Soto Kudus, Salah Satu Warisan Kuliner Nusantara

>> Oktober 23, 2009

Soto Kudus Pak DenuhSoto, sroto, atau coto adalah makanan khas Indonesia yang terbuat dari kaldu daging dan sayuran. Daging yang paling sering digunakan adalah sapi dan ayam, meskipun ada juga yang menggunakan daging kambing dan kerbau. Berbagai daerah di Indonesia memiliki jenis soto khas masing-masing, dengan kandungan yang berbeda-beda, misalnya Soto Kudus, Soto Kediri, Soto Madura, Soto Betawi, Soto Padang, Soto Bandung, Soto Sokaraja, Soto Banjar, Coto Makassar dan masih banyak lainnya. Cara penyajiannya sendiri juga berbeda-beda menurut daerahnya. Seperti misalnya, Soto Betawi dan Soto Padang disajikan secara terpisah dengan nasinya, sedangkan Soto Kudus disajikan campur dengan nasi. Beda lagi dengan Coto Makasar yang dihidangkan dengan lontong atau nasi yang sudah dimasak dengan dibungkus daun pisang, atau Soto Mie Bogor yang memakai mie dan bukan nasi sebagai menu pokoknya.

Kudus, salah satu kota di Jawa Tengah yang juga dikenal dengan sebutan Kota Santri, pun memiliki makanan khas soto yang dikenal dengan sebutan Soto Kudus. Soto Kudus yang asli hanya memakai dua macam daging, yaitu ayam dan kerbau. Berbeda dengan soto-soto lainnya, Soto Kudus cenderung berasa manis dan sedikit lebih encer. Banyak ditemukan di kota-kota besar pada umumnya, menjajakan Soto Kudus tapi dengan memakai daging sapi. Padahal di Kudus sendiri pemakaian daging sapi sebagai bahan baku soto sangatlah dihindari, karena adanya kepercayaan daerah secara turun-menurun yang melarang penyembelihan sapi. Dahulu kala, Kudus merupakan salah satu basis penyebaran agama Hindu. Sebagaimana diketahui bahwa pemeluk agama Hindu mengganggap sapi sebagai binatang suci yang tak boleh disembelih. Ketika Islam sampai di Kota Kudus dengan perantara As Syaikh Ja'far Shodiq Sunan Kudus, beliau pun menghimbau pengikut untuk tidak menyembelih sapi meskipun halal. Sehingga sampai sekarang pun daging sapi jarang di jumpai di pasar-pasar tradisional di Kudus. Sebagai gantinya orang Kudus lebih familiar dengan daging kerbau atau ayam.

Salah satu warung makan di Kudus yang terkenal akan sotonya adalah 'Soto Kudus Pak Denuh'. Usaha soto yang diawali dengan berdagang keliling ini berpusat di Jl. AKBP Agil Kusumadya dengan cabangnya di Taman Bojana Kios No. 55, 56, 57 dan Terminal Bus Kudus Kios No. 6. Bahan baku yang dipakai pada Soto Kudus Pak Denuh ini menggunakan daging ayam. Warung makannya sendiri buka dari pukul 07.00 hingga 22.00. Dikarenakan Pak Denuh sudah meninggal, sekarang ini semua warung makan tersebut dikelola oleh keturunannya. Walaupun begitu cita rasa sotonya masih benar-benar terjaga agar tidak berubah dari waktu ke waktu. Tidak heran Soto Kudus Pak Denuh ini sampai masuk di acara Wisata Kuliner-nya Pak Bondan.

Perjalanan yang menghantarkan kami hingga kota Kudus memberikan sebuah kesempatan berharga untuk mencicipi ketenaran dari Soto Kudus Pak Denuh. Aku masih bersama dengan 'teman yang aneh' sepakat melangkahkan kaki menuju salah satu cabangnya yang berada di Taman Bojana. Karena memang lebih dekat pada lokasi kami pada saat itu, dan juga sebenarnya karena untukku ada sebuah 'kenangan' tentang seseorang yang terserak disana *curhat mode on* hihihi.. Berlokasi di sebelah utara timur Alun-Alun Kudus, Taman Bojana sebenarnya bukanlah sebuah taman melainkan nama tempat berisikan ruko-ruko yang menjajakan berbagai dagangan, mulai dari handphone, buku hingga warung makan. Posisi tepatnya ada pada koordinat S 06" 48,439' - E 110" 50,550'.

Sembari berlenggang ke tujuan, sempat-sempatnya temanku mengajukan sebuah pertanyaan. "Tau nggak bedanya soto dengan coto?"
Dengan berat hati, terpaksa kuputar otakku yang sudah lelah menempuh perjalanan seharian. "Bla bla bla", kuutarakan berbagai perbedaan yang kutahu, mulai dari pemakaian nasi hingga penyajiannya.
"Salah!! Perbedaan yang mencolok dong", sanggahnya.
"Nyerah deh", dasar sudah males mikir dan cacing di perut yang hampir selesai 'sound check' pun mulai bersiap untuk konser.
"Payah! Gitu aja nggak tau. Bedanya ni ya, kalo soto tu pake daging sapi" jawabnya nyebelin.
"Nah, kalo coto pake daging apa?" tanyaku sambil monyong.
"Capi. Gyahahaha!!" jawabnya enteng sembari terbahak-bahak dan berlalu.
"@#$%^!!! Stupidd jookeee!!!!!"

MartabakSesampainya di Taman Bojana, kami mampir dulu pada seorang bapak penjaja makanan yang kebetulan mangkal di depannya. Bapak ini berdagang keliling menjajakan martabak telor, dengan bentuknya yang berbeda dari penganan bernama martabak kebanyakan. Kami sadari bahwa rasa keingintahuan kami terutama dalam hal kuliner lumayan besar, apalagi jika bertemu dangan makanan yg sekiranya belum pernah dilihat atau dirasakan, langsung kami bee-ru-bah.. *tiiinnngg* ..menjadi manusia 'teladan' (telat makan edan). Kalo orang jawa mungkin nyebutnya 'nggragas'. Hihi.. Martabak telor yang kami jumpai ini berukuran kecil dengan bentuk menyerupai kue apem, karena memang cara menggorengnya persis seperti kue apem. Bahan baku yang digunakan relatif hampir sama dengan martabak kebanyakan, hanya saja tidak menggunakan adonan kulit. Jadi ketika bahan baku sudah dicampur merata, lalu dimasukkan ke penggorengan yang berupa cetakan-cetakan kecil. Setelah matang, disajikan dalam kondisi panas dengan disiram kuah saos khusus. Kenyal, gurih, sedikit manis dan pedas lah rasa yang berhasil kami tangkap begitu mencobanya.

Soto Kudus KomplitAkhirnya, tanpa kesulitan mencari, kami sampai juga di kios no. 55, 56, 57 sebagai tempat dijajakannya Soto Kudus Pak Denuh. Luas warung makannya tidak terlalu besar dan dijaga oleh dua orang perempuan. Satu hal yang membuat kami rada takjub bahwa mbak-mbak penjaga menggunakan seragam khusus. Masih relatif muda dengan paras yang manis dan keramahtamahannya, seperti layaknya SPG (sales promotion girl) sebuah produk tertentu. Ternyata hingga pelayanan terhadap pembeli pun, sudah dikemas sedemikian profesionalnya. Bahkan tanpa kusadari, tau-tau temanku sudah terlibat percakapan yang diakhiri dengan menyodorkan nomor handphone-nya kepada mbak-mbak tersebut. Bah, promosi terselubung. Hahaha.. Singkat cerita, tanpa menunggu terlalu lama, kami berdua bak burung kutilang yang kelaparan, berceloteh ramai memesan menu makanan. Dengan sigap mbak-mbak tersebut menyiapkan Soto Kudus pesanan kami beserta berbagai makanan pendampingnya.

Soto KudusDalam waktu singkat, sudah hadir di hadapan kami masing-masing satu mangkok Soto Kudus campur dengan nasi. Layaknya kekhasan Soto Kudus, penyajiannya menggunakan mangkok berbentuk mungil seukuran kira-kira 3/4-nya mangkok kebanyakan. Diikuti juga oleh perlengkapannya, berupa kecap manis, jeruk nipis yang sudah dipotong kecil dan sambal. Dengan kuah kuning yang mengandung minyak, asap mengepul yang menimbulkan aroma kaldu ayam kampung, serta taburan bawang merah dan putih goreng di atasnya, bagaikan membelai rasa lapar yang sudah kami tahan sedari tadi. Sibuklah kemudian kami meraciknya dengan berbagai perlengkapan sesuai selera masing-masing. "Slurrpp..", kuah soto yang penuh kaldu itu berjalan melewati kerongkongan. Segar, gurih dan kaya akan bumbu. Terbayarkan sudah capeknya kaki melangkah menuju Taman Bojana.

Sate Ayam Kampung - Sate Kerang - Tahu - Tempe - BerkedelTak kalah juga, makanan pendamping untuk menikmati Soto Kudus-nya. Sate Ayam Kampung diolah dengan cara bacem disajikan bersama kuahnya jadi satu pada sebuah piring. Sate Kerang, masih sama dengan Sate Ayam Kampung yang juga diolah dengan cara bacem dengan cara penyajian yang sama juga. Rasa manis dan gurihnya Sate Kerang sangat cocok untuk menemani Soto Kudus. Tidak ketinggalan juga, makanan pelengkap standar soto, yaitu tempe goreng, berkedel dan tahu goreng. Sate Rempelo Ati, berisikan rempela dan hati ayam kampung beserta uritan (telor muda) yang digoreng. Jauh dari alot, dan gurih sekali rasanya. Sate Rempelo Ati - Sate Telor Puyuh - Paru GorengTak ketinggalan Sate Telor Puyuh, berisi lima butir telor per satu tusuknya. Terakhir yang ditunggu-tunggu, adalah Paru Goreng. Dengan ukuran satu porsinya yang relatif besar, menjadi makanan pendamping yang paling digemari untuk menikmati Soto Kudus. Namun hati-hati jika makan Paru Goreng, di dalamnya terdapat kayu tusuk sate guna menggabungkan dua potong Paru Goreng menjadi satu porsi. Karena memang tidak diambil ketika digoreng, sehingga ketika sudah matang dan tersaji, tusuk satenya sudah tidak nampak lagi.

Selain Soto Kudus, di warung makan ini juga tersedia menu Nasi Pindang. Pertama kali baca nama menu makanan ini, yang terbersit di kepala kami adalah nasi pulen dengan lauk ikan pindangnya. Tapi ternyata salah besar. Nasi Pindang disini merupakan makanan berkuah, disajikan dengan piring bukan menggunakan mangkok seperti Soto Kudus. Nasi PindangBahan yang digunakan terdiri dari daging ayam dipotong suwir diguyur kuah kaldu yang bersantan dan daun mlinjo yang direbus. Bumbunya memakai daun salam, jahe, lengkuas, bawang merah, bawang putih, kemiri, kencur, ketumbar dan merica. Tergantung selera masing-masing, Nasi Pindang bisa dinikmati dengan kucuran jeruk nipis dan sambal.

Setelah semua menu yang disajikan berpindah pada perut kami, tibalah waktu untuk berhitung. 'Total Damage' sejumlah 49rb, dengan perincian :
2 porsi Soto Kudus
1/2 porsi Nasi Pindang
2 porsi Paru Goreng
2 tusuk Sate Kerang
1 botol Sprite plus es batu
1 botol Coca Cola plus es batu
1 botol Freshtea plus es batu
Fuihh, kenyang juga akhirnya. Kami pun beranjak, meneruskan perjalanan. Mencari tempat buat tidur dulu. Penyakit ngantuk mulai terasa berkali-kali lipat setelah perut terisi. Hehe.. Buat teman-teman semua, jika ada waktu, jangan lupa untuk merasakan kesegaran khas Soto Kudus.

photo by me

source :
http://id.wikipedia.org
http://zahlia.multiply.com
http://www.oblo.web.id

15 comments:

Tisti Rabbani 23 Oktober 2009 22:02  

bikin lapaaarrr....

Tisti Rabbani 23 Oktober 2009 22:03  

hahaha...lumayan nih dpt yg pertama..
mumpung yg lain blm dateng, saya mau nyicipin soto2 itu...
*cocok, pas lg gerimis disin*...

Pohonku Sepi Sendiri 23 Oktober 2009 23:11  

@Tisti Rabbani : hehe.. mbak tisti jadi kelaperan.. weis, indah bener tuh mbak, menikmati soto dikala gerimis.. :)

Apisindica 23 Oktober 2009 23:24  

mau difotooooooooo, hahahaha. salah yah!!!

mupeng neh, malem-malem gini bikin ngiler!

Pohonku Sepi Sendiri 24 Oktober 2009 00:09  

@Apisindica : hahahaha.. ngga salah kok bro.. foto pose mangkok soto, mau? ato pose empal goreng lebih yahud tuh.. hihihi..
malem2 ngiler krn makanan kan? jgn krn yg lain loh.. hehe..
*piss mabro*

adhi 24 Oktober 2009 10:48  

ya ampunn..

sumpah saya lapar liatnya...

iler netes2 terus!!hayo tanggung jawab!!!hahaha..

apalagi baca ceritanya!!!

*meleleh*

hari Lazuardi 24 Oktober 2009 13:22  

soto itu bikin ritual makan memakan menjadi tambah bersemangad, selain suegerrr juga sangat amat mengundang selera..

Pohonku Sepi Sendiri 25 Oktober 2009 05:26  

@adhi : hehe.. apalagi kalo udah nyoba sotonya sob.. wuih, ishtimehwaahh..

@hari Lazuardi : bener mas hari, setuju banget.. :)

adhi 25 Oktober 2009 13:58  

hahaha,,sudah2!!cukup!!

cukup buat saya kelaparan!!

*pergi nyari makan*

Pohonku Sepi Sendiri 25 Oktober 2009 23:57  

@adhi : hehe.. pergi makan nyari soto ya?

eka wijayanti 16 November 2009 06:01  

Pohon, ada ya pohon yang menyantap soto? Saya kira pohon hanya doyan humus, air dan matahari.

Pohonku Sepi Sendiri 16 November 2009 12:30  

@eka wijayanti : haha.. pohon kan juga manusia *wee, malah jadi bingung*
thanks..

Rasmanto 18 Januari 2011 11:45  

kepingin rasanya punya warung makan khas kudus seperti soto kudus dan lentok kudus siapa yang mau join di bekasi dan sekitarnya

Rasmanto 18 Januari 2011 12:03  

Rm,.: pekerjaan yang sesuai dengan hati dan perasaan salah satu kunci sukses yang utama dan cita - cita yang divisualisasikan lebih ampoh dari doa yang alakadarnya

InsuranceService99 2 Oktober 2011 16:24  

Business and Marketing
Benchmark Property Management

Related Posts with Thumbnails

  © Blogger templates Romantico by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP