Derita Manusia Lemah
>> Juli 04, 2009
Kita, manusia, memang makhluk yang lemah. Terlalu banyak merasa. Terlalu banyak menemui derita. Karena memang hanya manusialah yang dikarunia hati, rasa atau kalbu. Jangan pernah merasa di dunia ini, kita dikarunia derita lebih dari yang lain. Manusia masing-masing memiliki deritanya sendiri-sendiri, yang pastinya sudah ditakarkan dengan sangat adil oleh Sang Pembagi Yang Maha Tahu, dengan caranya yang serba rahasia dan takkan pernah bisa kita, manusia, mengertinya.Seorang anak kecil, seumuran 2 tahun katakanlah, yang bagaikan "malaikat kecil" kita, sedang berlari-lari dan tiba-tiba terjatuh. Dengan kaki berdarah dia menangis sekeras-kerasnya. Itu menjadi bagian deritanya, saat itu. Atau seorang lelaki dengan sebuah cinta yang telah menjadi bagian dari hari-harinya harus merelakan dengan sangat terpaksa untuk orang lain. Tak enak makan, tak enak tidur, murung termenung dengan malam hanyalah menjadi sebuah siksaan, bagai hidupnya telah berakhir. Itu pun menjadi bagian dari deritanya, saat itu. Lalu bagaimana dengan kelaparan, kemiskinan, perang, dan masih banyak lagi lainnya. Itu juga bagian dari penderitaan kita sebagai manusia. Kita sendirilah yang menentukan besar kecilnya sebuah penderitaan. Karena "Tuhan tidak akan membawa kita sejauh ini hanya untuk meninggalkannya".
Maap jika malam ini saya terlalu sentimentil. Melantur nulis tentang derita yang mungkin buat saya juga bukan hal yang mudah untuk dihadapi. Berat, dan memang berat. Bukan sebuah hal yang mudah jika kita harus mengikhlaskan derita untuk tetap maju ke depan. Terkadang apapun itu penyebab deritanya, harus bisa dilupakan dan dihilangkan. Walau sungguh sangat menyakitkan.
photo by S. Lo


















1 comments:
Delicious Nutritious Recipes
accumulated depreciation accounts
Poskan Komentar