya untuk mencapai Mangrove Bedul ada juga yang melewati jalur laut. Yaitu melalui Purwoharjo dan Grajagan, kemudian menyewa perahu nelayan atau kapal cepat di pantai Grajagan menuju Bedul.
"Kita kapan-kapan harus ke Alas Purwo lagi. Ke tempat-tempat menarik lain yang masih belum sempat didatangi", kataku.
"Haruslah, sekalian kita nginap disana. Jangan hanya cuma satu hari", timpal temanku.
"Woh, setuju banget. Ajak teman lain juga. Sekalian bawa tenda, alat masak, motor trail dan sepeda buat 'bikepacking'. Kukri-nya jangan ketinggalan. Aku juga sedang minta ditempain satu lagi yang lebih gede buat ekspedisi 'n mo nyari lensa tele biar lebih mantap 'hunting'-nya. Transport kesini pake jeep ofroad aja biar nggak terlalu sulit untuk medannya, satu khusus buat ngangkut orang dan satunya lagi pake jeep yang tipe pickup buat bawa barang", 'kompor' pun mulai menyala-nyala.
Yup, begitulah percakapan dua orang manusia bodoh di atas motor tua, yang sedang 'merinding' ketakutan dalam hutan jati pada waktu malam, saat perjalanan pulang dari Alas Purwo yang bagi mereka sangat mencekam.


about The Snapshots click here
photo by me

referensi :
http://id.wikipedia.org
http://www.eastjava.com
http://www.lareosing.org
http://irul.komonduya.com
http://muhamadalisaifudin.blogspot.com
http://mangrovebedul.blogspot.com

21 comments:

ivan kavalera 6 November 2009 01:06  

sungguh, perjalanan "hijau" yg keren banget.

Pohonku Sepi Sendiri 6 November 2009 01:19  

@ivan kavalera : ..dan rada mencekam jgn lupa mas.. hehe..
makasih sdh mampir & drop komen.. :)

Alil 6 November 2009 07:14  

Spooky juga ya jalan ke sana..
tapi endingnya kereeeennn...
nice pic.. anyway, sunrise nya ga' jadi dapet ya..

Azhar 6 November 2009 08:54  

pengen nenda disini....

Apisindica 6 November 2009 09:41  

Kereeeen...rasanya pengen kapan-kapan "jalan" ke sana. Aku diajak lain kali yah mas!!!!

Fayza Hiqmah 6 November 2009 10:44  

wah...saya jadi ingat teman saya yang anak banyuwangi.. dia sering cerita tentang muncar, air terjun lider, dan semuanya memang menkajubkan seperti ceritanya mas..

hihi..jadi pengen ke sana...:Dstyine

Arema 6 November 2009 12:23  

Beautiful. Dulu waktu saya masi bisa keluyuran (belum sibuk membabu kyk skrg), juga pernah beberapa x ke Banyuwangi. Ada hotel yang bagus sekali, Hotel Ketapang Indah, dia semacam cottage cottage gitu di tengah2 perkebunan kelapa yang terletak di tepi pantai berpasir putih. Exquisite, dan tidak over commercialised seperti di Bali.
Kawah Ijen juga bagus, pasti banyak object foto disana. Go give them a try!

Arema 6 November 2009 12:29  

Saya sempat juga ke Muncar tapi tidak terlalu impressed. Pantainya SANGAT kotor dan berbau menusuk hidung. Dimana-mana banyak lelaki bertampang seram yang entah menyapa atau bercanda atau mengolok saya dalam bahasa Madura dan suara keras, membuat saya merasa tidak aman dan tidak nyaman.

Pohonku Sepi Sendiri 6 November 2009 13:29  

@Alil : makasih alil.. hooh, spooky jg kl pas disana tiba2 inget cerita2nya, tapi asal niatnya baik semoga nggak terjadi hal2 yg tdk diinginkan..
iya neh, sunrise-nya blum kesampaian.. next time mungkin ya.. ^^

@Azhar : yup, sama neh.. tapi dah lama bgt nggak nenda, msh bisa nggak ya? hehe..
thanks ya..

@Apisindica : hehehe.. nggak usah pake mas2an lah bro, cukup pohon ajah.. :)
iya loh bro, kpn2 sempetin buat mengunjungi yg msh alami2, bisa refresh.. insyallah kalo waktu mengijinkan ya bro..
makasih..

@Fayza Hiqmah : iya mbak, memang indah adanya.. kalo kesana jgn lupa bagi2 critanya ya..
makasih sdh berkunjung & drop komen.. :)

@Arema : waow, bener mas.. aku coba cari2 info, memang menakjubkan Hotel Ketapang Indah-nya.. wah, Muncar nggak terlalu menjanjikan ya kalo gitu.. hmm, baiklah.. mungkin hunting sunrise di Kawah Ijen, bisa kali ya mas?
makasih sdh mampir dan membagi info2nya.. semoga tdk bosen berkunjung mas..

-Gek- 6 November 2009 14:13  

Beberapa bulan kemarin, keluarga saya rame-rame ke Alas Purwo untuk bersembhyang ke Pura nya..
(saya ketinggalan lagiiiiii...!)

Tapi, melihat cerita lengkap pohon, jadi tau sedikit bayangan tentang daerah itu.. dan..
errr.. sepertinya, seram ya.. (sedikit-banyak-sedang..)

-Gek- 6 November 2009 14:14  

BAGUS gambarnyahhh! Nice posting tooooo.. Cuma tulisannya agak kecil, jadi full concentration bacanya.. (hhohohohoo.. lebayyyy)
:)

Pohonku Sepi Sendiri 6 November 2009 14:34  

@-Gek- : oh ya, ke Pura Giri Salaka? emm, beberapa bulan yg lalu.. berarti pas ngerayain Pagerwesi yg setiap 210 hari itu ya?
aku juga pengen banget menyaksikan perayaan itu, tapi ketinggalan.. nunggu tahun 2010 deh..
nggak seram kok, cuma memang kalo pas disitu suka inget crita2 gitu.. hihihi..
makasih ya.. iya neh, kekecilan ya tulisannya, mana banyak lagi.. nggak suka mainin font kaya Gek seh.. hihi.. tapi kalo digedein font-nya bisa jadi bermeter2 ntar panjangnya.. *tambah lebaayy* hahaha..

-Gek- 6 November 2009 19:00  

oh iya.. tipe visa saya 411
(sekaliann.. hahahahhaha...)
tapi temen2 mahasiswa disini ga tau pake VISA apa.. katanya sih, bisa 2, student dan holiday, jadi bisa sambil nyambi kerja.. (kebenarannya saya ga tauu...)

Saya ga boleh nyambi selain jadi guru, hahahahha!

Wadooo.. ngomongin "hindu ceremony.."
ga bernafas Pohon.. kirimin oksigen lah.. dari paru2 dunia.. ;)

Pohonku Sepi Sendiri 6 November 2009 20:06  

@-Gek- : wah, pake 'visa pertukaran' ya.. pertukaran pelajar? uenak itu, maksimal 2thn kan masa berlakunya? bisa bebas keluar masuk ausie lagi asal msh berlaku visanya.. hehe..
ya udah, nyambi jadi guru jg dah enak kok.. nda perlu nyambi yg lain.. ^^
cuma sedikit tau tentang Pagerwesi kok, kalo nda salah di hari rabu pada 'Sinta Pasa Kliwon Saseh Ketiga' ya?

Enno 7 November 2009 12:53  

ih ya ampyuuun!
mau banget deh eike ke sini!

ajak2 donk, skalian difoto
hihihi

:D

Pohonku Sepi Sendiri 7 November 2009 13:50  

@Enno : hahaha.. mbak enno bisa ajah..
tapi bener loh mbak, indah dan menakjubkan, sungguh.. apalagi kalo sdh nyampe pantai plengkung-nya.. wuiihhh, ck ck ck.. *cklek, kompor gas menyala*
ayuks ajah, kalo berminat.. hihihi..

hari Lazuardi 9 November 2009 09:09  

wah pesan yang ditindak lanjuti nih, hehe..
akan tetapi segala sesuatu memang harus seizinNya po..
dan alam tak akan pernah berhenti memperlihatkan sisi lain yang tak kalah mengagumkan termasuk sunset itu..
anywei rujak cingur is my fav food, kalau dicampur soto aku blum pernah tuh, rasanya eksotik ya po.. hmmm.. harus dicoba kapan-kapan..

Pohonku Sepi Sendiri 20 November 2009 18:37  

@ari Lazuardi : iya mas, critanya ini menindaklanjuti pesan.. hehe.. *malu*
benar mas, memang hrs selalu seizinNYA..
rujak soto benar2 eksotik mas rasanya, baru kali itu aku nemuin rasa yg unik.. aku belinya di gapura masuk banyuwangi depan RS Fatimah di barat jalan mas..

anak nelayan 26 Oktober 2010 00:16  

manteb tenan..mampir neng omahku yaa

John Harris 25 November 2010 12:30  

salam kenal mas Nahdhi. Wah blognya kayanya sesuai nih....petualangan. Dan sdh rame. Karena itu sy follow smoga bs ikutan sharing. Blog sy msh relatif baru. Kedepan saya ingin mempublikasikan petualangan atau penelitian saya. mulai dari yg ringan2 sampe yg ilmiah...hope it will going well....salam

InsuranceService99 2 Oktober 2011 16:08  

Cash Management Solutions
Insurance Service Center

Related Posts with Thumbnails

  © Blogger templates Romantico by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP