Lelaki : "Aku Hilang, Kalbu"

>> Juli 01, 2009

DesperatePernah, pada saat kerlap terang jauh beranjak dan gelap pun menua. Di sebuah rumah berderik yang seakan runtuh hanya dengan satu tiupan saja, yang dibangun dari angan dan mimpi, berhiaskan harapan milikkku dan wanita. Aku mendatangi sebuah kalbu yang masih juga terjaga di pojok ruangan. Di salah satu sudut terhidup rumah, tempat tersimpan kenangan terindah, kasih sayang tertabah dan cinta yang takkan pernah kehilangan arah. Disela-selanya berbagai potret wanita dengan berbagai gaya, memang centil wanitaku itu jika sudah tentang kamera foto, cantik lagi parasnya, tak henti-hentinya kukagumi, selalu.

"Selamat malam, kalbu. Bagaimana kabarmu?" Ucap salamku.
"Selamat malam, lelaki. Mau apa kau kesini? Kau pun tau aku tidak baik-baik saja. Kenapa masih kau tanyakan juga?" Balasnya sambil bertanya.
"Aku tau, kalbu. Maafkan aku. Kuminta kau jaga kenangan, kasih sayang dan cinta wanita, tapi malah derita yang kukirimkan untukmu."
"Dulu kau juga pernah sekali melakukannya padaku, lelaki. Tidakkah kau tau, seberapa kuatnya aku mencoba bertahan saat itu? Sampai akhirnya kita masih bisa hidup hingga kini. Tapi coba lihatlah sekarang. Akibat derita yang kau kirimkan lagi untukku ini. Kenangan sudah mulai retak, tidak ada lagi tawa bahagia dan tangis haru bisa kau temukan disitu. Kasih sayang pun mulai buram warnanya, walau masih juga terkadang kerjap hangatnya menerangimu. Sedangkan cinta ini lelaki, yang aku takutkan. Cinta sudah sedikit mulai melupakanku, pasti sebentar lagi akan lupa arah dan kau tau kan, lelaki. Ketika cinta sudah lupa arahnya, bagaimana dia bisa menemani perjalanan beratmu." Berkeluh kesahlah akhirnya kalbu kepadaku.

Kusimak baik-baik. Kutelan ludah yang sudah mulai masam rasanya, getir mungkin sebentar lagi. "Aku mengerti, kalbu. Itu juga yang kutakutkan, maka kudatang menengokmu. Barang sekejap saja, agar tak mengganggumu. Aku pun sangat tau, kalbu. Bukan salahmu tidak bisa menjaga mereka. Tapi memang derita ini sedemikian dahsyatnya, dan aku sendiri tidak punya tempat mengadu untuk sekedar meringankan sakitku." Sesal ini terucap. Sedikit merintih dan memohon pada kalbu agar bertahan sepenggalan waktu lagi, sementara aku akan mencari penawar sakitnya.
"Tapi aku tidak tau lagi, lelaki. Sampai kapan aku akan bisa bertahan. Sedang luka derita dulu saja mulai sedikit menganga." Ahh, akhirnya terucap juga kata-kata itu dari kalbu. Entah sampai kapan dia bisa bertahan menjaganya. Aku cuma terdiam. Sudah bukan lagi getir ludah yang kurasa, pilu pun ikut terjaga.

"Betapa dalamnya kau cintai wanita. Maka darinya, akan sedemikian hebatlah derita yang kau terima." Bergumam lirih kalbu di telingaku.
"Dulu juga pernah aku menanyakan padamu kan lelaki? Ingatkah kau? Dulu, saat kau pernah mengirim derita itu. Sekali, dulu. Tapi lama tidak kunjung usai juga kau kirimkan." Tiba-tiba bertanya kalbu padaku.
"Yang mana? Maksudku, pertanyaan yang mana? Kalau derita dulu masih ingat benar aku. Tidak mungkin bisa kulupa, walau sakitnya mulai mereda."
"Huh.. Jangan kau bilang padaku kau juga mulai kehilangan arah, lelaki. Pertanyaan itu? Masa kau lupa? Pertanyaan tentang wanita. Yang pernah juga ditanyakan bintang padamu, ketika dia melihatmu sedang gigil meringkuk galau mencerna derita itu. Yang saking pilunya bintang melihatmu, bertanyalah dia, jika memang darinya kau tuai derita mengapa tidak kau tinggalkan saja wanita? Dan jawabmu.."
Terhenyak aku tiba-tiba, dari mulutku meluncur kata-kata jawabnya "..hai bintang, mampukah kau tinggalkan langitmu."

Tersenyum kalbu padaku. Ada sedikit perih menahan derita pada tarikan mulutnya. Tampak jelas garis-garis lelah di wajahnya.
"Tapi lelaki, sedikit kuingatkan kau. Kau bukanlah bintang, wanita juga bukan langit. Begini saja, anggaplah bintang pun menuai derita dari langitnya. Tapi kau tau kan, lelaki? Betapa berjuta-juta bintang yang ada disana. Langit yang seluas itu, walau sedahsyat apapun derita yang ada. Bintang pun akan membaginya satu sama lain. Rata, tak kurang, tak lebih."
"Aku tau, kalbu." jawabku lirih dengan kepala yang mulai sedikit tertunduk.
"Kau hanya satu, lelaki. Sendiri. Sedang derita itu tak kalah dahsyat dari milik langit. Sedang dulu kau pun pernah menuainya bukan? Aku pun juga pernah merasakannya." tambah kalbu.
Aku terdiam. Kata iya pun terucap dengan kepala yang tambah khusyuk menunduk, hampir tak terdengar.
"Aku tadi sempat mengintipmu sebentar, lelaki. Tepat sebelum kau mendatangiku. Maafkan aku sebelumnya, melihatmu diam-diam. Aku tau kau juga tersakiti oleh derita itu. Lirih kudengar isakmu dalam diam. Dan hanya wanita yang terucap berkali-kali dari pilumu saat itu."
Semakin aku tercekat. Bukan karena aku tidak bisa memaafkan kalbu atas perbuatannya menengokku. Tapi karena memang kata-kata sudah terkunci rapat. Tidak bisa meluncur dari pilu lidahku yang terkurung bibir ini erat.

Tiba-tiba kasih sayang mengerjap hangat. Memberiku sedikit kekuatan untuk mengucap. "Tapi kalbu, bagaimana mungkin aku tidak menyayangi wanita, bagaimana mungkin aku terlupa kenanganku dengannya. Dan cintaku ini.. Ahh, aku sangat mencintai wanita, kalbu."
"Tak perlu kau sampaikan padaku pun aku sudah sangat mengerti, lelaki. Untuk apa juga sampai sekarang aku masih menjaga kenangan, kasih sayang dan cinta wanita. Walau batas kemampuanku sepertinya hanya tinggal sedikit bersisa, seperti juga kau kan lelaki? Tak perlu kau jawab. Kau hanya perlu tegakkan kepala tundukmu itu. Aku tau setegar apa dirimu. Sekuat apa jiwamu terhina oleh dunia. Tak pantas kau tundukkan kepala. Hadapi semua. Tunjukkan padaku usaha terbaikmu. Walau aku juga tau kau pasti sudah tak sekuat dulu, begitu juga aku."

Aku bangkit. Kepala pun sudah sejajar semestinya. Kulangkahkan kaki meninggalkan kalbu. Belum sampai hilang kalbu menatapku, kutengok dia kembali. Sudah semakin renta saja dia kurasa. Kenangan pun tambah retak, buram kasih sayang pun semakin menjadi-jadi. Sedangkan cinta, walau tak berkurang sedikit pun, tapi sudah tak terarah lagi dia.
"Jika nanti tiba waktunya. Sebentar lagi kurasa. Aku akan meninggalkan rumah ini, kalbu. Aku harus hilang. Bagaimana dengan kau?" Tiba-tiba ganti aku bertanya.
"Aku pun pasti pergi, lelaki. Bersamamu. Dengan pergimu, kau pun tak ingin aku menjaga ini semua lagi kan? Kuhilangkan diriku denganmu, lelaki. Sudah dicukupkan waktu kita untuk wanita. Pasti nanti ada orang lain yang diharapkan wanita untuk memilikinya kan?" Sambil tersenyum kalbu menyodorkan sebuah pertanyaan yang tak lagi butuh jawaban.
Sebisa mungkin kubalas juga kalbu dengan senyuman. Walau dera derita ini tak kunjung sirna menoreh-noreh tubuhku. Terima kasih tulusku pada kalbu terucap dalam hening langkahku meninggalkannya. Menjaga sisa-sisa milik kita, wanita. Sisa-sisa yang nantinya bakal menyuburkan kisah-kisah yang telah kau pastikan berikutnya.

Creatures live at the expense of other creatures
(Movie’s epigraph of Dog Bite Dog)


photo by Serlunar

3 comments:

irmasenjaque 16 Oktober 2009 15:49  

catatan yg sangat menarik sob,......percakapan yg sangat inspiratif :)

salam knl juga :)

Pohonku Sepi Sendiri 16 Oktober 2009 20:20  

@irmasenjaque : makasih buat apresiasinya.. :) semoga kedepannya bisa lebih baik lagi.. amieenn

InsuranceService99 2 Oktober 2011 16:07  

Business and Marketing
Commercial Real Estate

Related Posts with Thumbnails

  © Blogger templates Romantico by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP