Kisah di Penghujung Harapku
>> Juli 04, 2009
Di pagi hari menjelang siang pada kursi depan sebuah mobil, seorang lelaki sedang mengendarainya dan anak kecil, seumuran 2-3 tahun lah kira-kira, duduk disampingnya sedang tertawa bahagia sambil bicara dengan sebuah telepon genggam. Tak lama diserahkannya telepon itu pada lelaki untuk kemudian ditutupnya.Tiba-tiba si anak bertanya, "Ayah, matanya kok meyah (merah)? Ayah kenapa?"
"Nda papa nak, tadi baru aja ada debu masuk mata ayah." Kaget lelaki yang dipanggil ayah itu menengok kesamping melihat si anak lagi memperhatikannya. Dan menjawab pertanyaan itu dengan kebohongan. Mana ada debu bisa masuk kendaraan yang pintu dan jendelanya tertutup rapat.
"Tapi kok mata ayah jadi keluan (keluar) ainnya (airnya). Ayah cakit?" Masih juga si anak bertanya.
Aahh nak, belum tau banyak kamu tentang rasa sakit. Lelaki itu cuma membatin.
"Dulu mataku juga peynah lo yah, kemasukan debu. Teyus aku nangis. Abis cakit."
Iya nak, ayah percaya sakitmu. Ayah juga punya sakitnya sendiri, yang mungkin memang hanya ayah yang tau. Masih diam saja lelaki itu sambil tersenyum.
"Teyus yah, kemayin waktu aku jatuh. Cakit banget lo yah. Kakiku sampe keluan (keluar) dayahnya."
Saat kita harus jatuh memang rasanya menyakitkan nak.
"Kamu nangis nak?" tanya lelaki.
"Iya yah, nangis. Teyus kakiku dikasih betadin to ma ayah. Tapi aku nda mau."
Terkadang sekuat apapun manusia, memang butuh menangis dalam rasa sakit, nak. Mungkin untuk mengingatkan pada diri sendiri bahwa dalam hidup juga ada rasa sakit. Dan untuk melarutkannya bersama air mata. Lalu lelaki itu bertanya lagi, "Kenapa nda mau dikasih betadin? Kan biar cepet sembuh?"
"Abis cakit kalo dikasih betadin yah." si anak mengadu.
Nak, jika kita mau pulih dari rasa sakit memang butuh obat untuk menyembuhkannya. Dan obatnya itu memang tak lebih ringan dari rasa sakit itu sendiri. Bahkan terkadang lebih berat.
"Siapa bilang dikasih betadin sakit? Nda sakit kok. Apalagi kalo yang ngasih ayah, nda kerasa tau-tau dah sembuh. Kan nanti kalo cepet sembuh, kamu bisa maen lagi nak. Nda papa ya, dikasih betadin? Nurut ma ayah ya?” Sedikit merayu lelaki itu ke anak.
“Beneyan nda cakit yah?” masih ragu-ragu si anak.
“Beneran nak. Kan ayah nanti yang ngasih.”
“Oke yah. Tapi pelan-pelan ya.” Mengangguk juga akhirnya dia.
Siapa orang yang diharapkan membawa penawar bagi rasa sakit kita, juga menjadi penyembuh yang tak kalah ampuhnya dari obat itu sendiri.
“Ayah..”
“Iya nak.”
“Ayah juga jangan nangis. Tu maci ada ainnya (airnya) keluan (keluar) dayi mata ayah.” Sambil si anak melihat lekat-lekat ke lelaki.
Kaget lelaki itu. Tak sadar masih ada sesuatu yang menetes dari matanya. Sebisa mungkin ditahannya sesuatu yang menyesakkan dada itu, demi agar tidak ada lagi setetespun yang keluar.
“Iya nak, ayah nda papa kok.” Tercekat sudah suara lelaki merangkak keluar dari mulutnya.
“Aku kasih betadin matanya ya yah? Bian (biar) cepet cembuh. Kalo aku yang ngasih nanti nda cakit kok yah. Tapi nda bawa betadin ya yah?
Ahh nak.. Diam saja si lelaki. Tak mampu dia menjawab pertanyaan si anak. Hancur sudah benteng pertahanan yang telah dibangun sedikit demi sedikit tadi, demi agar si anak tidak melihat kesedihannya. Luluh sudah tenaganya. Rebah sudah ketangguhannya. Sekejap sirna tak berbekas.
Tepat mobil yang dikendarainya terhenti oleh lampu merah di sebuah perempatan.
“Nak, sini peluk ayah.” Pinta lelaki itu.
Si anak cuma terdiam bingung kenapa tiba-tiba lelaki kuat itu minta dipeluk.
“Sini nak, peluk ayah. Besok nda ayah temeni mandi bola lagi loh.” Sambil tersenyum.
Si anak ketawa, beringsut dari duduknya. Berdiri di kursi mendatangi lelaki dan memeluknya.
Ahh nak, menahan sesuatu itu ayah kira nda akan seberat ini. Tapi ternyata lebih menyesakkan dari yang ayah kira. Bagikan ayah senyum polos dan ringan hatimu. Ajarkan ayah ketulusanmu menyayangi orang lain yang mungkin telah ayah lupakan. Tunjukkan cinta kasih murnimu pada seseorang yang ingin slalu menjagamu. Sepersekian detik pelukan itu diberikan pada lelaki yang terus memejamkan mata menahan sedihnya. Tapi bagi lelaki, waktu bagaikan berlalu tak sesingkat itu.
“Cun ayah, nak.” Pinta lelaki.
Diciumnya pipi kiri lelaki itu.
“Satunya juga dong.”
Pipi kanan pun tak luput dari bibir polosnya.
“Terima kasih nak.”
“Sama-sama yah, yuu welkom (you’re welcome).”
Maafkan ayah ya nak. Ayah baru saja kehilangan impian.
Kisah tulus di penghujung harapku dan awal hari-hari indahmu.
photo by Childrens Book Review


















7 comments:
mataku basah baca postingan ini semalem..
aku sayang ayahku
@antibiotich : aduh mai.. maap ya, baca postinganku malah bikin sedih..
terimakasih selalu buat para ayah (dan tentu saja ibu), yg selalu bertarung dgn ketangguhan demi para anak2nya.. :)
ga papa kok...hehehehe
benernya aku orangnya ga gitu juga santai aja aku cm terharu aja ....
yap aku juga sangat sangat sayang ama ibuk....sayaaang banget....
senang bisa punya teman aneh sepertimu hahahahahaaa
*aku deng yang aneh...*heeeeee
@antibiotich : hooh seh, terkadang kalo pas baca2 kembali postinganku yg ini, aku juga suka terharu.. *narzieessst* hehe..
pohonnya aneh ya.. tapi itu relatif kok, aneh bisa juga sebuah kelebihan loh.. hahaha..
*pohon self defence
makasih ya mai.. :)
pohon minta ijin boleh ga aku posting ini di notes FB, aku ingin seseorang baca, aku linkin juga kok....ke blognya pohon
aku tulis by:pohon gitu deh....
gimana??
@antibiotich : silahkan mai.. semoga bisa berguna buat yg laen.. :)
lumayan kan, ntar kalo mai kasi link bisa jadi tambahan backlink buat blog pohon.. hehehe..
Cash Management Solutions
Insurance Service Center
Poskan Komentar